Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Mengikuti alurnya...


__ADS_3

Katakanlah Abi lemah tapi lemah bukan berarti menyerah, ia mencoba menerima segala keadaan yang ia terima demi kesembuhan istrinya...


Tidak terasa sudah dua bulan Fanny lulus dari tes seleksinya dan ia sepertinya sangat nyaman dengan pekerjaannya sekarang emosionalnya juga terkendali.


Tapi masih banyak yang mengganjal di hati Abi termasuk nama yang pernah disebut Dena, Bagas Surya...Kenapa nama itu muncul lagi setelah lama menghilang?


Abi ingin menyelesaikan satu-satu masalahnya termasuk hari pernikahannya dengan Zia yang tinggal menghitung hari.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Zia menyerngitkan dahinya melihat seseorang yang datang kerumahnya subuh hari, matahari saja masih malu-malu membuka selimutnya...


"Fanny?"


"Boleh aku masuk?"


"Silahkan..kok sendiri? Gak kerja?"


"Aku ambil cuti seminggu biar bisa lihat acara akad nanti."


"Oh..Gimana kabarmu?


"Baik,, Zia maafkan sikapku belakangan ini kepadamu.. Aku ikhlas menjadikan mu maduku."


"Kamu gak salah kok... terkadang kita hanya melewati batas tapi jangan lupa untuk kembali ke jalan hingga tidak tersesat."


"Kamu mau kan nanti berbagi segalanya bersamaku? Mungkin nanti ada saatnya kita saling iri, kita selisih paham, kita saling berebut kasih sayang tapi mau kan kita melalukannya layaknya kakak adik yang setelah pertengkaran akan berbaikan lagi?"


"Iya Fanny, aku mau... kalau gitu bolehkan aku memanggilmu dengan mba? Aku ingin kamu menjadi kakakku." Fanny menganggukkan kepalanya dan mereka saling berpelukan.


"Bolehkah aku bercerita sesuatu?"

__ADS_1


"Apapun ceritakan saja mba, Aku juga mau kita saling berbagi cerita..."


"Ada seorang wanita sederhana mengharapkan cinta yang besar dari seorang lelaki, Dia merasa sudah mendapatkannya disaat lelaki itu menerima dirinya apa adanya padahal lelaki itu kaya,,,,


Wanita itu berpikir dengan menikah mengurus rumah tangganya ia bakal bahagia tapi nyatanya mertuanya selalu menyalahkan setiap apa yang dilakukannya, hingga saat dia hamil...Mamanya membawa anak temannya kerumah.. Awal semua terlihat biasa hingga tiba-tiba lelaki yang ia harap bisa menjaga dan melindungi cintanya meminta izin menikah lagi karena sudah menghamili anak teman mamanya...Apa yang bisa ia perbuat? Ia lemah dan hanya bisa mengiyakan. Ia selalu mencoba terlihat bahagia walau ia terluka dan menangis di dalam persembunyian.


Semua terlihat berbeda perlakuannya ia seperti layaknya pembantu dan istrinya yang baru layaknya permaisuri...Mertuanya pernah mengatakan padanya bahwa ia tidak layak untuk anaknya, tidak bekerja, tidak punya gelar, bahkan tidak ada yang bisa dibanggakan hingga malu untuk diperkenalkan.


"Semua makin parah disaat ia melahirkan anak perpempuan sedangkan yang baru melahirkan anak lelaki pewarisss...


Setiap waktu ia selalu di tekan, dicemooh tapi suaminya tidak peduli, anaknya tidak mendapatkan kasih sayang bahkan dari ayahnya...


Tidak terasa anak itu sudah berumur tujuh tahun sudah bisa merekam dan mengerti segala yang terjadi disana..


"Apakah kau tahu Zia?


Anak itu selalu makan dia sudut ruang dapur bersama ibunya,, Ibunya selalu berkata Bertahanlah nak, kau jangan seperti ibu, kau harus jadi orang yang berhasil nak, jangan mau orang merendahkanmu, kau harus tunjukin ke mereka semua kalau kau bisa berhasil, kau berhak bahagia. Kata- kata itu selalu terus berulang dikatakan ibunya sambil menangis dan menyuapkan nasi kemulut anaknya.


