Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Apakah Dia Baik - Baik Saja Pertama


__ADS_3

Happy reading


🍇🍇🍇


Abi meninggalkan Fanny bersama Bagas, ia kembali kerunah untuk mengantar Zia kembali ke rumah lamanya. Masalah tiada henti datang merasuki, ingin menyerah tapi sudah terlanjur basah.


Abi terlihat sepertu sedang memikirkan sesuatu dan ia tersenyum samar dengan apa yang sedang ia pikirkan sekarang.


"Assalamualaikum Anak - anak papa."


"Waalaikum salam papa." Ucap mereka bertiga serempak.


"Mama mana?"


"Ada dikamar pa, lagi beres -beres baju yang mau dibawa." Jawab Saf yang masih betah menemanin Aif dan Icha bermain puzzle.


"Papa keatas dulu ya."


Abi melangkahkan kakinya setelah menerima anggukan anaknya yang terlihat fokus bermain.


"Dek.."


"Udah pulang bang, gimana disana tadi? Mba Fanny baik - baik saja kan?"


"Nanyak itu satu - satu sayang. Bingung abang mau jawab yang mana dulu." Abi mencubit hidung Zia dengan gemas.


"Yah dijawab semuanya bang, jangan pilih - pilih." Zia mengerucutin bibirnya hingga Abi makin gemas dan memberikan kecupan dibibir Zia bertubi - tubi.


"Gemes banget abang lihat bibir manyun gini. Fanny uda berbaikan dengan Bagas. Mereka sekarang sedang berusaha menerima semua kesalahan yang mereka lakukan dan berusaha memperbaikinya." Zia menggut - manggut mendengarkan kata - kata Abi.


"Abang gak istirahat dirumah aja? Pasti lelah banget. Biar adek dan anak - anak diantar mang Jenggot aja." Zia merasa takut jika Abi ikut sulit untuk disuruh kembali kerumahnya.

__ADS_1


"Gak dek,,, bukan Fanny aja yang harus abang perhatikan tapi adek juga."


"Baiklah, bisa kita berangkat sekarang? Jadi abang bisa segera kembali kesini kalau bisa sebelum mba Fanny balik." Zia kali ini benar - benar merasakan perasaannya semakin halus semenjak kehamilan, perasaannya sangat halus bukan untuk dirinya tapi untuk orang - orang disekitarnya. Zia sangat takut untuk menyakitin hati seseorang.


"Ya uda, kita ke bawah, permisi sama papa mama, biar nanti mang Jenggot yang bawa koper adek dan anak - anak."


"Tapi tadi Zia udah permisi bang, dan mama papa juga keluar entah kemana tadi."


"Kalau gitu sekarang aja kita turun. Adek duluan ke bawah biar abang yang bawa barangnya semua."


"Iya bang."


Rumah Zia yang tidak terlalu jauh tanpa perlu menghtung waktu dengan jenuh sudah terlihat didepan mata. Ada bu Camat yang terlihat duduk di teras rumah Zia, menunggu kedatangan keluarga Zia disana.


"Zia, gimana kabarmu?" Tanya Bu camat setelah nelihat Zia sudah ada dihadapanya.


"Alhamdulillah Zia baik buk, ibuk gimana kabarnya?" Zia memeluk Bu camat dengan perasaan rindu yang sudah lama tidak menyapa.


"Insyaallah bu." Zia menjawab dengan nada tak kalah pelannya hingga hanya mereka yang tahu.


"Ibu yakin kamu kuat dan semua demi kebaikan." Bisik bu Camat kembali sebelum melepaskan pelukan mereka. "Ini kuncinya ya, ibu mau ke rumah dulu."


"Makasih buk."


Zia membuka pintu rumahnya. Semua masih terlihat sama dan tidak ada yang berubah disana. Hawa kesejukan merasukin sanubari Zia saat kembali kesini....


