
Happy reading
🍇🍇🍇
Suara langkah kaki menggema di lorong rumah sakit di tengah malam larut...
Mencari nomor kamar tempat Icha Dirawat yang ia dapatkan dari Teguh tadi. Abi sama sekali belum ada menghubungi keluarganya karena takut saat bicara ditelpon yang ada kesalahpahaman yang berkepanjangan.
Kreet
Suara pintu ruangan terbuka membuat Zia tersadar dari tidur ayamnya..
"Bang Abi?"
"Gimana Icha dek?"
"Diinfus sementara bang biar turunnya panas,, alhamdulillah tadi pengecekan trombositnya baik - baik saja tapi besok akan dicek kembali untuk memastikan Icha tidak terkena gejala DBD."
Abu mendekatin Tempat tidur Icha, memberikan kecupan hangat dikening Icha hingga ia menggeliat sebentar dan tertidur lagi.
"Maafkan abang dek...Abang gak ada maksud tidak ada menghubungi dan memberi kabar ke..."
"Udah bang, cukup..lebih baik abang istirahat dulu. dibicarakan sekarangpun percuma, hati adek lagi dalam keadaan tidak baik, yang ada nanti bukan bicara pakai logika tapi pakai emosi apalagi abang pasti juga masih capek, lebih baik besok saja kita bicarakan saat hati sudah agak tenang dan bara panas yang masih bercokot didalamnya meredup."
Abi mengikutin kata Zia, pikiran Abi juga butuh istirahat banyak sekali masalah yang berputar dikepala Abi termasuk kata - kata Fanny terakhir..
__ADS_1
"Perpisahan? Aku yang bersabar mempertahankan ternyata dengan mudah ia ucapkan....Haruskah aku mengabulkannya?" Abi terus berbicara didalam hatinya, mata boleh terpejam tapi pikiran selalu terjaga membawa Abi terus berpikir dalam lelahnya.
Zia terlihat melirik Abi yang memejamkan matanya tapi dengan kening yang selalu berkerut.. Zia tahu suaminya belum tidur dan mungkin tidak bisa tidur.
Ada rasa iba dihatinya, bagaimanapun Abi adalah suaminya tidak sepantasnya ia bersikap acuh ke Abi.
Tapi sekuatnya hati pasti ada saat ia lemah dan rapuh..tidak mudah mencoba selalu kuat karena kadang ada titik yang membuat kita lemah dan ingin mundur dari keadaan.
Maka saat itu terjadi diam dan mencoba berdamai dengan hati lebih baik dari pada langsung menyalurkan emosi tanpa tahu kebenaran yang ada.
Akhirnya keheningan adalah pilihan terbaik memberi waktu untuk hati agar mempersiapkan tapakan agar tidak goyah saat berbagai hantaman mendobrak pertahanan.
Plakk
"Aduh, sakit..." Abi yang tertidur merintik kesakitan saat sebuah tamparan mengenai lengan tangan Abi.
"Ma..."
"Apa?! Mau pembelaan apalagi yang kamu buat hah?! Membela diri terus yang kamu bisa...Harusnya kamu berani menyalahkan diri kamu sendiri jangan hanya bisa memberi pembelaan."
"Ma,,, lebih baik bicara diluar, gak enak dilihat anak - anak."
Zia mendekatin mertuanya yang sepertinya tidak akan puas memarahin suaminya.
"Kamu ikut mama sekarang, jelaskan semua ke mama."
__ADS_1
Kaki Abi melangkah mengikutin Rani hingga mereka sampai ke kantin Rumah sakit.
"Jelaskan sekarang.." Abi mulai menceritakan dari ia sampai kebandara hingga saat berada di pesta bersama Fanny.
"Abi tahu, Abi salah ma...Abi hanya tidak ingin Fanny berpikir saat Abi bersamanya tidak bisa mencurahkan seluruh perhatian Abi, jadi Abi biarkan dia memegang handphone Abi karena juga biasanya Abi suka nitip Handphone ditasnya tapi Abi gak nyangka Fanny bisa melakukan itu hanya karena tidak mau diganggu ma."
"Berpikir berpikir salalu itu yang jadi alasanmu. Jadi lakik itu bisa tegas dikit gak sih Abi? Jangan lembek dan lentur yang mudah dibelok sana belok sini. Kamu itu harus punya pendirian jangan hanya terbawa perasaan hingga jadi takut ini takut itu yang ujungnya ketakutan itu yang jadi boomerang kamu sendiri."
"Sekarang mama kasih pilihan ke kamu, pisah dengan Fanny atau kamu bawa Fanny pergi dari rumah mama? Sudah cukup mama sabar menghadapin keegoisannya. Mama gak peduli dengan keadaan Fanny lagi. Harusnya dia sadar dan mau berubah tapi nyatanya apa? Dia tetap bertahan dengan keegoisannya. Mama gak perlu berharap lagi Fanny memberikan perhatian ke mama karena sekarang udah ada Zia disamping mama. Kalau dia bisa egois, mama juga bisa egois."
"Mama jadi gak yakin dia punya penyakit mental.. atau itu hanya sebuah alibi aja agar ia bisa mendapatkan semua yang ia mau tanpa bantahan?"
"Ma, kenapa mama bisa berpikir sepicik itu?" Abi sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi, pikirannya sudah sangat kacau ditambah lagi dengan permintaan Rani.
"Picik kamu bilang? Harusnya itu yang kamu tanya ke istrimu...Mamakan hanya belajar dari dia dan mencontoh yang ia lakukan, kalau memang dia ibu yang baik seringan apapun sakit anaknya, harusnya ia bisa meluangkan waktu untuk menjaganya bukan melimpahkan semua ke orang lain."
"Ma.."
"Jangan harap mama mengubah keputusan mama,.kalau kamu tidak bisa tegas mama yang akan tegas untuk dirimu. Sekarang kamu tinggal pilih pisah atau bawa dia keluar dari rumah..."
Rani meninggalkan Abi sendiri di kantin, tadi Rani sangat ingin mengatakan pilih Fanny atau dirinya tapi ia tidak sanggup melihat beban yang berlebih yang dipikul Abi sekarang.
"Kita lihat apa pilihanmu nanti Fanny...."
#Puyeng puyeng kamu Abi#
__ADS_1
#Bantu like comment and vote dears#