Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Tertekan


__ADS_3

Happy reading


🍇🍇🍇


"Jangan sentuh aku!!" Teriak Fanny


"Fanny kamu kenapa? Kenapa jadi kayak gini?" Bagas bertanya ke Fanny yang terlihat sangat memprihatinkan dengan jiwa yang sangat terguncang.


Bagas dan Beni yang melihat pintu kamar Fanny terbuka tanpa merasa terkejut mereka tahu kalau Fanny kembali kerumahnya, dengan segera pergi menyusul Fanny ke kediamannya.


Mereka sempat bertemu dengan Abi yang akan pergi ke rumah sakit dan mengatakan dimana Fanny berada.


"Fanny, kamu kenapa nak?" Tanya Beni dengan raut yang sangat sedih, kenapa saat ia sudah pulih anaknya yang mengalami penderitaan.


"Ha..ha..ha.. Aku sudah melukai anakku sendiri...maafkan mama Icha..Icha mau maafkan mamakan sayang? mama gak sengaja melukai Icha...Icha sini sama mama.Jangan tinggalin mama. Mas Abi jangan pergi mas..Kau pernah janjikan akan selalu mencintaiku..ha..ha..ha.... AHHH!! hikss..hikss" Rancau Fanny dengan tangis yang histeris dan tawa yang silih berganti.


"Pa..sepertinya mental Fanny makin terganggu pa. Lebih baik kita bawa ke psikiater." Beni langsung menyetujui saran Bagas. Mereka membawa Fanny keluar dari rumah tersebut walau Fanny terus memberontak dan berteriak.


"Jangan tinggalin aku sendiri..Mas Abi Icha...mama disini sayang...Zia aku hanya nitio mereka ke kamu tapi kenaoa kau ambil mereka semua sekarang?!.." Fanny terus meracau tidak jelas didalam mobil hingga mereka sampai di sebuah rumah sakit jiwa dimana mama Fanny juga dirawat disana.


Beberapa perawat membantu Bagas dan Beni membawa Fanny yang terus menarik kasar tubuhnya hingga sampai disebuah ruangan. Seorang perawat langsung memberikan suntikan penenang dan mengikat Fanny di tempat tidur ruangan tersebut.


"Gimana dengan anak saya sus?"


"Kami sudah memberikan ia suntikan penenang pak. Bapak bisa konsultasi dulu ke dokter. Kebetulan hari ini ada dokter pemilik rumah sakit sedang disini, dia dokter terbaik."


Bagas dan Beni mendatangin dokter tersebut dan mengatakan semua yang ditanyakan dokter tersebut..


"Fanny..?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Abi kamu tenanglah duduk jangan mondar mandir terus." Keluh Rani yang sudah pusing makin pusing melihat Abi yang gelisah.

__ADS_1


"Ma, Abi gak bisa tenang ma,, Icha udah tidur nyenyak kafrna goresannya gak terlalu dalam tapi Zia ma,,Dia pendarahan..Gimana dengan Zia dan anakku ma.."


"Abi berhenti dan duduk. Zia sedang ditanganin dokter. Sekarang yang harus kamu pikirkan bukan hanya Zia, gimana dengan Fanny?" Tanya Faiz hingga membuat Abi berhenti seketika.


"Abi tadi sudah menalak Fanny pa." Jawab Abi lemah, ada rasa menyesal ia mengucapkan kata itu, tapi Abi sudah tidak bisa mentolerin sikap Fanny yang sudah melukai Icha.


"Kamu yakin dengan keputusanmu?"


"Mungkin ini yang terbaik pa."


"Sebaiknya kamu pulang, dan langsung lihat keadaan Fanny. Kembalikanlah Fanny secara baik - baik ke keluarganya. Papa tahu kamu masih emosi tapi kendalikan emosimu jangan sampai semua kembali terlambat."


"Tapi Zia..."


"Ada papa dan mama disini..pergilah Abi." Pinta Rani.


Tit..tit..


"Ya Halo Bagas."


"Apa?"


"...."


"Astaghfirullah baiklah. Mungkin besok aku akan kesana."


"Ada apa Abi?" Tanya Rani penasaran.


"Fanny ma, saat kita tinggal ternyata depresi berat seperti orang gila. Bagas membawanya kerumah sakit jiwa."


"Ya Allah... Jadi bagaimana?"


"Besok Abi kesana melihatnya. Sekarang juga Fanny masih dalam pengaruh obat bius."

__ADS_1


Mereka bertiga termenung dengan pemikiran masing - masing. Hingga semua buyar mendengar suara pintu ruangan terbuka.


"Dok, gimana dengan istri saya?"


"Alhamdulillah istri dan anak bapak masih selamat, tapi kandungannya sangat lemah, jangan biarkan istri bapak stress dan keletihan."


"Boleh saya masuk melihatnya?"


"Silahkan"


"Abi, mama dan papa kembali dulu ke rumah. Kasian Saf dan Aif pasti mereka juga trauma dan khawatir. Mama lihat mereka hanya diam disudut saat melihat kejadian tadi."


"Iya ma. Biar Icha dan Zia disni sama Abi."


Abi melangkahkan kakinya ke arah Zia yang masih setia menutup matanya. Ia kecup kening dan bibir Zia sekilas.


"Dek, bangun.... Jangan buat abang khawatir..Maafkan abang.."


Abi memegang tangan Zia hingga ia tertidur saat duduk disamping tempat tidur Zia.


Zia mulai membuka matanya berlahan, ia merasakan kaku dibavian tubuhnya dan tangan kirinya terasa sangat berat hingga ia melirik ke samping dan melihat suaminya tertidur dengan mengenggam tangannya.


Zia tidak tahu kapan ia sudah diruangan ini. terlibat juga di tempat tidur lain, Icha tertidur dengan damainya tanpa terusik apapun.


Zia meneteskan air matanya dan berulang kali menghapus air mata yang keluar tanoa ingin berhenti. Bukan keadaan Icha yang membuat ia menangis tapi teringat saat sang suami menalak istri pertamanya didepan matanya.


"Bagaimana keadaan mba Fanny sekarang? Aku penyebab ini semua. Andai aku tidak hadir di antara mereka."


"Dek, udah bangun?" Tanya Abi saat merasakan ada gerakan yang menganggu tidurnya.


"Kenapa abang menceraikan mba Fanny? Kenapa? Harusnya aku yang mundur disini." Isak Zia dengan suara lirih


#Fanny beneran gila gak ya?#

__ADS_1


#Bantu like comment and vote dears#


__ADS_2