
Happy reading
🍇🍇🍇
Fanny tanpa permisi kembali ke rumah Abi disaat Beni dan Bagas sedang beristirahat dikamar mereka masing - masing.
Sesampainya dirumah ia melihat kondisi rumah yang kosong, Fanny langsung menuju ke kamar Icha dan apa yang Fanny lihat sekarang? Icha dengan manjanya duduk dipangkuan Zia dengan sangat nyamannya.
"Aku kira kamu orang yang menepatin janji Zia tapi nyatanya sekarang kau sudah disini dan mengingkarin perkataanmu sendiri."
"Mba Fanny?"
"Kenapa? Kamu terkejut saya kembali dan tidak jadi menginap dirumah papa? Kamu benar - benar tidak bisa melihat sedikit saja ada peluang untuk bisa memanfaatkan agar bisa bersama dengan Abi dan Icha ya." Tawa Fanny dengan sininya.
"Bukan begitu mba.. Mba salah paham.." Zia diliputin kegugupan dan di hinggapin rasa ketakutan disaat melihat wajah Fanny yang sudah menunjukkan ketidaksukaan.
"Salah paham gimana? Harusnya kamu bisa menolakkan jika diajak kesini? Banyak alasan yang bisa dibuat Zia kalau hanya untuk menolak." Fanny berjalan mendekat ke Zia dan menarik paksa Icha dari pangkuan Zia hingga Icha menangis dan ketakutan.
"Ma...hikss...tangan Icha shakitt." Rintih Icha
"Mba, Icha masih sakit mba, biar dia tidur disini mba. Zia janji gak bakal dekat dengan Icha mba."
"Masih bisa kamu umbar janjimu itu? Sekarang saja kamu sudah mengingkarinya Zia dan kamu berani memberikan janji lagi? Kamu kira aku percaya hah?!" Sentak Fanny membuat Icha makin menangis kuat dan ketakutan dengan cengngkraman tangan Fanny yang sangat kuat di pergelangan tangannya.
Ingin Icha memohon meminta mamanya untuk melepaskan genggaman yang menyakitinya tapi ia sudah takut dengan raut wajah mamanya yang tidak seperti biasanya hingga ia memilih menangis dengan isakan yang terdengar sangat pilu. Zia ingin memeluk Icha yang menangis tapi ia juga tidak berani melakukan apapun dan melakukan kesalahan lain yang membuat Fanny makin marah.
"Mba,, Zia mohon lepasin Icha mba,, dia udah ketakutan mba kasian." Zia berusaha berbicara walau ketakutan lebih besar menghampirinya..
"Apa hakmu menyuruhku Zia? Icha itu anakku! Terserah aku ingin melakukan apa padanya!." Bentak Fanny yang membuat Zia terdiam dan mencengkram gamisnya dengan kuat menahan sengatan yang memberi getaran ditubuhnya. Baru kali ini ia melihat amarah seseorang yang sangat besar dan itu terjadi karena dirinya.
"Sekarang aku ingin kau memilih.." Fanny melirik sesuatu disampingnya. Ada sebuah meja hias yang diatasnya terdapat sebuah pot bunga dari kaca yang bertengger bunga palsu yang cantik.
Ia tersenyum dengan sinis...melihat bunga yang cantik dan indah dipandang tapi itu semua hanya sebuah kepalsuan semata.
__ADS_1
Fanny mengambil pot tersebut dan dengan hentakkan yang kuat didinding, pot itu pecah berhamburan menyisakan kepingan cukup besar dengan ujung yang sangat tajam digenggaman Fanny.
"Mau melihat Icha kesakitan atau kau mundur dari kehidupan mas Abi."
"Mak..maksud mba apa?" Tanya Zia dengan nada yang bergetar dan air mata yang sudah mengalir banyak dipipinya hingga tidak terlihat satu ruang yang tidak luput dari derai air matanya.
"Kamu jangan pura - pura bodoh Zia.. kau tahu maksudkukan? Aku ingin kau berpisah dengan mas Abi. BER..PI..SAH.." Tekan Fanny.
Zia makin tercekat dengan kata - kata yang ingin ia lontarkan. Berpisah? Apakah ia harus menyerah sekarang? Icha....
"Mba..."
"Fanny..!! Apa yang kau lakukan?!" Teriak Abi dengan nafasnya yang memburu. Terlihat raut khawatir diwajah Abi saat mendengar suara keras dari dalam rumah saat ia sedang ingin mengambil minum untuk mereka yang berada digazebo taman belakang.
"Pa..papa.. Sakit pa..Icha takut." Tangis Icha semakin menjadi disaat melihat Abi datang menghampiri.
