Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Bolehkah aku berharap?


__ADS_3

happy reading


🍇🍇🍇


Fanny terduduk dikamarnya ...ia mengacak-ngacak serta mencoret dengan kasar buku yang ia tulis selama ini.


"Aahhhh!!! Kenapa kali ini semua tidak bisa seperti yang aku mau!!!" Fanny berteriak frustasi


"Dimana salahnya? Dimana? tidak boleh seperti ini...Semua harus tetap jalan seperti yang aku mau...


"Ha..ha..ha .Aaaaaahhhhh!!!" Fanny berteriak dan tertawa seketika mengahadapi tekanan yang datang.


"Bagaimana jika si tua bangka itu bertemu dengan orang? Gak mungkin dia bisa pergi dari sini? Bukankah tempat ini banyak jurang? Aku harap dia mati jatuh kejurang dari pada menambah masalah untukku..."


"Kau kira aku memungutmu karena kasihan ha? Itu semua karena mama yang sangat mencintaimu tapi kau tega menyakitinya..." Geram Fanny


"Aku kira dengan membuatmu lumpuh dan jauh dari keluargamu mereka semua akan hancur tapi nyatanya mereka masih tertawa senang dan kau Bagas Surya, aku tidak akan membiarkanmu menikmatin semua itu...." Ucap Fanny dengan mata yang nyalang penuh dengan akan dendam dan kebencian.


Fanny mengambil permen yang diberikan Dena dan menghisapnya, ia tidak boleh melebihi batasnya hingga melakukan tindakan yang akan merusak semua rencananya...


"Bolehkah aku berharap semua masih masuk dalam alur cerita ku....Jangan ada yang keluar dan menghilang..."Fanny mengatakan kata yang lambat laun terdengar lirih bersamaan dengan hilangnya kesadaran Fanny.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Abang nangis?" Abi yang suntuk diruang tv sendiri berinsiatif membantu Zia didapur.


"Bawangnya jahat." Zia melirik Abi yang menangis sambil mengiris bawang merah....


"Bawang merah memang jahat suka bikin nangis tapi akhirnya memberikan kenikmatan di lidah yang mencicipinnya, begitu juga hidup terkadang kita berpikir takdir sangat jahat dan tidak adil padahal jika kita jalanin dengan ikhlas pasti akan mendapat akhir yang indah."


Abi berhenti mengiris bawang mencerna semua perkataan Zia, Apakah selama ini ia dan Fanny kurang bersyukur hingga mereka selalu bertengkar?


"Abang mau bantu ngiris bawang atau melamun? tegur Zia. Abi hanya menyengir kuda dan melanjutkan irisan bawangnya.

__ADS_1


Hingga mereka sekarang makan bersama, Saf dan Aif terus bercerita hingga meja makan itu terasa ramai dengan tawa. Abi merasakan hatinya tersiram air oase yang meneduhkan hatinya, ini kali pertama ia merasakan kebahagiaan saat makan bersama.


"Bang berhentilah menatap adek seperti itu."


Sehabis makan siang Zia mengemas baju-baju seperlunya untuk dibawa esok hari ke rumah Abi. Saf dan Aif juga melakukan hal yang sama tetapi mereka terlalu letih setelah membersihkan mesjid hingga siang hari mereka sudah tertidur.


"Abang itu lagi mengumpulkan pahala..".


"Gini aja ingat mau kumpul pahala, syukur aja tadi gak lupa sholat zuhur.." Sindir Zia


"Itu terus yang dibilang..kayaknya adek gak ikhlas banget abang gak sholat subuh tadi."


"Bukan gak ikhlas tapi kesal pakek banget kalau ingat.."


"Ya udah abang minta maaf, abang janji akan melaksanakan kewajiban abang."


"Janji abang bukan sama adek, lagian sholat itu bukan untuk dijadikan janji ataupun perandaian jika mendapatkan sesuatu, karena sholat memang kewajiban yang jika ditinggalkan akan berdosa...Emang abang mau gitu sendirian di neraka? Adek sih ogah nemenin abang disana."


"Tajam banget ngomongnya..Ternyata adek cerewet banget ya kalau udah bicara gak berhenti kayak remnya blong."


"Iya dan perempuan selalu menang."


Zia terkekeh kecil dengan kesimpulan Abi.


"Jadi kenapa masih menatap adek?"


"Kan mengumpulkan pahala."


"Ya lah... abang menang.."


"Ha..ha...ha.... " Abi tertawa senang bisa membuat Zia mengalah...


"Bang, apakah abang yakin membuat Zia dan mba Fanny seatap? Apakah abang yakin tidak akan ada keirian atau apapun nanti?

__ADS_1


Kalau Zia untuk saat ini mungkin masih merasakan biasa aja, karena Zia juga belum sepenuhnya melupakan yang lalu. Tapi mba Fanny yang sudah lama bersama, Apakah ia tidak akan merasakan sesuatu saat melihat perhatian abang terbagi?"


Ada sedikit goresan di hati Abi saat Zia mengatakan masih biasa saja dengannya, apakah perhatiannya masih belum bisa membuka hati Zia?


"Fanny yang memintanya dek, "


"Apakah mba Fanny setegar itu? Terbuat dari apa hatinya?" Batin Zia.


"Dek.."


"Eh ,,iya bang,, Adek gak nyangka aja hati mba Fanny sekuat itu.." Jawab Zia dengan tersenyum


Abi mendekati Zia yang sedang berdiri setelah selesai membereskan semua baju yang akan dibawa.


"Dek..."Abi memegang kedua lengan Zia."Apakah suatu saat adek bakal cemburu jika cinta itu sudah tumbuh?"


"A..." Bibir Zia yang baru akan terbuka untuk berbicara secara tiba - tiba dibungkam oleh bibir Abi, membuat Zia membelalakkan matanya, ia terkejut dengan ciuman Abi yang tiba- tiba menyerang dirinya.


Melihat Zia yang diam saja Abi memperdalam ciumannya sedikit lama dibibir Zia yang masih setia terdiam.


"Manis.." Abi menyudahi ciumannya,mengusap bibir Zia dengan lembut dan mengecup kening Zia sekilas, lalu meninggalkan Zia sendiri yang masih membeku dan seakan otaknya berhenti berpikir.


Hingga suara pintu yang tertutup menyadarakan Zia..


"A...apa tadi...A..apa yang aku lakukan tadi?"


"Ci..ciuman? Bang Abi tadi..."


"Abang...!!!!" Saraf Zia yang sudah mulai terhubung kembali tersadarkan dengan yang baru saja terjadi..


Abi tersenyum-senyun sendiri duduk diruang tamu mendengar jeritan Zia.


"Siapa suruh masih biasa saja dan belum cemburu? Padahal hatiku selalu cenat cenut setiap dia mengingat dia" Kesal Abi

__ADS_1


#Abi..kamu nackaalll#


#Bantu like,comment and vote dears#


__ADS_2