
Happy reading
🍇🍇🍇
Sang Fajar tidak menghiraukan dua orang yang masih setia saling berpelukan itu tertidur dengan hawa dingin yang makin menusuk kulit, Zia terbangun terlonjak kaget karena ia hampir kehilangan subuhnya.
Tanpa pikir panjang Zia masuk ke kamar mandi melaksanakan mandi besarnya agar sholat yang akan ia lakukan diterima penciptaNya.
Usai mandi dan berpakaian, Zia membangunkan Abi yang masih setia tertidur dengan senyum yang selalu melekat diwajahnya, sepertinya kejadian semalam masih tersisa hingga terbawa ke alam mimpi Abi.
"Bang, bangun mandi.. sholat shubuh bang.."
"Ehmm.." Hanya sahutan deheman yang Zia dengar..
Zia tidak kehabisana akal agar Abi bangun segera ia juga ingin menunaikan kewajibannya.
"Abang, mama datang bawa Icha!!!" Teriak Zia dikuping Abi.
"Apa?! Mana..mana?" Jawab Abi terkejut hingga terduduk mencari Icha dan Rani.
"Bangun bang, mandi lalu sholat. Subuh uda mau habis."
Zia meninggalkan Abi untuk sholat duluan karena ia harus segera memasak sarapan. Abi yang takut terlambat Subuhpun segera melakukan ritual mandi wajibnya.
Saat Abi keluar ia sudah tidak melihat Zia ada dikamar, karena waktu tidak mau menunggu Abi langsung melaksanakan sholatnya.
Usai sholat Abi ingin kembali tertidur tapi ia sempat tersenyum sendiri karena mengingat saat mandi tadi ia sangat terkejut dengan tubuhnya dipenuhi banyak tanda merah karya Zia. Tubuh Abi yang biasa mulus dan bersih kini sudah ada yang bisa memberikan kecupan karya disana dan Abi tidak ingin karya itu hilang dari tubuhnya.
"Ah..Aku akan sering - sering meminta Zia menambah hasil karyanya nanti." Gumam Abi sambil merebahkan kembali tubuhnya dan tertidur kembali.
Bagaimana dengan Zia? Zia lebih memilih kedapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua sekaligus membersihkan rumah dan mencuci barang bukti kejadian tadi malam.
Setelah semuanya usai, Zia kedepan rumah menghirup udara pagi yang ia rindukan,,
"Zia.."
"Ya buk.." Jawab Zia saat bu camat memanggilnya.
"Mana Abi?"
"Masih tidur buk.."
"Ohw,, iya pak camat mau ngajak gotong royong komplek sini."
"Kalau gitu biar Zia bangunin buk, nanti bang Abi juga ikut gotong royong."
__ADS_1
"Kamu juga nanti bantu masak - masak ya buat mereka yang habis kerja nanti."
"Oke buk."
Zia masuk kerumahnya kembali, membangunkan suaminya yang sekarang tidur gak kenal waktu.
"Bang.."
"Iya dek.." Abi menarik Zia hingga jatuh kepelukannya.
"Bangun , uda mau siang sarapan, hari ini ada gotong royong disini abang harus ikut bantu."
"Gotong royong buat adek aja yuk sekarang." Abi mulai menjalankan aksinya menarik hijab Zia sedikit keatas hingga, kepala Abi masuk kedalam menelusup kebagian leher Zia, memberi kecupan - kecupan kecil yang menggoda disana.
"Abang, kalau abang gak bangun nanti malam toko kuenya tutup gak mau diadonin." Ancam Zia
Abi dengan segera menyudahi aktifitasnya takut nanti malam tidak bisa ngadon kue yang empuk dan kenyal.
"Abang uda bangun ini.."
"Ya uda ayo kita makan dan ikut gotong royong."
Matahari hari ini tidak setia kawan menurut Abi, baru kali ini ia ikut acara bersih - bersih biasa juga tinggal panggil orang untuk membersihkan dan selesai.
Peluh keringat membanjiri tubuh Abi, Abi melihat sekelilingnya semua lelaki pada buka baju saat sedang bekerja.
"Gak pak,, Abi gak biasa gak pakai baju.."
"Ohw..Ya udah istirahat dulu yuk diteras rumah.. semua juga uda pada selesai."
