
Happy reading
🍇🍇🍇
Tiada yang bisa menghentikan waktu atau memanggilnya agar kembali dan berhenti sejenak, Waktu begitu sombong dan angkuh, dia tidak akan pernah menyapamu, menanyakan inginmu ataupun berhenti untuk mendengar keluh kesah hatimu, ia terus berdetak dan menghiraukan sekelilingnya....
Abi benar - benar meluangkan waktunya untuk ke sekolah Saf dan Aif sesuai janjinya kemarin.
Ia melirik kesamping kirinya dimana Zia sedang duduk memangku Icha dan mereka sedang bersenda gurau bersama sedangkan ia masih fokus mengemudi karena jalanan yang cukup padat.
"Kok papa dicuekin sendiri sih?" Abi pura - pura merajuk ke Icha dengan memasang wajah sedihnya.
"Papa jhanan banak bicaya, lihat deppan anti tablakan." Icha berusaha mengeja kata dengan benar karena ia sudah merasa jadi kakak - kakak.
"Tapi kan papa juga mau ikut cerita."
"Ndak bolleh, ini lahasia pelempuan. Iya kan bun?" Zia hanya menganggukin kepalanya dan tertawa geli.
"Jadi papa gak boleh ikutan ni?"
"Cup..cupp papa thangan sheudih, Icha nanti celita chama papa kok." Icha membujuk Abi yang menurutnya sudah ingin menangis karena ia cuekin.
"Pinter banget anak bunbun uda jadi kakak - kakak mau sekolah."Puji Zia
"Iya dong, Icha hakhus pintekh biakh bicha ayak kak Saf. Ichakan mau thadi kaka jhuga bun. Dede bayi..apan teluakh, biakh bicha main ama kakak Icha?" Icha mengelus perut Zia yang tidak sabar untuk melihat ada adiknya disana.
"Adek machih malu chama kakak Icha, Dedek juga machih takut mau keluar"
"Jhanan mayu - mayu dek bayi, kakak Icha bayik kok, ndak chuka didit-didit ayak dlakukha dadi thangan takyut."
"Makanya Icha berdoa sama Allah, kan kalau kita ingin sesuatu harus mintanya ke Allah,Doa anak sholleh pasti dikabulin Allah."
"Bunbun, Icha anak sholleh nanti Cholat Icha doa yang banak cheukalli."
"Iya sayang..Tuh lihat kita uda sampia kesekolah kaka Saf dan Aif"
Abi mencari tempat parkir yang masih lenggang. Terlihat sudah disana kerumunan orang tua yang sedang menunggu kepala sekolah yang sedang diatas podium memanggil siswa yang berprestasi.
Hati Zia sangat mengharu biru karena Saf mendapatkan Juara satu lagi, sedangkan Aif yang akan masuk Sd masuk katagori Anak terpintar dan teraktif.
Zia tidak pernah memaksa anaknya mengejar nilai ataupun rangking walau itu sebuah kebanggaan tersendiri. Zia hanya ingin anaknya mengerti apa yang mereka pelajari dan ilmu yang mereka dapat bisa bermanfaat suatu saat nanti.
Saf dan Aif langsung turun dari podium setelah menerima sertifikat penghargaan mereka. Mereka berlari bahagia menghampiri keluarga mereka.
"Selamat ya sayang - sayang mama, semoga ilmunya berkah."
"Selamat atas prestasinya anak - anak papa. Papa bangga melihat anak papa bisa mempertahankan prestasinya. Seperti yang papa janjii hari ini papa akan ikutin dan belikan semua yang di mau sama Saf dan Aif." Wajah mereka berdua berbinar cerah tanpa ingin menunda mereka mengangguk setuju.
" Makasih papa dan mama,ll sayang mama papa." Ucapa Saf dan Aif sambil berlompat kegirangan.
__ADS_1
"Kakak ndak chayang Icha thuga?"
"Sayang Icha sheukalli," Ucap Saf sambil mencium pipi Icha hingga kegelian.
"Tapi kita daftarin Icha ke sekolah prescholl dulu ya?"
"Wah, adik kakak mau sekollah." Aif senang adiknya sudah akan sekolah juga.
"Iya dong, Icha kan uda besakh, mau pintekh thuga ayak kakak." Saf dan Aif memberikan dua jempol mereka ke Icha.
"Jadi mau kemana dulu kita?" Tanya Abi.
Saf dan Aif tampak berbisik merencanakan apa yang akan mereka lakukan.
"Kita mau ke toko mainan dulu pa, lalu toko buka lalu beli cemilan."
"Oke.. ayo kite berangkat."
Zia hanya diam menurutin apa yang akan dilakukan anaknya.Sebelum itu Abi mendaftar sekolah Icha di sekolah yang sama dengan Saf dan Aif.
Abi menurutin permintaan anak - anaknya walau ia bingung buat apa barang dan makanan sebanyak ini? Ditambah lagi Saf minta dipesankan lima puluh kotak nasi. Abi bukannya pelit tapi kalau mubazir kan sayang.
"Buat apa semua ini Saf sayang?" Tanya Abi ke Saf.
