
Happy reading
🍇🍇🍇
Zia termenung dikamarnya melihat tespack yang menandakan kalau ia sedang hamil. Hatinya menyirat kebahagiaan tapi ada kerikil kesedihan yang bercokol disana juga.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus bilang ke bang Abi? Tapi kalau bang Abi dan mba Fanny tahu, aku takut perasaan mba Fanny sedih karena sudah pasti abang akan makin berlebihan menunjukkan perasaanya ."
Zia masih bergulat dengab pikirannya yang bertentangan dengan kata hatinya.
"Tapi apa baik kalau aku menyembunyikan ini dulu? Sampai semua sudah terlihat damai? Tapi sampai kapan?"
Zia menggenggam tespacknya dan beranjak dari duduknya, ia menyimpan testpack itu dilaci meja nakasnya.
"Iya,, lebih baik aku menunda mengatakannya, mba Fanny baru pulang, aku gak mau menyita waktu dan perhatian mas Abi karena ini. Yang kuat di rahim mama ya sayang, maaf mama belum bisa memberitahukanmu ke papa. Tapi pasti ada hari papa tahu kamu ada didalam sini yang sedang menanti perhatian dan kasih sayangnya." Zia mengekus perutnya dan tersenyum dengan mengatakan apapun yang menjadi kegundahannya.
Tok..tok...
"Zia..."
"Mba Fanny?"
__ADS_1
Zia dengan segera membuka pintu kamar yang ia kunci radi agar tidak ada yang bisa masuk dengan tiba - tiba.
"Sudah pulang mba?" Zia hampir kehilangan keseimbangan pijakannya saat Fanny memeluknya dengan erat tanpa Zia bisa mempersiapkan tubuhnya.
"Maafkan sikap mba selama ini ke Zia ya.." Ucap Fanny dengan tulus..
"Mba gak ada salah, Zia juga gak merasa ada mba sakitin. Duduk dulu ayo mba." Tawar Zia yang sudah tidak merasakan Fanny memeluknya.
"Mba kenapa? Mba baik - baik saja kan?" Zia melihat wajah Fanny yang banyak menyiratkan kesedihan.
"Perasaan aku yang sakit Zia..Semua yang aku lakukan salah dan siapa yang bisa aku salahkan selain diriku sendiri yang menanggung semua akibatnya...." Fanny mulai meneteskan air matanya, Zia menggenggam tangan Fanny memberi kekuatan pada jiwa yang sedang rapuh.
"A..aku mengira dulu mamaku diselingkuhin karena mama orang yang rendah hingga aku mencoba menyuruh mas Abi menikah lagi untuk menunjukkan kalau istri pertama tidak akan kalah dengan yang kedua karena sudah berpindidikan dan memiliki jabatan tapi kenyataannya mamakulah yang kedua, yang disakitin oleh istri pertama." Zia mencoba menetralisir keterkejutannya saat menerima kenyataan bahwa sebenarnya Fanny menginginkan ia merasakan sakit diabaikan suami karena statusnya istri kedua.
"Aku meyakinkan kalau cinta mas Abi hanya untukku hingga aku dengan sangat percaya dirinya membiarkan ia menikah lagi tapi kesalahan berulang kali aku lakukan...Aku tidak ada lagi melihat cinta dimatanya Zia...
Dan aku juga tahu apa yang dilakukan mas Abi pagi tadi bersamamu.." Zia terlihat gugup dan merasa bersalah pada Fanny karena melanggar perjanjian yang telah mereka sepakatin.
"Mba..."
"Sakit Zia,,,rasanya sakit melihat suami bermesraan dengan wanita lain walau aku tahu kau juga berhak atas mas Abi, A..aku bisa melihat bagaimana ia memperhatikanmu dan memberikan perhatiannya padamu dari balik pintu kamarku saat aku ingin turun menghampiri mas Abi menagih janji yang ia katakan tapi nyatanya ia tidak melakukannya denganku tapi denganmu...Ingin rasanya aku berlari menghampiri kalian dan berteriak sekuat mungkin,, kenapa mas lakukan semua ini padaku?! Dimana kata adil itu?! Tapi nyatanya kakiku lemah dan tidak bertenaga untuk melampiaskan rasa sakit saat itu juga. Aku memilih menutup pintu dan menangis meratapin segala penyesalanku" Isakan Fanny memilukan hati Zia. Zia memeluk Fanny dan mengelus punggung Fanny yang sedang terisak dalam tangisnya..
__ADS_1
"Maafkan Zia mba..Maaf. Zia gak ada maksud menyakitin hati mba Fanny..Maaf mba..maaf" Hanya itu yang bisa Zia kata dengan derai air mata yang tidak kalah deras dengan Fanny ikut merasakan bagaimana rasa sakit saat itu terjadi padanya. Zia tidak bisa mengulang waktu agar ia bisa menahan rasa saat bersama Abi hingga membuat Fanny jadi terluka, ia hanya busa mengutuk kebodohannya yang terlalu terikut dengan hawa nafshu.
"Gak Zia,,kamu gak salah..yang salah aku... Aku yang terlalu serakah, aku ya g terlalu ambisi, aku yang terlalu pendendam dan aku yang terlalu percaya diri kalau cinta itu hanya ada untukku."
"Apakah aku masih bisa memperbaiki hubunganku dengan mas Abi Zia? Apa aku masih bisa mendapatkan cinta mas Abi walau hanya sedikit? Aku gak bisa hidup tanpanya Zia,, Sekarang aku tahu akulah yang terlalu mencintainya..." Tangis Fanny makin kuat didalam rengkuhan Zia, Zia bisa merasakan baju bagian bahunya basah dengan air mata.
"Bisa mba,,mba pasti bisa..."
"Haruskah aku mengalah?" Batin Zia
"Bagaimana caranya? aku sudah merasakan kalau udah tidak ada aku lagi disana Zia, semua hanya sekedar rasa simpati dan tanggung jawab."
Zia melerai pelukan mereka, memandang wajah Fanny yang sudah terlihat sangat sembab.
"Dengerin Zia mba,, Zia akan keluar dari rumah ini. Zia akan pergi kesuatu tempat sementara waktu agar mba Fanny dan bang Abi memiliki banyak waktu untuk berdua. Tapi berjanjilah dengan Zia mba, berusahalah mengambil hati bang Abi kembali dan berdamaiah dengan keadaan saat hati bang Abi sudah ada mba kembali. Zia yakin kita bertiga pasti bisa menghadapinnya mba." Zia mengambil keputusan untuk memberi waktu kepada Fanny dan Abi berdua, biarlah ia menyisih sejenak..
"Tapi mas Abi pasti gak setuju Zia, dia pasti akan marah."
"Biarlah marah mas Abi Zia yang nanggung nanti mba. Tugas mba menenangkan hati abang dan meyakinkan kalau nama mba tetap ada di hati bang Abi." Zia berusaha meyakinkan Fanny,
"Maafkan Aku bang...sayang,mama mungkin butuh waktu agak lama untuk papa tahu adanya kamu..maafkan mama."
__ADS_1
#Zia...kamu mau kemana?#
#Bantu like comment and vote dears#