Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Diam dan dengarkanlah...


__ADS_3

happy reading


🍇🍇🍇


Tidak terasa malam sudah datang menyàpa tapi kali ini bintang dan bulan enggan memperlihatkan cahayanya yang biasa menyinari dalam kegelapan, awan hitam masih teguh pendiriannya untuk menutupi cahaya, hingga bumi semakin redup dengan cahaya.


"Saf..Aif.." Panggil Abi yang ikut duduk diruang tv sebatas luas orang dewasa bisa menonton sambi tiduran itu.


"Iya om.." Jawab mereka bersama.


"Bolehkah mulai hari ini jangan panggil om lagi, tapi ganti dengan panggilan papa?"


Saf dan Aif terdiam, mereka hanya saling memandang. Zia juga hanya diam menyimak apa yang akan Abi katakan kepada anak-anaknya.


"Papa tidak akan pernah menggantikan posisi ayah dihati kalian, karena ayah adalah seseorang yang membawa kalian bisa ada didunia ini hingga menjadi anak-anak yang sholeh. Ayah tetap akan menjadi ayah yang selalu berada dihati kalian. Papa hanya ingin meminta sedikit sisi lain untuk papa, agar bisa membantu ayah menjadi papa kalian agar sosok figur seorang ayah tidak akan pernah hilang.


Papa mungkin tidak bisa menjadi seperti ayah karena ayah tetaplah ayah, tapi papa akan menjadi papa yang baik untuk kalian hingga kalian dewasa nanti, membantu kalian setiap dalam kesulitan dan memberikan kasih sayang papa kepada kalian berdua."


"Bisakan mulai sekarang memanggil papa?" Saf dan Aif mengangguk secara bersamaan. "Boleh papa mendengarnya?"


"Iya pa..papa."Jawab mereka dengan gugup.


"Kalau sekarang sudah menjadi papa kalian, bolehkah papa mendapatkan pelukan sayang dari anak-anak papa?"


Tanpa ragu Saf dan Aif memeluk Abi, mereka sangat bahagia dan terharu Abi mau menerima mereka, mereka sempat berpikir Abi akan menjaga jarak dengan mereka yang bukan anak kandungnya hingga bagi mereka asal Zia masih sayang mereka itu sudah cukup dan melihat mamanya bahagia adalah kebahagiaan mereka, tapi nyatanya mereka juga mendapatkan sosok papa yang akan selalu berada di sisi mereka.


"Makasih pa, sudah nerima Saf dan Aif jadi anak papa." Saf mengatakan dengan binar bahagia dalam pelukan Abi.


"Bukan menerima tapi kalian memang anak papa sekarang, jadi jangan pernah berpikir papa akan membedakan kalian. Ingat kalian anak papa." Abi memeluk Saf dan Aif dengan kuat menyalurkan kehangatan yang akan menjadi pondasi bahwa mereka sekarang sudah terikat tali kekeluargaan.


Zia yang melihatnya tersenyum bahagia, ia tidak tahu kalau anaknya juga merindukan sosok seorang ayah dikehidupan mereka. dan Zia bersyukur Abi membuka lebar pelukannya untuk anak-anaknya.


"Udah ah,, kok jadi mellow gini kayak langit yang sedang mendung, ntar langit yang mendung mama yang ngeluarin hujannya."


"Mama nih gak seru,,, gak bisa sedih dikit nangis, sedih dikit nangis, baperan banget mama."


"Loh kok gitu ngomongnya, emang mama siapa ini?" Zia pura - pura merajuk.


"Mama Saf dan Aif dong." Jawab mereka bersama dan beralih memeluk Zia dan memberikan ciuman bertubi- tubi ke pipi Zia hingga Zia kegelian..

__ADS_1


"Udah - udah cukup...geli..maaf minta maaf deh.."


"Ha..ha..ha.. Papa juga gak seru kak, kalau ayah dulu pasti udah ikutan nyiu..."


" Aif gak ngantuk sayang?" Zia membekap mulut Aif agar tidak meneruskan kata-katanya.. Mau ditaruh mana wajah Zia depan anak-anaknya kalau sampai Abi ikutan cium - cium dia..


Sedangkan Abi menyerngitkan dahinya menanti Aif menyelesaikan ucapannya.


"Mama kok nutup mulut Aif?"


"Mama kira tadi Aif lagi nguap jadi mama tutup biar setan gak masuk. Udah yuk Saf,,Aif tidur udah malam besok kitakan mau kerumah Icha,,, salim papa dulu."


Akhirnya Aif dan Safpun menuju kamar mereka setelah salim kedua orang tua mereka.