Pak camat mengajak Abi keteras rumahnya dimana sudah terletak teh hangat dan berbagai cemilan kue untu mereka nikmatin.
Abi mengambil segelas teh untuk membasahi tenggorokan yang sudah terasa kering,
Byurrr
"Ah..Panas!!." Abi menyemburkan teh dari mulutnya karena terkejut ia juga tidak sengaja menumpahkan air teh itu ke bajunya hingga Abi kepanasan.
Tanpa sadar Abi membuka bajunya untuk menghalau rasa panas yang menyentuh kulitnya.
."Ha..ha..ha.." Pak camat tertawa melihat Abi, Abi sedikit bingung ia sakit kena panas air teh kenapa pak camat tertawa?
"Kamu korban Zia ya? Masih ganas juga anak itu..Ha..ha..ha.." Abi tersenyum kaku tersadar pak camat melihat tubuh Abi yang banyak merahnya.
"Dulu Farhan juga gitu, asal kepanasan gak mau buka baju. Kami kira memang dia gak biasa buka baju. Hingga saat membersihkan ranting pohon ternyata ada sarang semutnya, Farhan yang kegatalan dan takut semut ada dibajunya dengan segera membuka bajunya. Awal kami kira kok bisa segitu banyak yang sudah digigit semut, ternyata setelah dilihat benar - benar itu bukan gigitan semut tapi gigitan Zia. Ha..ha..ha.."
__ADS_1
Ekspresinya sama denganmu..malu gak ketolongan dia langsung lari masuk rumah..Ha..ha..ha.."
Pak camat tertawa puas mengingat kejadian yang lalu..
"Gimana Zia? Apa masih buat suaminya gak berdaya?.."
"Maksud bapak?" Abi tidak ngerti maksud pak camat.
"Dulu Farhan yang takut kalah sama istrinya minta rekomendasi obat kuat..Ha..ha..ha." Pak camat sangat ingat betapa frustasinya dulu Farhan jika saat Zia sendiri yang meminta.
Aib Farhan yang lama disimpan pak camat terbuka begitu saja karena pak camat.
Kata - kata pak camat masih menjadi hantu yang menggentayangin Abi. Abi makin penasaran dengan sosok istrinya, biasa memang perempuan menerima lelaki memberi. Tapi kalau diingat tadi malam Zia dengan sukarela memberi ke Abi.
"Bang.."
"Iya dek." Abi segera tersadar dalam lamunannya yang sangat nyaman berbantal paha Zia diruang TV.
"Abang mikir apa?"
"Mikir.....tidak ingin menyiakan waktu." Ucap Abi sambil menarik tengku Zia dan ******* lembut bibir Zia yang memanggil menggoda.
Zia melepaskan ciumannya dan tersenyum ke suaminya,,,
"Apa memanfaatkan waktu seperti ini?" Sentuhan tangan dibawah sana membuat tegangan yang sangat tinggi.
"Adek mau..?" Ucap Abi dengan suara parau yang berharap bisa menuntaskan keinginanya.
"Mau yang ini..." Balas Zia dengan suara yang menurut Abi sangat mendayu ditelinga Abi.
Bagi Zia tidak apa dia menggoda suami secara terangan dengan kata - kata yang sedikit dewasa, karena sejatinya lelaki tidak bisa menahan nafsunya, dari pada suaminya berhayal dengan orang lain biarlah ia yang selalu menjadi hayalannya. Buanglah malu disaat bersama suami dan pakai kembali malu itu disaat telah selesai menikmati bersama.
Tanpa menyiakan waktu Abi langsung berdiri dan membawa Zia kekamar mereka.
Suara hentakan yang hanya mereka sendiri bisa mendengar bersahut suara erangan disaat kenikmatan sampai kepuncaknya..
Abi mencium kening Zia setelah selesai menyatukan diri mereka.
"Abang gak pakai obat kuatkan?" Tanya Zia yang sedikit kewalahan dengan Abi.
"Abang gak perlu obat kuat karena abang bisa membuat adek kapanpun tidak berdaya."
Sepertinya Abi mendapat bongkahan harta karun saat menemukan Zia yang bisa menjadi imbang permainannya..
#Udah senengkan Abi? gak galau lagi?"
__ADS_1
#bantu like,comment and vote#