
Happy reading
🍇🍇🍇
"A..abang..."
Zia memundurkan langkahnya dengan kaki yang juga ikut bergetar, genggaman tangan Zia yang menyeret koper seakan tidak memiliki nyawa hingga koper itu terlepas dan terjatuh.
"Mau kemana dek?" Abi menajamkan pandangan ke arah Zia dan berganti melihat koper yang sudah tertidur dilantai dingin. Bibir Zia terkatup rapat tidak bisa menjawab pertanyaan Abi.
"Abang sedang bertanya Zia Zahra, kamu mau kemana?" Abi mengulang pertanyaan dan menekan nama Zia sambil terus mendekat ke arah Zia yang terus memundurkan langkahnya berusaha menghindari Abi.
Zia menggelengkan kepalanya dan tetap tidak berani menjawab. Rasa takut mencuat hingga ke ubun - ubun sampai ia kehilangan kata - kata untuk menjawab pertanyaan Abi.
"Kenapa adek gak berani jawab ehm? Untuk apa membawa koper itu keluar lagi?" Abi mengganti pertanyaannya dengan nada mengintimidasi Zia.
"Kenapa adek ketakutan? Kenapa adek terus mundur kebelakang?" Abi terus memberondong Zia dengan pertanyaan hingga langkah mundur yang tak diiringin penglihatan membuat Zia jatuh ke kursi diruang tamunya dan ia tidak bisa menghindar lagi dari Abi.
"Kemana adek mau pergi? Apakah adek mau membuat jantung abang berhenti berdetak?" Abi terduduk menekuk lututnya dihadapan Zia, terlihat wajah Abi penuh dengan kesedihan..
"A..abang kenapa balik kesini lagi?" Zia berusaha mengeluarkan kata - katanya walau terasa sangat keluh.
"Apakah abang harus membiarkan istri abang pergi tanpa pamit? Apakah abang akan membiarkan adek menanggung dosa jika abang marah dan tidak ikhlas saat adek pergi walau dengan sebuah alasan? Adek selalu mengajarkan abang untuk terbuka, untuk selalu mengingat janji dan saling menghormartin. Kenapa sekarang semua itu adek yang melanggar?"
"Maafkan adek bang, adek khilaf tidak bisa berpikir jernih kembali disaat melihat mba Fanny terluka karena kita." Zia menangis mengakui semua kesalahannya mengabaikan Abi demi menyelamati hati Fanny.
"Apakah adek tidak berpikir jika hati abang juga akan terluka bahkan bisa lebih parah dari itu?" Zia menggelengkan kepalanya, ia berpikir mba Fanny pasti bisa meluluhkan hati Abi hingga suaminya tidak terlalu merasa kehilangan. "Abang bisa tidak bernapas dan kehilangan arah jika adek meninggalkan abang. Apakah adek tahu kelemahan lelaki? Ia akan terpuruk disaat seseorang yang benar - benar ia cintai pergi." Abi meneteskan bulir kesedihan dihadapan Zia membuat Zia merasakan kepedihan suaminya karena perbuatan yang ia lakukan tanpa berpikir panjang.
"Maafkan adek bang, maaf semua kelakuan adek yang diluar batas. Maaf sudah melukai hati abang. Adek hanya ingin memberi waktu untuk abang dan mba Fanny membina rumah tangga yang sempat rusak karena keegoisan dan juga karena sudah ada adek disana yang secara tidak langsung ikut menyakitin hati mba Fanny" Jelas Zia sambil menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia tidak sanggup melihat wajah kesedihan suamimya, ia merasa menjadi istri yang sudah durhaka kepada suaminya.
"Sudah jangan bersedih, abang sudah memaafkan adek. Jangan menangis lagi. " Abi membuka tangan yang menutupin wajah cantik istrinya itu dan mengenggam kedua tangan itu penuh kelembutan hingga Zia terbuai dan air mata berhenti mengalir seketika. "Semua bisa kita bicarakan baik - baik kan? Kita bisa cari solusi agar Fanny tidak terluka. Apakah adek tahu abang sudah membeli rumah untuk adek dan anak - anak tinggal disana? Dan juga untuk dia, apakah dia yang membuat mamanya ingin menjauhin papanya?" Tanya Abi dengan satu tangan yang beralih mengelus perut Zia.
__ADS_1
"A..abang tahu?" Zia kembali menangis, ia berusaha menutupin dan kuat bersama anak didalam kandungannya tanpa Abi tapi Abi mengetahui dengan mudahnya membuat hati itu menjadi rapuh.
"Kenapa? Apa adek mau menyembunyikan ia dari abang? Apakah ia baik - baik saja didalam sana?" Zia menggeleng dan mengangguk menjawab pertanyaan Abi dengan air mata yang kali ini tidak mau berhenti dengan rasa yang bercampur, ada rasa sedih tidak mengatakan ke suaminya ada juga rasa bahagia mengetahui Abi tahu kehamilan ia sekarang.