"Itu pa, disana.." Tunjuk Saf ke Abi tanpa menjawab pertanyaan Abi karena tempat yang mereka tuju sudah sampai.
Abi terpaku melihat bangunan didepannya, sebuah rumah panti asuhan yang terlihat tidak terurus dengan banyak anak kecil didalamnya.
Abi diam menatap Saf, bagaimana anak seperti mereka bisa berpikir sangat bijak. Mereka membeli semua ini bukan untuk mereka. Sungguh ia sangat malu dan merasa kalah telak dengan Farhan yang dulu bisa memiliki Zia dan anak seperti Saf dan Aif yang begitu tulus hatinya.
"Jadi untuk kalian apa?"
"Kami gak mau apa apa pa, semua sudah kami dapatkan terutama kasih sayang dari kedua orang tua kami." Jawab Saf lagi yang dianggukin Aif.
Abi bersyukur dilimpahkan anak - anak seperti mereka. Haruskan Abi berterima kash ke Farhan yang sudah menitipkan Zia dan anaknya kepada Abi?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari sudah terlelap dalam gelap malam, Fanny terlihat gelisah ditempat tidurnya, ia bingung akan menghubungi Abi sekarang atau nanti saja seperti yang ia rencanakan. Tapi hatinya sungguh tidak sabar untuk bertegur sapa kembali dengan suaminya. Rasa rindu makin melanda disaat hari - hari tidak mendengar suara suaminya lagi.
Fanny uring - uringan seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta ingin menghubungi kekasihnya.
"Telpon sekarang aja kali ya, aku udah kangen banget sama mas Abi."
Fanny mengambil handphonenya tapi ia letakkan kembali.
"Atau nanti saja ya? Biar makin terasa kangennya... Tapi aku sekarang udah kangen bangetttt."
Fanny akhirnya memilih menghubungi Abi..Panggilan pertama Abi tidak mengangkat telponnya. Fanny mencoba menelpon kembali...
__ADS_1
"Kemana sih mas Abi, kok gak diangkat?"
Zia yang sedang menyisir rambutnya terganggu dengan panggilan handphone Abi. Ia bingung harus ia angkat atau tidak. Zia memilih membiarkan saja, kalau penting pasti menelpon lagi. Abi masih membersihkan dirinya sekarang dikamar mandi setelah seharian menurutin semua kemauan anak - anaknya.
"Bang,,"
"Iya dek.."
"Handphone abang berbunyi terus itu.."
"Udah angkat aja dulu bilang abang sedang mandi."
Zia melangkahkan kakinya ke nakas dimana handphone Abi terus berdering.
"Mba Fanny?" Dengan ragu Zia mengangkat telpon Dari Fanny.
"Halo assalamualaikum."
Fanny yang diujung sana tubuhnya terasa membeku dengan jantung yang sesaat berhenti berdetak kemudian kembali berdetak dengan ritme kencang tanpa jeda.
"Halo, mba Fanny? Ini Zia..Gimana kabarnya mba?" Zia masih mencoba berbicara dengan orang yang terhubung disana tapi tetap tidak ada sahutan.
"Halo mba,,, mba dengar Zia kan.. mba mau bicara sama.mas Abi ya? Mas abi lagi mandi mungkin lima menit lagi selesai. Halo mba.." Zia masih mencoba berbicara karena layar handphone belum menunjukkan panggilan terputus.
"Baiklah.." Satu jawaban yang Zia dengar dan panggilan langsung terputus.
Zia bingung kenapa dengan mba Fanny? Apa dia ada salah bicara?
"Siapa yang nelpon dek?"
"Mba Fanny bang, coba abang hubungin lagi." Abi cukup terkejut Fanny sudah mau menghubunginnya. Abi mencoba menelpon Fanny berulang kali tapi tidak diangkat.
"Selalu sesuka hatinya." Batin Abi.
"Kenapa bang?"
"Mungkin Fanny udah tidur. Ayo kita istirahat, abang capek banget."
Abi dan Zia mulai merebahkan diri dikasur menyelami mimpi yang sudah menanti.
Berbeda dengan Fanny disana. Air matanya menetes tanpa dipinta. Ia lupa jika Abi sudah memiliki istri yang lain..
"Kenapa aku bisa melupakan itu? Kenapa aku bisa lupa jika mas Abi sudah bukan milikku sendiri."
Fanny lupa sekarang Abi disana sudah ada yang menemani, tapi bukankah cinta Abi untuknya? Bolehkah ia meminta Zia mengalah, saat ia sudah selesai dengan semua yang ingin ia lakukan. Ia ingin meminta cinta Abi kembali hanya untuk dia sepenuhnya.
Fanny tidak bisa memajamkan matanya, menerawang apa saja yang sudah dilakukan Abi bersama Zia..
"Sudah seberapa dekat kalian disana?" Hanya tetesan air mata dan sesugukan kecil yang setia menemani Fanny di malam yang enggan melihatkan keindahannya.
__ADS_1
#Sakit hatinya fanny...#
#Bantu like, comment and vote dears#