Anak itu masih berharap bisa selalu bersama ibunya hingga suatu hari suatu kejadian menimpa ibunya...


Gu..Gudang itu.." Tiba- tiba Fanny mulai nangis terisak, ia mencari obat seperti permen yang diberikan Dena dan langsung dihisapnya..


Zia yang melihatnya langsung memeluk Fanny memberikan kekuatan..


"Kalau tidak sanggup jangan cerita lagi mba.." Zia ikut menangis merasakan perih dihatinya bagaimana jika ia disana..


"Aku masih mau cerita Zia.." Fanny bersandar dibahu Zia dan Zia merangkulnya dengan erat.


Gudang itu dijaga dua bodyguard,, entah bagaimana anak itu melihat bodyguard itu mabuk dan mendatangi ibunya, secara kasar Ibunya diperkosssa didepan mata kepalanya...


Kau tahu Zia bagaimana rasanya saat melihat ibunya menjerit kesakitan, berteriak minta tolong hingga meminta ampun tapi satupun tidak ada yang menolongnya...Anaknya hanya bisa menangis sambil membekap mulutnya di pojok gudang berjongkok membenamkan kepalanya sambil memeluk boneka yang menutup sebelah telinganya hingga ingin menulikan telinganya yang tidak tega mendengar rintihan jeritan ibunya."

__ADS_1


Saat pagi hari ia pikir keselamatan akan datang persis seperti gelap yang telah pergi karena cahaya, suami yang tahu istrinya dilecehkan bukan menolong tapi merasa jijik dan memerintahkan sopirnya membawa ibu dan anak itu pergi jauh di desa terpencil yang tidak banyak penghuninya...


Anak itu dengan setia mengurus ibunya yang sudah gila karena kejadian itu...Anak itu selalu di bully,dicemooh dan tidak ada yang mau menemaninya...


Untuk makanpun ia rela pergi ke penampungan sampah untuk mencari makanan sisa...


hingga ia bertemu dengan seseorang yang baik dan ingin mengasuhnya,membawanya kepanti asuhan, ia bahagia masih ada yang peduli dengannya tapi ia sedih harus berpisah dengan ibunya yang dibawa ke RS jiwa..."


Dimanapun yang menjadi temannya hanyalah sebuah boneka yang selalu menurut padanya dan hanya diam apapun yang selalu ia lakukan, boneka yang selalu ia bawa kemanapun tapi membawa segala kebencian.


Sejak itu Ia bertekad harus menjadi orang yang lebih baik, yang dihormatin dan membuat siapapun tunduk kepadanya..."


"Kasihkan ibu dan anak itu Zia? Aku selalu menangis jika ingat itu.."


"Bagaimana keadaan anak itu sekarang, ia masih berjuang mati-matian demi untuk ibunya"


"Apakah dia egois Zia?" Zia menggelengkan kepalanya menangis.


"Apakah mudah baginya melupakan luka yang sudah menggores bahkan membekas timbul dihatinya?" Zia menggeleng lagi dengan air mata yang tak henti keluar..


" Hikss..Aku juga berpikir seperti itu..Mungkinkah ia suatu saat bisa melupakannya dan hidup bahagia?"


Zia memeluk erat tubuh Fanny menangis terseduh disana, Zia tidak sanggup merasakan derita itu.


"Bi..bisa Mba,, anak itu suatu saat pasti bisa bahagia mba, pasti bisa. semua yang dilaluinya akan menjadi hikmah terindah dalam hidupnya suatu saat nanti." Tangis keduanya pecah sambil berpeluk erat...


"Makasih sudah mendengarkan ceritaku... itu cerita seseorang yang memjliki nasib yang tidak pernah berpihak kepadanya,berbedan denganku, aku bahagia karena nasib selalu mengikuti alurku"


"Aku balik dulu ya..Mau ke kantor bentar, ada beberapa yang harus dselesei disana." Ucap Fanny sambil mengbapus air matanya.


"Ia mba, hati-hati dijalan ya mba..assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


"Aku tahu sekarang mba...apa sebab semuanya,, aku akan hadirkan bahagia itu walau suatu saat aku harus mengalah..."


__ADS_2