Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Dari tepung apa?


__ADS_3

Happy reading..


🍇🍇🍇


Zia melirik Abi sekilas yang menatapnya dengan intens dan penuh tanya, Zia hanya bisa membuang muka dengan wajah yang sudah ditekuk dan memerah malu. Zia takut Abi berpikiran jelek bagaimana anak sekecil Saf dan Aif tahu cara membuat anak?


Zia enggan menjawab bahasa batin dari Abi, ia tetap teguh enggan menatap mata Abi yang begitu sangat mengusik.


"Ak Sap, au uat adek ayi, himanna cakhana?" Icha terus saja mendorong Saf untuk bercerita.


"Kalau Icha mau punya adek bayi, papa harus Icha suruh beli tepung.."


"Uhukk!" Kini giliran Abi yang terbatuk akibat terkejut, untuk apa dia membeli tepung?


"Abang gak apa - apakan?" Ucap Zia sambil menepuk dada Abi secara pelan.


"Gak apa - apa hanya kesedak saja, untuk apa Papa beli tepung Saf?" Tanya Abi penasaran sambil menggenggam tangan Zia agar berhenti menepuk dadanya karena sentuhan tangan Zia didadanya membuat tubuhnya tersengat aliran yang menggelanyar ke seluruh urat sarafnya.


"Kata mama, yang bisa buat adek kecil tuh papa, papa yang tahu beli tepung adek bayi dimana. Kayak Saf ni kalau kata mama, Saf itu tembem kembang kayak roti. Jadi dulu ayah buat Saf pakai tepung terigu"


"Aif dari tepung kanji papa, karena kan Aif lincah kayak tepung kanji yang kenyal - kenyal." Sambung Aif.

__ADS_1


Abi melirik Zia yang hanya dibalas cengiran absurdnya.


"Itha, papa uat akek epung apa pa?" Kini Abi yang bingung menjawab Icha, tepung apa? membeli tepung saja dia tidak pernah apalagi tahu nama- nama pertepungan.


Abi menatap Zia kembali meminya bantuan untuk menjawab pertanyaan Icha.


"Icha dari tepung ketan putih, yang halus dan putih kayak salju, kalau sudah jadi kenyal - kenyal gemesin." Ucap Zia sambil menoel pipi Icha.


Icha langsung percaya diri, ia berdiri beelenggak - lenggok dengan mata yang dikedip - kedipkan... menggemaskan bukan?


"Jadi ma, adeknya kakak - kakak nanti kita buat pakai tepung apa ma? Biar papa beli dan langsung diadonin biar bisa jadi adeknya" Goda Abi ke Zia yang dianggukin bareng - bareng sama anak mereka menanti jawaban mamanya.


"Te..tepung?" Kok jadi Zia yang kena sekarang? Papa dan anak - anak mengangguk bersamaan kembali menunggu jawaban Zia.


"Tepung apa ya?" Zia pura - pura berpikir... "Gimana kalau kita campur, ada tepung roti,kanji dan ketan? Biar adeknya mirip kakak-kakaknya yang baik dan cantik ini." Jawab Zia yang membut mata ketiga anaknya berbinar cerah dan menyilaukan mengalahkan sinar mentari.


"Ye...papa epeutan beyi epungna,, Itha mau itut uat adek ayi." Ucap Icha dengan tidak sabarnya.


Kini Abi yang kelimpungan, mau beli tepung dimana? Mana bisa dia buat bayi dari tepung? Yang dia tahu agar menjadi adek bayi membawa Zia kekamar dan mengurungnya semalaman dalam kukungannya. Lah ini tepung? Dan ikut membuatnya?"


Abi memijat kepalanya pusing menjawab pertanyaan Icha kembali, kenapa pertanyaan anaknya selalu skakmat untuknya.

__ADS_1


"Icha, kata mama buat adek bayi gak boleh ada orang yang tahu, nanti adeknya gak jadi,, ntar adeknya bantat dan jelek.. kata Ayah kakak dulu, yang bisa bantu papa buat adek itu hanya mama biar adonannya jadi kalau kita ikutan tar gak jadi" Jelas Saf


Kini Zia yang makin malu dengan penjelasan Saf, kenapa cerita pertepungan makin panjang dan lebar kemana - mana.


Abi yang tidak perlu menjawab malah tersenyum kemenangan bisa melihat wajah malu Zia yang sangat menggemaskan hingga ingin ia angkut kekamar segera buat diadonin.


"Jadi kapan kita beli tepungnya ma?" Pertanyaan Abi membuat Zia makin tersipu, ia bukan tidak tahu arti dadi kata - kata Abi.


Zia sengaja memasang wajah sedih mencari simpati anaknya..


"Toko tepungnya tutup karena corona jadi harus jaga jarak dulu."


"Ndak apa ma, anti ial papa yang uka okona uat eyi epunhg uat adek ayi. isha an pa?" Icha masih kekeh papanya bisa membeli tepung itu.


"Bisa, ntar papa beli tepungnya ya...Papa harus cari dulu dimana toko yanh buka oke.." Bujuk Abi ke Icha


"Hokhee adek ayi..adek ayii" Icha bergoyang kanan kiri kesenangan.


pandangan ini tidak luput dari dua pasang mata tua yang terharu dengan kebahagiaan yang ada disana..


"Bisakah kita melihat kebahagiaan seperti ini seterusnya?"

__ADS_1


#akhirnya cerita pertepungan usai juga#


#bantu like comment and vote dears#


__ADS_2