Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Keterbukaan


__ADS_3

Happy reading


🍇🍇🍇


Hal yang sangat dinanti dengan pasangan halal adalah saat kita bisa bersamanya hanya berdua saja, menikmatin berbagi cerita, senda gurau dan memadu kasih...


Inilah yang sedang dilakukan Abi dan Zia, setelah melakukan sholat mereka memilih duduk berdua, membuka lembaran yang dulu masih tertutup rapat dan enggan dibaca.


"Bang, kenapa abang menikahi mba Fanny kalau tahu dia ada penyakit mental?"


"Jangan samakan penyakit mental dengan orang yang sudah gila dek. Mereka hanya butuh waktu untuk sembuh dan itu dengan pengobatan rutin tapi Fanny saat ia merasa sedikit membaik langsung berhenti tidak mau melanjutkannya.


Abang dulu berpikir bisa menjadi pelindung bahkan obat untuknya agar ia bisa melupakan masa lalunya."


Abi menjelaskan ke Zia sambil merangkul erat pundak Zia yang bersandar nyaman didadanya. Mereka duduk berdua di ruang keluarga di temanin dengan seduhan teh hangat untuk menghangatkan badan tapi rasa dingin membuat mereka enggan untuk berbagi jarak, semakin mengeratkan pelukan mencari kehangatan dari pasangan yang lagi merasakan cinta kembali menyemai dihati.


"Adek hanya bisa berdoa semoga mba Fanny bisa sembuh total dan kita bertiga bahagia. Adek seneng abang sudah memceritakan semuanya ke adek,"


"Abang juga berharap seperti itu dan abang juga sudah berjanji tidak akan menutupin apapun lagi, tapi mengingat sifat Fanny yang egois dan ingin menang sendiri, Abang takut suatu saat dia menyuruh kamu mundur."


"Kalau itu terjadi gimana?"

__ADS_1


"Adek uda berjanji membangun bersama abangkan? Jadi jangan pernah biarkan tinggalkan abang sendiri membangun cinta itu, karena sudah dipastikan bangunan itu akan hancur bersamaan dengan hati abang."


Zia menatap mata Abi yang menyiratkan betapa ia sangat berarti untuk Abi,,Apakah ini benar, tetap bertahan walau ada yang tersakitin? Tapi pergi dari suaminya juga akan menyakitin hatinya nanti.


"Abang, Allah tidak menjanjikan jalan hidup kita mudah tapi Allah menjanjikan kemudahan di setiap kesulitan yang kita alami. Jadi jika saat itu terjadi...utamakanlah mba Fanny bang, Jangan berpikir adek mengatakan itu karena belum ada cinta dihati adek.


Tapi ini karena cinta adek ke abang yang sudah adek serahkan sepenuhnya ke Allah walau sulit tapi mba Fanny lebih membutuhkan abang untuk kesembuhannya."


"Lalu bagaimana dengan hati abang? Apa adek gak berpikir hati abang juga sakit jika jauh denganmu?" Abi menatap senduh wajah Zia,,


"Jauh bukan berarti kita pisahkan? Kita hanya membagi pada waktu agar bisa menenangkan keadaan hingga ia bisa menerima semua yang terlewatin."


"Tapi abang mohon jangan pernah ucapkan kata perpisahan, bukankah Allah sangat membenci kata itu?"


"Jadi adek ada rencana berpisah dengan abang?" Abi menatap tajam Zia dan begitu saja melepaskan pelukan mereka, Abi sangat tidak suka Zia mengatakan meperbolehkan pisah.


"Abang,," Zia memeluk Abi kembali walau tidak ada balasan dari Abi.. "Adek gak ada bilang mau pisah, kan adek hanya mengatakan Allah memperbolehkan walau itu dibenci."


Zia membawa kedua tangannya ke wajah Abi, agar Abi yang marah dan enggan melihat Zia menjadi menatap Zia.


"Tapi bagi adek tidak ada kata perpisahan selain Allah memisahkan kita karena waktu perjanjian kita hidup didunia sudah habis...Jika itu terjadi berjanjilah abang untuk ikhlas mengembalikan cinta abang ke adek kepada Allah, karena sejatinya semua yang ada hanya titipan bukan milik kita."

__ADS_1


Abi memeluk Zia dengan erat kembali...Zia membalas pelukan Abi agar kemarahan yang tadi bercokol dihati segera lepas dan terlempar jauh.


"Abang gak pernah terpikir sampai kesana dek, jauh darimu sedikit saja hati abang sudah hilang kendali bagaimana jika..." Abi memghentikan ucapannya yang tidak sanggup untuk ia lontarkan. "Semoga Allah memanggil abang duluan karena abang yakin abang gakkan sanggup jika selamanya adek tidak berada disisi abang."


"Sst..Kita kesini mau sedih - sedihan atau....?" Zia mengurai pelukannya beranjak naik ke pangkuan Abi...Membenamkan kepalanya diceruk leher Abi memberikan getaran candu yang tidak ingin dilepaskan begitu saja.


"Apakah kita akan melakukannya sekarang disini dek?" Kesedihan Abi sudah bersembunyi dikolong hatinya berganti dengan ghairah yang ingin menyatu...


"Jangan harap karena adek mau masak dulu...Ha..ha..ha.." Zia segera pergi dan berlari ke arah dapur... Siapa juga yang mau melakukan sekarang, bakal.repot ntar dikejar waktu...


Abi hanya bisa tersenyum di duduknya melihat kejahilan istrinya, padahal Abi sudah siap mengadon tepung hingga kalis.


Abi memilih ikut bersama dengan istrinya mempersiapkan makan malam sebelum mereka menunaikan sholat.


"Nanti malam jangan berharap adek bisa lari seperti tadi dari abang..." Abi mengurung Zia di dinding dapur, belum bisa mendapatkan menu utamanya, menu pembuka harus Abi dapatkan. Abi menchium bibir Zia dengan penuh, tiada sela yang tersisa untuk tidak Abi cicipin, tiada kata habis madu yang Abi hisap dibibir Zia hingga Abi enggan melepas panutannya kalau tidak melihat Zia yang hampir kehabisan napas.


"Kita akan masak yang enak dan banyak sayang, karena abang butuh tenaga banyak untuk nanti malam."


Zia masih mengatur napasnya yang tersengal - sengal karena ulah suaminya,,sedangkan Abi sudah mulai gerak membantu mempersiapkan kebutuhan untuk mereka masak.


#Zia semoga hatimu selalu kuat#

__ADS_1


#Bantu like comment and vote dears#


__ADS_2