
Happy reading
🖤🖤🖤
"Fanny, handphone mas mana?"
"Ini uda sama aku mas, aku taruh dalam tas.."
"Udah cepat mas, aku gak mau terlambat."
Abi tampak linglung, ia khawatir belum ada menghubungi Zia dari pagi sampai waktu berganti malam, Waktu Abi benar - benar disita Fanny dari bangun tidurnya mencari baju dresscode sampai keliling kota tersebut.
"Tapi aku mau nelpon bentar."
"Mas, nanti kita telat. Sampai sana aja mas telponnya."
Abi memilih menyerah, ia gak mau moodnya hancur lagi karena pertengkaran.
Sekarang mereka sudah sampai ke kantor Fanny, acara diadakan di gedung paling atas yang disulap menjadi garden party.
"Hei...lihat bos kita dateng bareng suaminya..."
"Mas kenalin, ini semua yang kerja sama ama aku,, ini Dion, Ayu,Mila,Heni, dan Rian." Abi ikut menyapa rekan kerja Fanny.
"Kami kesana dulu ya.."
"Nikmatin aja waktu berduaannya." Celetuk Dion.
"Kita duduk disini aja ya mas, mas titip tas dulu. Aku mau ke toilet bentar."
"Jangan lama - lama."
Abi yang melihat Fanny sudah menghilang dari pandangan mata, langsung mencari handphonenya di dalam tas,, ia sungguh gelisah takut Zia kecewa padanya.
Abi mengecek pesan masuk disana tapi tidak satupun keluarga atau Zia menghubunginya.
"Kok tumben mama gak tanya aku uda sampek belum ya? Zia kenapa tidak ada kirim pesan juga? Apa dia tidak mau tahu kabarku yang belum ada menghubunginya? Aku disini gelisah sedangkan dia disana tenang - tenang saja." Abi merasa sangat kecewa dengan Zia yang tidak sedikitpun khawatir akan dirinya disini.
Abi melihat Fanny datang langsung menyimpan hanpdhonenya disaku celana, ia tidak mau Fanny terus menyita handphonenya.
"Mas, kita kesana yuk. Gabung sama atasan aku."
"Kamu sendiri aja sayang, mas mau ke toilet bentar.."
"Oke mas.."
Rani dan Faiz menunggu diruang tunggu saat Zia menemani Icha diruang UGD, Mereka berdua tidak sanggup melihat Icha harus diambil darahnya untuk mengetahui penyakit yang diderita Icha, Dokter hanya baru memprediksi Icha terkena gejala DBD.
__ADS_1
Rani berusaha terus menghubungi Abi tapi handphone Abi tidak aktif,
"Kemana anak itu sih pa, dihubungin gak aktif. di kirim pesan juga gak bisa."
"Coba mama hubungin Fanny."
"Udah pa, tapi gak diangkat."
"Mama tenang aja, biar papa hubungin Teguh biar dia yang cari cara ngubungin Abi."
Rani merasa lega suaminya langsung mencari tindakan agar Abi segera pulang tanoa menunggu esok hari.
"Bunbun.. Icha Takhut bun,, gak au di shuntik,, Tatit bun..".
"Disuntik gak sakit kok sayang, bunbun disini temenin Icha, pejamkan mata Icha, ucapkan laillahhaillallah. Biar Allah nolong Icha biar nanti rasa sakitnya dihilangin sama Allah." Zia berusaha membujuk Icha walau kaki dan tangannya terasa lemas tak bertenaga tapi ia harus kuat. Siapa lagi yang harus kuat dan menjadi semangat jika ia ikut lemah.
"Gimana buk, udah bisa diambil darahnya?" Tanya Dokter anak tersebut.
"Bisa Dok.."
Zia memeluk Icha memalingkaan wajah Icha dari jarum yang akan menusuknya, Zia terus membisikkan kalam Allah ditelinga Icha serta membisikkan kata - kata sayang, hingga saat jarum itu menusuk kulita Icha menebus urat nadi, Icha sedikit tersentak tapi karena tangannya yang sudah ditahan perawat tidak perlu waktu lama darah Icha sudah bisa diambil.
"Sudahkan sayang? Sakit gak?"
"Sakit bun, nyut - nyut dichini.." Mata Icha menahan tangis, ia tidak mau terlihat cengeng di depan banyak orang yang tidak ia kenal.
"Ya allah hanya Engkau tempat kami meminta, maka sembuhinlah rasa sakit yang dirasain Icha ya Allah." Zia mengelus bekas suntikan Icha dan memberi kecupan disana." Sebentar lagi pasti sembuh,,kan kita udah minta sama Allah."
"Anak bunbun kuat ya, udah jadi kakak ya kan?" Zia memeluk Icha dengan sayang yang masih tergeletak di brankar UGD.