"Hei boy,,kamu nakal ya... baru didalam perut udah berani melawan papamu. Apa kamu tidak mau kenal dengan papa?" Abi mencoba berbicara dengan perut Zia yang masih terlihat rata.
Kali ini Zia tertawa walau masih menangis melihat Abi berbicara dengan raut kesal dengan anaknya yang belum berbentuk sempurna dirahim Zia.
"Abang sok tahu dia lelaki." Zia mencoba menghapus sisa air mata diwajahnya tapi dihalangin Abi. Abi menghapus sisa air mata Zia dengan Ciuman dan hissapan bibirnya.
"Asin..." Cengir Abi.
"Bukannya dihapus malah di hissap ya asin kan air mata." Sungut Zia.
"Biasanya manis kok, mungkin karena adek durhaka ni jadi asin.." Goda Abi.
"Tahu ah,,, abang kok tahu adek hamil?" Zia sangat penasaran dari tadi dari mana Abi tahu tentang kehamilannya.
"Pergi kemana adek tadi pagi?" Zia tampak berpikir mengingat kemana saja ia pergi tadi pagi.
"Rumah sakit itu tempat Bagas dirawat disana, abang sengaja cari yang dekat dengan rumah agar tidak jauh saat ingin menjenguk. Abang tidak sengaja melihat adek masuk ke poly kandungan saat abang duduk diluar ruang inap Bagas. Saat adek keluar abang langsung masuk dan bertanya dengan dokter disana, dan saat dirumah abang curiga dengan gerak gerik adek yang seperti enggan untuk abang antar. Makanya abang suruh adek turun duluan. Abang memeriksa semua yang ada dikamar adek untuk memastikan pernyataan dokter dan ini abang menemukan ini di laci nakas meja rias." Abi merogoh kantungnya untuk menunjukkan testpack yang ia temukan.
"Abang makin curiga saat melihat Saf dan Aif menyeret koper mereka ke rumah bu Camat saat abang mencoba memantau dari jauh untuk memastikan semua kejanggalan dihati abang. Dan ternyata benar setelah agak lama abang berdiri didepan pintu rumah abang melihat adek ingin keluar dengan membawa koper."
Zia berpikir rencananya akan berjalan mulus dan lancar tapi kenyataannya dengan mudah Allah menghalangi langkah kelirunya yang akan berujung dosa.
"Tapi abang tadi setuju adek pindahkan kenapa bisa curiga adek pergi?"
"Karena awal saat tahu adek hamil, abang berpikir gimanapun adek dan Fanny sudah tidak bisa seatap. Abang takut hati Fanny akan terluka saat abang tidak bisa mengendalikan diri memberikan perhatian buat adek."
"Tapi adek udah janji sama mba Fanny memberi waktu yang banyak untuk dia berlama - lama dengan abang."
__ADS_1
"Adek gak boleh pergi apalagi sedang hamil awal, dia masih belum terlalu kuat didalam sana. Adek sama anak - anak ikut abang ke rumah kita yang baru. Abang sudah minga Bi Marni disana buat jaga adek, karena dia yang merawat abang dari kecil. Masalah Fanny abang akan menepatin janji abang akan penuh ke Fanny tapi jangan halangin abang untuk sekedar singgah dan menjenguk kalian disana."
"Makasih bang..makasih atas semua yang abang beri dan segala pengertiannya." Ucap Zia telus dan memeluk Abj kembali.
"Udah jangan peluk lagi, abang takut khilaf. Ayo kita jemput Saf dan Aif sekarang keburu malam."
Abi menggandeng tangan Zia dan membawa koper Zia menjemput kedua anak mereka untuk ia bawa kerumah baru mereka.
"Abi, lama banget kamu sampainya mama udah mau jadi ragi disini nunggu lama." Keluh Rani
"Mama.."
"Zia,, " Rani menghampirin Zua dan memeljk dengan sayang "Jangan berpikir untuk pergi jauh ya nak. Bagaimana kabar calon cucu Oma disini?"
"Mama tahu?"
"Menurutmu? Kenapa mama dengan rela kamu keluar dari rumah dan membiarkannya begitu saja? Abi yang merencanakan ini semua dan menceritakannya ke mama."
"Maafkan Zia ma."
"Jangan diulangin lagi ya sayang." Zia mengangguk dalam pelukan Rani.
"Tapi Ma..Bisakan kehamilan Zia mba Fanny tidak mengetahuinya dulu?"
"Itu memang harus dilakukan sampai waktu yang tepat." Jawab Rani dengan tegas.
Disisi rumah sakit Fanny masih dengan setia menjaga Bagas, ia sudah izin dengan Abi untuk hari ini bersama Bagas disana. Sekarang ia sedang berjalan di koridor rumah sakit setelah memberi makanan untuk ia makan di dalam ruangan Bagas.
Lorong yang sunyi membuat langkah kaki terdengar sangat jelas.
"Radit..kamu disini?"
__ADS_1
#Zia gak jadi pergi#
#Bantu like comment and vote dears#