
happy reading
πππ
Aneka makanan untuk sarapan sudah di hidangkan saatnya semua keluarga berkumpul untuk makan, tampak Rahman yang sudah duduk bersama Saf dan Aif. Zia dan Ibu masih berdiri di meja makan yang harus bertambah dua kursi plastik agar cukup untuk didudukin keliling oleh enam orang.
Abi masih bingung ikut duduk atau bediri bersama Zia karena dirumahnya ia terbiasa makan terpisah dari kedua orang tuanya disebabkan Fanny yang membuat masakan berbeda hanya untuk mereka saja.
"Bang duduk." Pinta Zia yang melihat Abi masih setia berdiri.
Abi menurutin kata Zia untuk duduk dikursi yang sudah ditunjuk Zia.
Abi memperhatikan ibu yang mengambilkan makanan dan minuman untuk bapak, membuat Abi bingung kembali, apakah ia akan diambilkan makanan juga oleh Zia? atau mengambil sendiri? Karena dirumahnyapun ia terbiasa duduk bersama Fanny dan anaknya mengambil makanan masing-masing.
Abi tidak mau berharap banyak saat Zia masih sibuk mengambilkan makanan untuk anak-anaknya.
"Bang.." Tegur Zia dengan memegang tangan Abi untuk menahan Abi mengambil piring sendiri. " Sebentar ya, biar Zia yang layanin abang." Jelas Zia dengan senyum lembutnya hingga Abi tanpa sadar juga ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Ziapun melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Abi tadi.
Setelah Zia selesai menghidangkan anaknya kini giliran Abi, bukannya ia tidak mau melayani Abi terlebih dahulu, tetapi anak-anaknya tidak akan sabaran menunggu nantinya sedangkan ia belum tahu porsi makan Abi dan apa yang disuka dan tidak disukai Abi.
"Abang nasinya segini cukup?"
"Cukup dek."
"Abang ada yang tidak disuka atau elergi apa gitu?" Tanya Zia lagi.
"Abang gak pilih - pilih makanan kok dek, apa aja abang makan, apalagi yang masak istri sendiri ini."
"Ehm,,,kalau mau ngerayu Zia waktu berdua aja, kalau banyak orang ntar Zia bukan merona malu tapi jadi macan yang mengamuk." Goda Rahman pada anaknya.
"Bapak..." Zia merengek ke Rahman yang sudah membuka aibnya didepan suaminya, Zia memang tidak suka digoda didepan banyak orang. Baginya biarlah kemesraan itu hanya dia dan suami yang tahu tidak perlu diumbar didepan orang. karena belum tentu ada yang suka melihatnya yang akan menimbulkan penyakit hati.
"Ini bang dimakan ya, jangan lupa doa biar setan gak ikut makan. Gak ridho Zia makanan yang Zia buat ikut di makan setan." Zia sengaja menyindir Abi dengan kata lupa, karena Zia masih kesal melihat Abi mengabaikan sholat subuh tadi.
Zia dan ibu sekarang ikut duduk bersama dan mereka mulai makan setelah berdoa.
Usai makan Zia langsung membersihkan sisa makanan dan piring kotor yang sudah hadir didepan matanya.
"Nak, ibu sama bapak mau pulang duluan, bukan kami gak mau lama disini, rumah sudah lama ditinggal dan disana juga ada yang mau hajatan juga, jadi bapak dan ibu mau bantu - bantu." Ibu mendatangi Zia yang baru selesai mencuci piring.
"Iya buk gak apa-apa, makasih ya buk uda disini temenin Zia."
__ADS_1
Zia memeluk ibunya dengan sayang...
"Ingat pesan ibu kemarin ya nak, hormatin dan layaninlah suamimu. Surgamu bersamanya."
"Inshaallah buk."
Zia mengantarkan ibu ke depan yang sudah ditunggu bapak di ruang tamu minimalis itu.
"Nak Abi, bapak titip Zia dan cucu -cucu bapak samamu sekarang. Mereka sudah jadi tanggung jawabmu, tegurlah Zia jika ia salah, wanita itu sangat lembut dan bengkok seperti tulang rusukmu, lembutlah maka ia akan mengikutimu jangan terlalu keras dan memaksa hingga ia bisa patah.
Ingatlah nak Abi, wanita adalah bagian tulang rusuk kita yang paling bengkok, ia dekat dengan lenganmu untuk kau lindungi, dekat dengan hatimu untuk kau sayang dan cintai, dekat dengan jantung untuk kau hargai, "
Zia adalah bunga yang dari kecil sudah bapak rawat hingga ia tumbuh cantik dan subur hingga kau berminat untuk memilikinya, tetapi jika suatu saat kau lelah dan tidak sanggup untuk merawatnya lagi hingga ia terlihat layu bahkan hampir mati maka segera kembalikanlah ia ke bapak dengan baik-baik, bapak masih sanggup merawatnya kembali hingga ia bangkit dan ingin tumbuh subur kembali."
