
Hari ini wajah Icha sangat ceria karena mamanya pulang dan mamanya berjanji akan mengajak Icha pergi jalan - jalan hari ini.
Tapi tidak dengan sepasang suami istri yang sedang perang dingin. Disaat sarapanpun yang ada hanya keheningan.
"Icha, main sama bibi dulu ya, kan uda selesai sarapan. Mama mau bicara sama papa bentar."
"Aik ma, Api anti Itha jakhan-jakhan ama mama an papa ya?"
"Baiklah sayang."
"Pokhmise ma? no oong - oong." sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
"Of course girl."
"Yeee. Ashik jakhan-jakhan., jakhan-jakhan" Icha bersenandung senang sambil berjalan dengan tubuh montoknya dia menggeol - geolkan pinggulnya ke kanan ke kiri dengan tangan yang juga ikut mengikuti gerakan pinggul.
Mas tidak bisakah kita bicara baik - baik?"
"Bicara baik gimana maksudmu? kalau ujungnya juga kamu kekeh dengan pendirianmu?"
"Mas mengertilah posisiku. Ehmm, Ki..kita bisa cari kamu pasangan. Ehm... Poligami misalnya, agar ada yang jagai Icha layak ibu dan ada yang mempersiapkan segala yang kamu butuhkan. Itu bisa kita lakui mas yang penting cinta kita gak pernah putus." Fanny berkata dengan sangat hati-hati merangkai kata yang baik agar tidak tersinggung.
"Kau gila ya?! Kau anggap apa aku HAH?!." Bentak Abi sambil menggebrak meja makan.
"Kau kira segampang itu poligami? kemana pikiranmu?! Apa uda ketutup sama ambisimu itu?!" Sepertinya Abi kali ini sangat marah sehingga tidak ada lagi kata - kata lembut yang terlontarkan.
"Ayolah mas, banyakkan diluaran sana suaminya nikah siri sama yang lain tapi utamanya tetap sama istri pertama? Mas jangan marah-marah, kita lagi mencari solusi mas." Sambil memegang tangan Abi dan mengelusnya agar amarah Abi mereda.
"Kau bilang itu solusi? Apa pernah kau pikirkan saat seseorang saling bersama akan tumbuh cinta dan saat seseorang terkikis jarak rasa cinta bisa memudar?" Abi menepis tangan Fanny dan lamgsung beranjak pergi meninggalkan Fanny sendiri di meja makan.
Fanny hanya bisa terdiam, kata - kata Abi mengganggu pikirannya dan ia mulai goyah tapi sebegitu mudahnya ditepisnya.
"Bukannya mas abi sangat mencintaiku? tidak mungkinkan dia bisa semudah itu tidak mencintaiku? Aku harus cari solusi lagi agar Abi menerima tanpa batahan." Fanny tetap dengan kerasnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mama..!!"
"Kenapa Aif? pulang sekolah tuh salam dulu baru bicara? Ini jerit-jerit dari luar? Kirai tar ada apa-apa."
"He..he.., Assalamualaikum mama chantik.." Ucap Aif sambil mencium pipi mamanya.
"Waalaikumsalam cantik mama juga, loh kakak Saf mana?"
"Nak itu dia ma, kakak tiba - tiba diajak sama bunda ngajinya ikut lomba baca Alquran ma, di Mall Center point jadi tadi kata kakak, kita harus kesana ma. Ayo ma, tar ketinggalan lihat kakak baca alquran." Aifpun sambil menggoyang - goyang kan lengan Zia.
"Baiklah, tapi Aif ganti baju dulu. Mama sekalian keluar antar orderan kue komplek sebelah dulu."
" Sip ma." Aifpun segera berlari menuju kamarnya. Ia tidak sabar melihat kakaknya. Kan bisa sekalian menyelam minum air.. "Lihat kakak bisa sambil keliling Mall, asik banget." gumam Aif
Merekapun dengan segera pergi ke Mall setelah mengantarkan pesanan customer Zia.
"Ma..!! Itu kakak!!." Heboh Aif
"Cantik gini dibilang toak mesjid." Sungut Aif sambil berlari menuju kakaknya dengan tidak sabaran meninggalkan Zia sendiri dibelakang.
"Aduh maaf."
"Astaghfirullah,Eh, gak apa-apa mba namnya gak sengaja." lengan Zia kesenggol seorang wanita yang berjalan sambil memegang handphonnya tanpa melihat jalan.
"Bunbun." Ziapun mencari suara anak kecil yang memanggilnya.
"Wah ada Icha, Assalamualaikum icha." Sapa Zia tanpa melirik ke samping Icha yang tangannya sedang digandeng papanya.
"Waakhaiumakham bunbun, aak ana bun.?"
"Itu pada duduk disana, kakak Saf ada lomba mengaji hari ini." Interaksi mereka tidak luput dari perhatian Abi dan Fanny.
__ADS_1
"Siapa wanita ini?" Batin Fanny
"Mama au ikhat aak aik." Kata-kata Icha menyedarkan Zia dengan wanita yang menabraknya tadi.
"Mba mamanya Icha ya?."
"Eh iya, saya mama icha, kamu kenal anak saya? Kok kelihatannya dekat banget? Kenalkan nama saya Fanny Aulia dan Ini suami saya Abi Zidan." Sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Zia Zahra mba, panggil aja Zia. Saya uda kenal mba." Zia membalas uluran tangan Fanny dengan senyuman dan mengatupkan kedua tangannya didada kepada Abi.
"Kok bisa?"
"Itu..."
"Ma..!!! Kakak Saf mau tampil cepet sini.!!!" Teriak Aif.
"Maaf mba saya mau lihat anak saya dulu, permisi. assalamualaikum."
"Waalaikumsalam" Jawab Abi karena Fanny masih diam dengan banyak pertanyaan yang belum tuntas.
Pegangan tangan Abi dengan Icha tiba - tiba dilepas oleh icha, dengan langkah kecilnya dia berlari ingin menyusul Zia dan Kakak - kakaknya.
"Aak Aif!!." Teriak icha memanggil kakaknya. Aif melambaikan tangannya dan menyuruh icha ke tempatnya.
"Sepertinya ada yang gak aku tahu mas."
"Gimana kamu mau tahu. kamu sibuk mengurus dirimu sendiri dan ambisimu itu.," Sahut Abi sambil menyusul icha dan membiarkan Fanny masih berdiri disana.
"Aku harus cari tahu.." Fannypun melangkah menyusul mereka. Tujuan utamanya adalah Zia. Dia mau tanya semua ke Zia...
#sabar ya abi...#
#abizia#
__ADS_1
#like,comment and vote dears#