
Zia pulang dengan anaknya dengan hati yang campur aduk, ia tidak mengira akan bertemu dengan wanita seambisius itu yang merelakan suaminya dengan wanita lain demi tujuannya.
Sepertinya dia mulai elergi berdekatan dengan keluarga Abi. Jangan sampai dia bertemu lagi, kayak gini aja uda digosipin calon bibit pelakor. Gimana kalau tahu ada wanita yang mau jadii dia kedua? Ntah julukan apa lagi yang ia dapat.
"Semoga aku gak pernah ketemu lagi dengan mereka, jauh - jauh, pergi kalian jauh - jauh." Zia sibuk berkata - kata sendiri sambil ingin masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum." Aif masuk duluan ke dalam rumah mengucapkan salam
"Waalaikumsalam." Jawab Zia
"Mama kenapa sih kayaknya dari tadi ngedumel terus. Siapa yang harus pergi jauh-jauh ma? kayak setan aja yang mau mama usir" Saf dari tadi dijalan bingung melihat mamanya bicara sendiri seperti menahan kesal.
"Bukan apa-apa hanya orang gila yang mau mama jauhin."
Saf hanya diam aja karena memang dia gak ngerti apa yang mamanya maksud, Saf mengajak Aif untuk membersihkan diri dan mengerjakan pekerjaan rumah sebelum tidur karena waktu sudah memasuki malam.
Ziapun ke dapur untuk memasak makan malam untuk mereka, rencana memanfaatkan waktu selama masih di Mallpun tidak jadi, mood Zia ambyar karena Fanny.
"Besok - besok jika bertemu lagi aku harus pura - pura tidak kenal dengan mereka." Tekad Zia
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas! mas sangat keterlaluan meninggalkan aku bgitu saja di sana ! "
Kini Fanny sedang berkabut marah karena Abi meninggalkannya begitu saja sendiri disana.
__ADS_1
"Kau yang baru sekali di tinggal saja sudah mengamuk marah - marah, Gimana aku dan icha yang selalu kau tinggal pergi, Hah?!" Bentak Abi
Icha sudah diungsikan ke kamarnya karena Abi tahu dia dan Fanny pasti akan bertengkar lagi.
"Itu beda mas! Berapa kali aku bilang aku kerja ! Tapi tadi, kau begitu saja meninggalkanku yang sedang menerima telpon dari atasan, padahal tadi aku sedang bertanya dengan mu dan kita belum selesai bicara!"
"Apa kau bilang?! bertanya?! Pertanyaan mana?! Gimana kalau aku menikahi Zia?! Itu bukan pertanyaan tapi kemauanmu !!" tunjuk Abi tepat didepan wajah Fanny dengan muka yang sudah merah padam.
"Kapan mas akan mengerti aku?! Mana janjimu sebelum nikah dulu untuk membiarkan aku berkarir?! Mana?!" Fanny bukannya takut tapi makin melawan Abi.
"Apa aku pernah ngelarang kerja?! gakkan?! Tapi kau sudah keterlaluan Fanny ! Karena kerja kau melupakan kewajibanmu sebagai istri dan ibu !."
"Mas kira aku apa?! Pembantu dan pengasuh gitu?! Jadi apa gunanya orang yang kerja disini?!"
"Huft...Baru kali ini aku lihat mas Abi seemosi itu tapi biarlah yang penting dia uda setuju. Besok tinggal bilang rencana mau seleksi manager pasti mas Abi senang tahu ini dan mendukungku. Apalagi seleksi dipercepat tiga hari lagi, aku tidak boleh menunda untuk memberitahu mas abi."
Fanny menuju kamarnya dengan perasaan lega, dia ingin melayani Abi malam ini tanda mereka sudah berbaikan. Sungguh tidak menyenangkan hari - hari dimulai dengan pertengkaran terus menerus.
Sedangkan abi sedang terpaku diruang kerjanya, ia bersandar di balik pintu ruang kerjanya sambil memijat keningnha yang sudah merasa pusing dan berat.
"Apa yang sudah aku katakan? Apa aku sanggup untuk poligami? Kenapa sekarang menjadi rumit begini?"
Setelah bisa menenangkan dirinya dan fikirannya juga sudah dingin Abi kembali kamar utamanya, ia langsung bergegas ke kamar mandi tanpa menoleh ke Fanny yang sedang berias di meja riasnya.
"Apa yang kamu lakukan Fanny?" Tanya Abi yang baru saja keluar dari kamar mandi sudah disuguhkan dengan kemolekan tubuh istrinya dibalik pakaian yang sangat tipis.
__ADS_1
"Apa mas gak kangen aku?" Sambil menggunakan jari telunjukknya menggoda tubuh Abi yang hanya dibalut handuk dibagian pinggang.
"Ssttt..." Abipun mendesis.
Siapa yang tidak kangen? Abi lelaki normal sudah lama tidak mendapatkan haknya dan ia juga sedang pusing membutuhkan pelepasan agar sedikit tenang.
Tanpa di jawab Abi sudah menggendong Fanny seperti koala dan membaringkannya di kasur tanpa permisi Abi segera menuntaskan segala yang telah memuncak.
"Makasih mas sudah mengabulkan inginku, semoga setelah ini kita tidak akan ada pertikaian lagi antara kita." Ucap Fanny dan segera membenarkan posisi tidurnya dipelukan Abi. Yang tidak di jawab oleh Abi.
"Dengan begini aku bisa tetap meraih impianku tidak apa berbagi yang penting hati abi milikku, lagian aku tahu wanita seperti apa yang abi suka jadi tidak mungkin dia jatuh hati dengan Zia...walau nanti Abi melakukan hubungan dengan Zia,itu wajarkan? laki - laki butuh itu dan bisa melakukannya tanpa cinta dari pada saat aku jauh dia bermain diluar."
Sebenarnya ada rasa tercubit di hati Fanny membayangman suaminya tidur dengan wanita lain tapi ini solusi terbaik untuknya dan suaminya. Bukankah untuk mendapatkan sesuatu kita memang butuh pengorbanan?
Abi mengesampingkan tubuhnya melihat Fanny yang sudah terbuai di alam mimpinya, dielusnya dengan sayang wajah istrinya..
"Apakah ini yang terbaik buat kita? Apakah kau bahagia jika ada seseorang yang masuk dalam rumah tangga kita? Apakah aku bisa adil? Jujur aku takut menyakito hatimu suatu saat nanti." Ucap Abi dengan pelan takut membangunkan Fanny.
Abi kembali merebahkan tubuhnya memandang atap kamarnya sambil tangan kanannya ditekuk menindih kepala.
"Apakah dia mau menerimaku..."
#terima gak terima gak ya#
#bantu like,comment and vote ya dears#
__ADS_1