
Happy reading
🍇🍇🍇
Senin pagi semua orang dikejar dengan rutinitas dipembuka hari setelah sejenak meliburkan diri dari rutinitas yang menyita pikiran.
Hari senin hari yang banyak dibenci setiap orang karena ia yakin akan banyak tumpukan pekerjaan yang menunggunya.
Begitu juga dengan Suami Zia yang berjalan dengan lunglai seakan enggan untuk jauh - jauh dari Zia...
"Dek,, ikut abang langsung aja yuk, kita makan siang diluar aja nanti."
"Gak mau ah bang, bosen dikantor gak da yang bisa dikerjain."
"Adek ada kerjaan kok nanti disana, memandang wajah abang terus disana pasti gakkan bosen." Zia ingin sekali mencak - mencak menghadapi Abi yang setiap waktu sudah seperti anak kecil minta perhatian.
"Nanti abang gak fokus dan lama selesaikan kerjaan abang. Bagus sekarang abang pergi, cepat selesaikan semua kerjaannya lalu segera pulang biar puaaaàssssss nempelnya."
"Tapi dek.."
"Gak ada tapi - tapian.." Zia segera mengambil punggung tangan Abi dan diciummya dengan takzim. Abipun menyerah membujuk istrinya untuk ikut bersama dan memberikan ciuman kening ke Zia.
"Semoga rezeki suami Zia makin lancar, berkah dan halal." Zia mencium pipi Abi kanan dan kiri hingga Abi merasa mendapat mood boosternya yang tadi hanyut entah kemana.
Suara langkah kaki Abi memasuki lobi kantor membuat setiap orang yang melihat hanya terdiam, mereka masih ingat kejadian minggu lalu karena tidak bisa menjaga lidah beberapa rekan kerjanya sudah diberhentikan secara tidak hormat.
Abi duduk di ruangannya dan memandang banyak tumpukan berkas yang harus ia segera selesaikan, pikiran Abi penuh dengan Zia seakan enggan berlama - lama meninggalkan Zia dirumah.
__ADS_1
Bip..bip..
Handphone Abi berdering,, Siapa yang pagi - pagi seperti ini menelponnya?
"Halo.."
"Tuan,, Ya ada apa?"
"Saya ingin melaporkan semua aktifitas nyonya Fanny seminggu ini.."
Jantung Abi seakan berhenti berdetak ia baru teringat bagaimana Fanny disana? Kenapa ia seperti dengan mudah melupakan Fanny?
"Bagaimana?"
"Tidak ada hal mencurigakan tuan, Nyonya hanya fokus dengan kerjaannya, memang beberapa kali saya lihat ia bertemu dengan seorang wanita tapi saya tidak tahu siapa dan apa yang mereka bicarakan, lalu kalau saya tidak salah lihat sepertinya Tuan Bagas Surya ada dikota ini juga."
"Terus pantau dia disana, jangan sampai Fanny ketemu Bagas. Bagaimana dengan lelaki paruh baya itu? Apa ada kemajuan?"
"Kata yang menjaga dia disana,dokter mengatakan kurang lebih sebulan dia sudah bicara lagi walau agak terbata dan tidak selancar orang normal."
"Baiklah, terus kasih info jika merasa ada kejanggalan agar kita tidak kalah langkah."
"Baik tuan.." Abi langsung mematikan panggilan yang tadi terhubung dengannya
"Bagaimana ini..? Apa yang sudah terjadi dengan diriku?"
Abi kini merasakan hatinya mulai gamang dengan perasaannya, apakah selama ini yang ia rasakan ke Fanny adalah cinta atau hanya sekedar rasa ingin melindungi? Hingga dengan mudahnya ia melupakan Fanny. Tapi bagaimana dengan Zia? Apakah benar hatinya sudah terpaut jauh dengan Zia? Atau hanya sebagai pelampiasan kekosongan tiada Fanny disampingnya? Tapi jujur Abi tidak bisa jauh dari Zia dan semakin takut kehilangan jika Zia tidak ada disisinya.
__ADS_1
"Kenapa hatiku tiba - tiba meragu kayak gini, aku jadi takut dengan perasaan yang terus tumbuh ini..."
Abi sudah merasa takut dengan hatinya sendiri sekarang, bagaimana cara ia memastikan hatinya? Kalau sudah pasti apakah ia masih bisa berbuat adil?
"Jangan ada yang terluka...jangan sampai ada..." monolog Abi sendiri sambil menghentakkan kepalanya berulang kali disandaran kursinya tidak ada rasa sakit yang terasa tapi yang ada rasa kebas dengan pikirannya sekarang, tenaga Abipun terasa menguap bersama keraguan hatinya sekarang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu bisakan membantuku?"
"Bayarannya harus sesuai dengan resiko yang akan aku tanggu nantinya." Ucap seorang perempuan dengan nada sombongnya.
"Tenang saja, kalau berhasil aku juga bisa memberimu lebih lagi...Dan kau harus pastikan semuanya sesuai yang aku rencanakan"
"Tenang saja semua akan berjalan mulus seperti yang kau mau. "
"Aku akan memberikan uang muka dahulu, aku akan menghubungimu disaat kau harus melakukan tugasmu." Fanny menatap serius seorang wanita dihadapannya.
"Baiklah, terima kasih. Senang sekali bisa bekerja sama dengan Ibu Fanny." Ucap perempuan itu dengan tersenyum licik.
Fanny meninggalkan tempat itu segera agar tiada orang yang mencurigainya..
"Pembalasanku akan segera dimulai....." Gigi Fanny menggeretak menahan emosi di dihatinya yang ingin segera ia lampiaskan tanpa ampun.
#Abi kok jadi ragu gini?#
#Maaf baru update, minguu slow update ada misua dirumah yang gak mau diduai dengan handphone#
__ADS_1
#Bantu like,comment and vote dears#