"Assalamualaikum, Adem banget.." Ucap Zia ketika masuk kedalam rumahnya.Zia menolehkan kepalanya kebelakang melihat Abi ikut masuk membawa kopernya."Abang mau langsung pulangkan?"


"Iya, abang pulang dulu ya..capek juga biar bisa istirahat." Sebegini mudahnyakah pilihan yang ia buat? Apakah berarti Allah meridhoi niatnya?


"Iya bang, hati - hati ya. " Zia dan anak - anak menyalim Abi. Zia sempat menggenggam tangan Abi lama seakan enggan untuk dilepas, tapi ia segera menepis pemikirannya dan menghantar Abi sampai di perkarangan rumah.

__ADS_1


"Ma,, mama berapa lama pergi?" Tanya Aif dengan wajah sendunya setelah melihat mobil Abi menjauh.


"Gak lama sayang, Aif sama kak Saf maukan kerja sama dengan mama? Maukan melihat mama Fanny bisa nerima kita semua?" Zia beralasan kepergiannya agar Fanny bisa menerima mereka, karena Saf pernah bertanya ke Zia, kenapa Fanny tidak mau dipanggil mama? Atau panggilan untuk kata mama yang lainnya? Dari situ Zia tahu anaknya merasa Fanny tidak menerima mereka sepenuhnya.


"Iya ma, tapi janji jangan lama - lama ya ma."


"Iya mama janji sayang. Sekarang anak mama udah pada besar pasti udah tahu mana yang buruk dan mana yang baik, jadi mama harap jangan pernah merasakan sedih atau sakit hati dengan perlakuan orang yang secara tidak langsung kita merasa disakitin. Mama yakin anak mama ngerti dengan keadaan kita sekarang."


"Iya ma Saf dan Aif ngerti kok, inshaallah kami bakal jadi seperti yang mama mau." Zia memeluk kedua anaknya yang selalu bisa mengerti dirinya hingga saat ini.


"Ya udah, kalian berdua kerumah Bu camat bawa koper barang - barang kalian. Rapikan kamar yang biasa kalian gunakan disana ya."


Zia merasa lega menitipkan Saf dan Aif dengan Bu canat yang sudah terbiasa Saf dan Aif menginap bersamanya. "Hari udah mau sore nanti sebelum mama berangkat, mama ke rumah bu Camat."


"Iya ma." Saf dan Aif meninggalkan Zia sendiri diruang tamu rumahnya.


Zia terduduk lemas setelah menutup rapat pintu rumahnya, memikirkan Apakah keputusan yang ia lakukan benar?


"Sebaiknya aku bersiap sekarang gak menunda waktu, karena aku tahu besok pasti bang Abi datang walau hanya memantau dari jauh dan itu akan membuat waktunya habis terbuang sia - sia dan mengabaikan mba Fanny."


Zia membongkar kopernya didalam kamar dan memilih apa saja yang akan ia bawa nanti. Tujuan Zia kekampung halaman ayahnya di desa B. Disana masih banyak saudara yang bisa ia kunjungin.


Tidak butuh berlama - lama Zia sudah selesai dengan kegiatannya, ia mengedarkan pandangan keseluruh kamar dimana banyak kenangan dengan dua lelaki berbeda yang sudah menetap dihati Zia. Zia tersenyum tipis dan menyeka sedikit lelehan air mata yang keluar.


"Bismillah.." Zia mendorong kopernya keluar kamar, ia tidak mau membuang waktu yang sudah ingin berganti malam. Perjalanan yang memakan waktu Kurang dari dua puluh empat jam membuat Zia ingin sampai disana pagi hari.


Jantung Zia berpicu dengan kuatnya hingga membuat tangannya yang berada dihandle pintu bergetar dan tubuhnya terasa tidak bertulang saat membuka pintu rumah dengan lebar...


#Zia..nekat kamu ya#


#Bantu like,comment and vote dears#

__ADS_1


#Mau double up nanti sore 🥰...#


__ADS_2