Abi yang melihat Fanny masih sibuk dengan rekan kantornya secara diam - diam mencari tempat yang sepi untuk menghubungi seseorang...
"Halo siapa ini?"
"Berani juga kamu tanya siapa ini ya Teguh, Kamu udah gak ingat nomor saya?"
"Tuan..?"
"Kamu hapus nomor saya?"
"Kok jadi Tuan yang marah harusnya saya yang kesal, kenapa handphone tuan tidak aktif? Kenapa tuan ganti nomor? Disini semua pada nyarii Tuan."
Abi mengerutkan Dahinya, siapa yang bilang nomornya tidak aktif dan apa tadi? Ganti nomor? Abi langsung mematikan panggilannya, mengecek handphonenya yang ternyata benar sudah bukan nomor yang biasa ia gunakan dan Abi baru sadar banyak nomor yang terblokir tanpa Abi tahu...
"Fanny..." Abi menahan geram dihatinya, ia tidak mungkin meluapkan emosinya ditempat yang akan menambah malu nantinya.
Ting
__ADS_1
Kok dimatikan tuan, saya belum selesai bicara,,, Tuan gak bisa seenaknya seperti ini. Disini semua pada khawatir. Lebih baik tuan pulang sekarang, Icha sakit dan sekarang sudah dibawa kerumah sakit.
Abi membaca pesan masuk dari Teguh menggunakan nomor Teguh yang lain.
"Astaghfirullah, Icha..."
Jantung Abi seakan terlempar jauh dan membentur kuat hingga remuk mengilu.
Tanpa peduli akan Fanny, Abi melangkahkan kakinya dengan cepat ingin keluar dari tempat itu sesegera mungkin dan menuju bandara.
"Mas,,mas mau kemana? "Fanny yang melihat Abi menuju lift lantai bawah mengejar Abi.
Abi menarik paksa tangan Fanny agar ikut pulang bersamanya.
"Mana simcardku Fanny?"
"Maksud mas apa?, Lepas mas sakit." Fanny merintih kesakitan karena pergelangan tangannya digenggam Abi sangat kuat.
"Sekali lagi aku tanya mana Simcard asliku?!"
"Mas kok jadi membentakku?!" Balas Fanny tak kalah sengit.
"Harusnya aku bukan hanya membentakmu tapi menampar otakmu juga. Dimana pikiranmu sampai berani mengganti nomorku hah?! Gara - gara kelakuanmu, Icha masuk rumah sakit juga kita gak tahu.!."
"Mas, Icha hanya demam. Anak kecil biasa demam. Kenapa semua terlalu berlebihan. Disana juga ada mama dan Ziakan?!" Fanny sadar dari tadi mertuanya dan Zia menghubungi tapi ia enggan menyentuh handphonenya, Fanny hanya membaca sekilas yang betulis Icha sakit.
"Kita pulang sekarang, Icha pasti membutuhkan kita."
"Mas gak bisa seenaknya gini dong. Mau ditaruh dimana mukaku sama atasanku. Acara juga belum dimulai aku sudah pergi."
"Kalau begitu biar aku pulang sendiri, dimana nomorku?" Abi menarik paksa tas Fanny mencari kartu yang ia butuhkan.
"Mas mau pergi gitu aja? Mas mau buat aku malu?!" Fanny tersulut emosinya melihat Abi yang tidak peduli perasaanya.
"Kalau kau tidak mau pulang, aku pulang sendiri. Aku gak peduli kau malu atau tidak yang aku pikirkan sekarang hanya Icha"
"Mas,,!!"
Abi meninggalkan Fanny begitu saja saat lift sudah terbuka.. Abi tidak mau berlama - lama dengan Fanny, ia takut sampai mengeluarkan kata yang sangat dibenci oleh Allah.
"Mas!! Jika kau pergi, kau gakkan bisa bersama denganku selamanya!!!." Jerit Fanny yang tidak diperdulikan Abi, Abi terus berjalan cepat mencari taksi ke bandara. Masa bodoh barangnya yang di apartement Fanny semua bisa dibeli lagi tapi Icha anaknya tidak bisa diganti apapun...
"Kau sudah berani mengabaikanku mas,,, Apa semua ini karena Zia? Apa dia ingin merebut mu seperti wanita murrahan itu merebut situa bangka itu dari mamaku? Aku gakkan biarkan itu terjadi mas...tidak akan..." Fanny menghentakkan kakinya kuat dan melangkahkan kakinya kembali untuk melanjutkan acara yang ia tinggal tadi.
"Aku akan tetap mempertahankan yang memang menjadi milikku.."
#Fanny oh Fanny kenapa kamu begitu#
__ADS_1
#Bantu like comment and vote dears#
#Novelnya alur lambat ya, karena saya gak bisa lompat - lompat waktu yang banyak, masih ada teka teki yang harus dipecahkan juga nantinya#