"Ehm.." Abi berdehem agar Zia memandangnya


"Kenapa bang?"


"Tadi aif mau ngomong apa?" Abi tersenyum tipis tapi tidak diketahui Zia.


"Aif? emang dia mau ngomong apa?" Zia pura - pura lupa. "Abang mau tidur gak? Zia juga mau tidur ngantuk..Mulai besok selalu seperti itu kalau bisa kita sholat berjamaah kalau sedang berkumpul." Zia mencari cerita lain untuk mengalihkan pertanyaan Abi.


Zia dan Abi kini didalam kamar dan mereka merebahkan diri diatas kasur yang hanya berukuran queen size. Zia yang masih malu- malu tetap memakai hijab instansnya saat tidur bersama Abi.


" Dek,bisakah tidur menghadap abang?"


Zia menurutin permintaan Abi yang awalnya tidur telentang kini mengesampingkan tubuhnya menghadap Abi.


Abi dengan puas memandang wajah Zia dari dekat yang membuat jantungnya semakin berdetak tidak beraturan.


"Apakah adek selalu tidur memakai hijab?" Zia menggelengkan kepalanya.


"Bolehkah abang membuka hijabnya?" Tangan Abi menjulur ingin membuka hijab Zia tapi langsung ditahan Zia.


"Kalau adek belum siap membukanya didepan abang tidak apa, abang akan menunggu sampai adek siap." Abi mencoba tersenyum didepan Zia. Abi menarik tangannya dari genggaman Zia.


Zia menatap Abi, entah kenapa.ia jadi merasa bersalah belum bisa membuka hatinya sepenuhnya untuk Abi bahkan mahkota rambutnya juga enggan ia perlihatkan.


Zia duduk dari rebahannya dan memunggungi Abi, secara berlahan ia membuka hijabnya hingga memperlihatkan rambut Panjang yang dicepol keatas yang mengekspose leher jenjang putih Zia.

__ADS_1


Abi menjadi gugup seketika napasnya kini juga ikut tidak beraturan sepertinya Abi lupa bagaimana cara bernapas yang benar hingga ruangan yang hanya memakai pendingin dari kipas angin itu menjadi panas.


Zia membuka cepolan rambutnya hingga terbentang rambut lurus hitam legam yang jatuh beraturan sepinggang Zia.


Zia mulai merebahkan dirinya kembali menghadap Abi..


"Maaf ya bang,, sekarang abang udah bisa melihatnya.."


Abi masih terdiam memandang wajah Zia yang sudah terlihat seutuhnya tanpa tertutup apapun.


"Inikah kecantikan yang tersembunyi itu? Dan hanya aku yang boleh melihatnya..? Membayangkan ada orang lain yang bisa melihatnya juga saja hatiku tidak terima."


"Bang.."


Abi menarik Zia dalam pelukannya dan menaruh Zia tepat di dadanya dimana jantungnya bersemayam.


"Diamlah dan dengarkanlah..." Ucap Abi sambil mencium ubun - ubun Zia.


Abi tidak melepaskan pelukannya hingga mereka tertidur dengan Abi tetap memeluk Zia...Ziapun tertidur dengan nada indah dari detakan jantung Abi yang berdegup bagai membuat sebuah irama...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bi, dimana Mas Abi?"


"Den Abi belum pulang nyonya,," Jawab bi Marni


Fanny melangkahkan kakinya dengan hentakan keras menuju kamarnya..


"Kenapa kamu tidak pulang mas? Bukankah kamu bilang hanya sehari disana? Sengaja Subuh hari aku balik sampai rumah tapi kau tidak ada!!" Jerit Fanny didalam kamarnya..


Fanny menuju walk in closet nya mencari boneka pelampiasannya, dengan geram penuh amarah yang dari kemarin ia tahan, ia tusuk boneka itu dengan membabi buta hingga begitu banyak robekan disana menandakan betapa ganasnya tusukan itu mendera tubuh boneka tersebut.


"Kurrang Ajjar kalian semua..!! Bukan ini yang aku mau!!! Kalian gak akan bisa lepas dari semua rencanaku!!" Teriak Fanny dengan tangannya yang tak berhenti menusuk - nusuk boneka malang itu.


"Dan kau Zia..Jangan harap kau bisa dengan mudah mendapatkan cinta mas Abi..karena cintanya hanya untukku." Ucap Fanny dengan napasnya yang sudah ngos-ngosan akibat perbuatannya...


#Fanny mas abi masih betah dirumah Zia..samperin aja#


#Bantu like, comment and vote#

__ADS_1


__ADS_2