Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Sembunyikan dahulu..


__ADS_3

Happy reading


🍇🍇🍇


"Penjaga!!!" Jerit Fanny sekuat tenaga.


"I..iya buk, ada yang bisa kami bantu?"


"Apa yang kalian lakukan tadi malam Hah?! Dimana kalian?! Lihatlah kemana perginya Si tua bangka itu?!"


Para penjaga terkejut melihat satu orang yang dijaganya hilang, bagaimana bisa? Tadi malam masih ada disanakan? Bagaimana ia bisa berjalan dengan kaki yang sarafnya tidak mampu bereaksi lagi.


"Aku sudah ditipu olehnya, selama ini ternyata ia tidak lumpuh..!" Geram Fanny yang merasa tertipu oleh papanya sendiri.


"Cepat kalian cari disekitar sini!! Pasti dia tidak bisa berlari jauh." Ungkap Fanny secepatnya, ia tidak boleh kehilangan Si tua itu...


"Siap buk."


Kedua penjaga itu keluar menuju ke arah belakang rumah, memastikan apakah lelaki itu keluar dari pintu belakang yang lalai mereka jaga karena mengantuk.


Fanny masuk kembali ke kamar mamanya..


"Maafkan Fanny ma, tidak bisa menjaga papa agar selalu bersama dengan mama." Ucap Fanny sendu..


Di depan pintu bibi yang biasa merawat kedua paruh baya itu menatap miris dan iba.Ia tahu semua yang terjadi disana.


"*Maafkan saya buk.." Batin Bibi perawat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...


Abi mengambil handphone yang berada dikantongnya, ia melihat nama suruhannya yang mengikutin Fanny menelponnya.


"Hallo.."


"Tuan, Aku sekarang sudah bersama seseorang lelaki tua, dia sepertinya terkena struk ringan, ia masih bisa bergerak tapi seperti kesusahan"


"Kenapa dengan dia? Kenapa bisa bersamamu?"


"Panjang ceritanya tuan ini ada hubungannya dengan nyonya Fanny, saya sepertinya harus segera memberikan perawatan untuknya, kondisi beliau sangat menggenaskan dan kita harus sembunyikan ia terlebih dahulu."

__ADS_1


"Segera lakukan, jangan sampai ia tahu. Besok kita ketemu, kau kirimkan saja alamatnya nanti." Abi mengatakan sambil melirik Zia disampingnya. Ia tidak mau Zia tahu apa yang dilakukannya sekarang.


"Baik tuan." Abipun menutup panggilan itu.


Zia penasaran siapa yang menghubungi Abi tapi ia tidak mau melewati batasnya apalagi mereka baru menikah.


Abi masih fokus dengan handphonenya,


"Sembunyikan dia dan kasih penjaga untuknya." Ketik Abi untuk orang suruhannya diseberang sana.


Zia terlalu fokus melihat Abi yany sangat serius sekali menurutnya, karena hidupnya tidak pernah seserius itu, ia jalanin bersama Farhan dengan canda tawa.


"Kenapa adek lihatin abang seperti itu?"


Zia terkejut melihat Abi sudah selesai dengan aktivitasnya itu..


"Eh,, Abang jam berapa pulang?" Zia mengalihkan keterkejutannya dengan pertanyaan.


"Adek ngusir abang?"


bip..bipp


Handphone Abi kembali berbunyi menandakan sebuah pesan masuk..


"Kamu dimana?"


"Aku sedang dirumah rekan kerjaku, banyak yang terbengkalai dan harus aku selesaikan sampai larut malam, jadi aku menginap dirumahnya malam ini."


"Oke hati-hati disana sayang."


"Iya mas.. miss you"


Abi tertawa miris didalam hati, sudah berapa banyak kebohongan yang kau buat Fanny? Haruskah seperti ini?


"Bang.."


"Eh maaf kenapa tadi?" Abi sempat melamun sesaat mengingat Fanny.


"Abang jam berapa pulang?" Tanya Zia balik.

__ADS_1


"Abang akan bermalam disini lagi." Jawab Abi sambil tersenyum.


"Apa? Kan ada mba Fanny dirumah? Lagian ngapain abang lama - lama disini?" Sungut Zia


"Apa kamu lupa kalau kita sudah suami istri, dan istri harusnya mengikutin suami?"


Zia terdiam sesaat,,,ia melupakan satu itu...haruskah ja meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan Farhan ? Membayangkannya saja ia sedih dan tidak tega mengosongkan rumah itu.


"Bolehkah adek tetap disini?" Tanya Zia hati hati dengan suara yang sangat pelan tapi masih terdengar Abi.


"Kalau abang bilang tidak boleh...?"


"A..adek......" Lidah Zia keluh ingin menjawabnya, tidak mungkin ia membantah suaminya sekarang, air mata hampir tumpah dari pelupuk mata Zia tapi ia tahan,


"Abang tahu semua berat adek lakukan, tapi kalau masih disini, bagaimana adek mau buka hati adek buat abang? Bagaimana kita akan membuat cerita kita? Sedangkan adek masih terpaku dengan kenangan adek bersama suami adek dahulu." Abi merasa enggan menyebut nama Farhan, karena Abi merasa cemburu istrinya masih nemikirkan dan mungkin masih mencintai Farhan.


Zia masih terdiam, rumah ini juga bagai separuh hidupnya, menelantarkannya dengan kekosongan yang biasa penuh suara canda tawa membuat Zia tidak tega karena kesunyian pasti akan ada disana.


"Dek, dengar abang. Adek ikut abang bukan berarti meninggalkan rumah ini. Rumah ini akan terus dirawat, adek juga bisa kesini bersama anak-anak untuk menginap saat liburan atau kapanpun adek mau. Jadi jangan berpikir rumah ini akan terbengkalai." Ucap Abi sambil menangkupkan kedua tangannya dipipi Zia.


Zia menatap penuh mata Abi, melihat adakah kebohongan disana? Dan ternyata yang ada sebuah keyakinan dan harapan agar Zia menurutinnya.


Zia mengangguk secara berlahan dan memegang sebelah tangan Abi yang berada dipipinya.


Zia memberikan senyum manis dalam anggukannya untuk mengatakan ia mau ikut Abi, karena lidahnya masih keluh untuk berbicara.


Sangat lama mereka saling menatap, menelisik apa yang ada disana..hingga Abi tiba-tiba memajukkan wajahnya mendekatin wajah Zia.


Jantung Zia berdegup dengan kencang,,ia bukan tidak tahu dan ia juga pernah merasakannya tapi...


"Oh iya, adek mau siapkan makanan untuk makan siang dulu."


Zia buru - buru beranjak dari tempat duduknya..


"Dek.." Abi memegang tangan Zia hingga menghentikan langkah Zia.


Abi ikut berdiri dan menghadapakan Zia ke hadapannya. Abi langsung mencium kening Zia sangat dalam beberapa detik dan langsung memeluk Zia yang masih terpaku.


"Terima kasih sudah mau hadir dalam kehidupan abang.."

__ADS_1


#Zia kasian juga abinya...#


#bantu like,comment and vote dears#


__ADS_2