"Fanny lepaskan Icha Fanny." Mohon Abi yang melihat tangan Fanny menggenggam pecahan kaca ke arah Icha.
"Gak mas, Icha anakku mas dan kau milikku mas. Kau dan Icha hanya milikku mas! Mas Abi,,,Kau lihat perempuan itu? Dia mengingkarin janjinya denganku mas...Dia bilang dia akan memberi waktu untuk kita berdua. Tapi apa?! Dia datang kembali kemari untuk mengambil perhatianmu dan Icha!." Jerit Fanny yang terlihat betapa sakit hatinya yang kehilangan perhatian orang yang ia cintai.
"Fanny, Icha anakmu. Apa kau tega melukainya?"
"Harusnya itu yang aku tanya ke dirimu mas? Aku itu istrimu. Kenapa kau tega menyakitin hatiku dengan memberikan cintamu ke orang lain bukan ke diriku?! Sekarang aku mau kau ceraikan Zia atau kau akan merasakan betapa sakitnya hatiku dengan luka yang menggores di Icha nantinya." Ancam Fanny ke Abi dengan air mata yang juga membasahi pipinya.
"Kau ternyata belum sembuh Fanny, kau masih sakit!"
"Kau bilang apa mas? Aku sakit? Kau tahu sakit itu seperti apa?"
Srettt!!
"Papa..!!! Sakit..!!!" Teriak Icha merasakan sakit di lengannya akibat goresan benda tajam dari Fanny..
"A..abang...I..Icha berdarah..." Seketika tubuh Zia kehilangan dayanya melihat banyak darah mengalir dari lengan Icha, ketakutan makin menghujam tubuhnya hingga ia lemas tak berdaya saat matanya bersibobrok dengan Icha yang tidak tahan merasakan sakit di lengan kecilnya hingga wajah yang pucat karena sakit kini bertambah makin pucat.
__ADS_1
"Da..darah...A..aku..." Tangan Fanny seketika kehilangan nyawanya dan menjatuhkan benda tajam itu hingga kembali pecah tak berbentuk.
Abi yang melihat kesempatan itu langsung berlari ke arah Icha dan mendorong Fanny dengan sangat kuat hingga membentur dinding.
"Kau benar - benar sudah gila Fanny!! Kau tega melukai anakmu sendiri! Hari ini aku talak kamu! Aku haramkan tubuhku untuk menyentuhmu lagi!" Teriak Abi dengan penuh amarah.
"Gak mas..Aku gak mau pisah sama kamu.. gak mas..! Kau tidak bisa melakukan itu padaku mas, Kau dan Icha hanya milikku..Hanya milikku!! Ha..ha..ha " Teriak Fanny dengan tawa sumbangnya dan tangan yang mencengkram kuat ia berikan ke rambutnya yang sudah berantakan tidak beraturan.
"A..abang.." Zia yang sudah tidak kuat dengan keadaanpun tidak bisa menahan jiwanya agar tetap memberikan ia kesadaran.
"Dek..!"
"Abi ada apa ini?" Tanya Faiz yang datang bersama dengan yang lain saat bi Marni memanggil mereka dan mengatakan tentang kegaduhan yang terjadi dilantai dua.
"Pa,, tolong Zia pa, dia pingsan." Abi terlihat bingung melihat Icha yang sudah lemah dan ditambah lagi dengan Zia yang tidak sadarkan diri.
Faiz mendekat ke arah Zia dan ingin membaringkan Zia tapi saat menyentuh gamis belakang Zia ia merasakan sesuatu yang basah... Ia lalu mencium tangannya..
"Darah.." Faiz merasakan bau anyir darah dan warna merah yang melekat ditelapak tangannya. "Abi! Kenapa kau hanya diam saja disitu?! Panggil mang jenggot sekarang, kita harus membawa Zia dan Icha kerumah sakit segera!."
"Zi..Zia kenapa pa?"
"Kau masih bisa bertanya?! Kau mau kehilangan anakmu dalam rahim Zia?!"
Abi masih terpaku ditempatnya,, ia sudah tidak memiliki tenaga untuk berpikir lagi.
"Ma.!! Panggil mang jenggot sekarang!" Perintah Faiz yang sudah tidak sabar dengan lambatnya Abi bertindak.
"Ha..I..iya pa.." Rani yang masih bingung dengan semua terjadi membuat pikirannya kosong dan lamgsung tersadar dengan teriakan Faiz.
"A..anak..Zi..zia hamil?" Lirih Fanny dengan suara yang tidak terdengar siapapun. Ia masih terduduk dengan kaki ditekuk bersandar di dinding kamar.
#Fanny gegabah banget ya#
__ADS_1
#Bantu like comment and vote dears#