Zia menangis dipelukan ibunya mendengar semua perkataan bapaknya dibalik tirai pembatas ruang tamu dan keluarga. Ia tahu betapa besar kasih sayang bapaknya dan bagaimana bapak dulu menjaganya hingga tidak ada yang berani mendekati Zia karena tahu gimana Rahman menjaga anaknya.
"Pak, Abi tidak bisa menjanjikan sesuatu tapi Abi inshaallah akan menjaga Zia pak, Abi akan memberika kasih sayang Abi pak, karena Abi sudah mengikrarkan itu disaat Abi mengucapakan ijab kabul untuk Zia."
"Makasih nak, bapak pegang kata-katamu..Buk ayo pulang, kalau kelamaan disini ntar anak perempuan ibu jadi anak cengeng, nangis terus..."
Rahman melihat dari sana Zia yang menangis dipelukan ibunya.
"Bapak.." Zia berlari ke arah rahman dan memeluk bapaknya dengan kuat. "Zia sayang bapak, tetaplah jadi pegangan Zia pak." Zia menangis dipelukan Rahman
"Bapak selalu gitu, godai Zia yang lagi sedih." Sungut Zia
"Bapak gak tahan lihat anak bapak nangis lama-lama. Ha..ha..ha.." Tawa Rahman dengan kata pamungkasnya yang selalu membuat Zia merasakan betapa bapaknya menyayanginya.
"Ya udah kami balik dulu ya , Assalamualaikum."
Zia melepaskan pelukannnya dan menyalim bapak dan ibunya yang diikutin Abi dan anak - anak.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka serempak.
Kini tinggallah mereka berempat dirumah,
"Ma, Saf dan Aif ke mesjid ya, kami mau bantu bersih - bersih mesjid."
"Iya sayang hati-hati ya.."
Saf dan Aif pergi ke mesjid setelah salim dengan Abi dan Zia.
__ADS_1
Abi terlihat canggung berdua dengan Zia didalam runah, kalau Zia uda nerima dia seutuhnya, udah Abi gotong kayak karung beras dan membawanya ke kamar tempat peraduan yang paling nikmat tapi Zia masih dalam mode on galaknya, mana Abi berani, bisa-bisa kena tendangan maut nantinya.
"Abang, kayaknya kita perlu bicara."...
Zia memegang tangan Abi dan mengajaknya duduk di kursi.
Mereka berdua kini duduk bersebelahan dan saling berhadapan.
"Bang.."
Zia mengambil kedua tangan Abi dan menggenggamnya dengan kasih sayang lalu ia letakkan di pahanya dengan tetap digenggam.
"Iya dek.." Abi terlalu gugup saat Zia memegang tangannya, ntah kenapa ia merasa berbeda saat Zia memegangnya.
"Abang sekarang adalah imam Zia yang harus Zia ikutin, pemimpin jalan Zia dan anak-anak sekarang dan seterusnya, Zia mau abang menjadi imam yang benar, menunjukkan jalan jannah ke kami, menjadi pemimpin jalan yang baik buat kami...
"Jika abang mengabaikan kewajiban abang pada Allah, bagaimana abang bertanggung jawab dengan kewajiban abang kepada kami? Sedangkan yang utama aja abang lalai..
Abang tataplah mataku....."
Abi menatap mata Zia...
"Berilah keyakinan untuk Zia bahwa abang bisa menjadi pemimpin dan imam buat keluarga kita."
Abi menatap dalam mata Zia, terlihat jelas disana Zia meminta kepastian dari Abi...Tapi Abi belum bisa berkata dan masih terdiam, hatinya agak meragu, untuk Fanny aja dia tidak sanggup dan belum bisa menjadi imam dan pemimpin yang baik.
"Abang,, Rumah tangga tidak hanya berkata tentang cinta,, karena cinta bisa berlalu dan pergi, tapi juga tentang keyakinan yang didasarkan dengan iman agar ia tetap kuat dan bisa selalu bersama hingga ke jannahNya."
Tubuh Abi bergetar, Inikah Zia,, apakah dia tidak terlalu egois atau terlalu baik hingga bisa mendapatkan Zia dalam hidupnya yang belum bisa tegas ini?
Zia melihat tangan Abi bergetar dengan segera memeluk Abi,
"Maafkan kata - kata Zia jika melukai hati abang." Ucap Zia sambil memeluk abi. Tubuh Abi yang bergetar tiba - tiba mematung menerima pelukan Zia, Inikah Zia yang asli? yang tanpa ragu memberikan respon apapun untuk menenangkan?
Abi langsung memeluk Zia dengan erat,
"Inshaallah abang akan berubah dek, abang akan belajar menjadi pemimpin dan imam yang baik buat keluarga." Ucap Abi sambil memejamkan mata dan menghirup dalam aroma manis dari tubuh Zia.
Hingga pelukan mereka terganggu oleh deringan handphone Abi yang membuat Abi kesal karena mengganggu suasana intim mereka.
"Siapa yang menghubungi?"
__ADS_1
#Galau mak, sabtu minggu suami dirumah selalu minta dilayani kayak bayi besar ketiga,, megang hape mata melototπ π #
#Bantu like,comment and vote ya dears#