
Happy reading
🍇🍇🍇
Icha masih setia mengucek - ngucek matanya bersamaan dengan kuapan yang melebar dari bibir kecilnya,nyawanya masih belum terkumpul semua hanya gumaman - gumaman kecil sisa kantuk masih ia kicaukan.
"Icha sayang, kalau nguap mulutnya jangan lupa ditutup nanti setan bisa masuk." Zia mengingatkan Icha untuk menutup mulutnya walau belum ada kata - kata yang keluar lagi dari bibir Icha.
Walau Icha belum menyahut tapi kata - kata Zia segera ia turutin, Bibirnya ia tutupin dengan tangan mungilnya mencoba menutup mulut kecilnya yang terbuka lebar tidak seberapa itu....
"Icha, ini mama sayang..pangku mama sini biar sekalian buka jilbabnya itu lagi panas harinya nanti gerah."
Icha membuka matanya lebar,.pandangannya fokus ke Fanny. Icha mencoba membenarkan duduknya yang sekarang tertidur dipangkuan Abi dengan berbantal tangan Abi..
"Mama..."
"Iya sini duduk sama mama." Jawab Fanny dengan lembut.
Icha menundukkan kepalanya sambil menggeleng pelan tidak berani menatap Fanny, kedua tangan kecilnya memegang hijab yang bertengger dikepalanya seakan mengatakan tidak ada yang boleh melepaskan itu dari kepalanya.
"Kenapa gerah ya? Mama bantu lepaskan ya?" Fanny menyalah artikan gerak - gerik Icha yang ia kira anaknya berusaha melepaskan hijabnya dan kesulitan melakukan sendiri.
Icha menggelengkan kepalanya lagi dan sedikit melirik Fanny lalu menunduk lagi, membenamkan kepalanya ke dada Abi sambil berusaha memeluk Abi dengan rentang tangannya yang hanya bisa memeluk setengah tubuh Abi.
__ADS_1
"Gak mau,, Icha gak mau masuk nekhaka, gak mau papa jugha mashuk nekhaka, panashan nekhaka dakhi pada dishini."
Fanny mengerutkan dahinya hingga alisnya terlihat hampir bersatu.
"Icha gak mau lepas hijabnya mba Fanny." Zia mencoba menjelaskan.
"Padahal mama mau lihat rambut Icha yang cantik kayak prinncess itu loh." Fanny berusaha membujuk Icha, ia tidak memperdulikan perkataan Zia. Fanny merasa kasihan melihat anak sekecil ini memakai hijab, dimana udara panas menyeruak hingga orang dewasa saja tidak bisa menahan rasa gerah yang mencongkol badannya,bagaimana dengan anak sekecil Icha?
Icha menggelengkan kepalanya lagi dan tambah mempereat pelukannya ke Abi.
"Jangan memaksakan kehendakmu Fanny kalau Icha tidak mau." Abi akhirnya angkat bicara melihat keadaan yang sudah tidak nyaman, apalagi wajah Saf dan Aif yang terlihat bingung dengan pandangan didepannya. Ia tidak mau mereka menyalah artikan maksud Fanny.
"Terserah mas aja, apa mas gak kasian masih kecil dipaksa pakek jilbab, lihat tuh keningnya aja udah berkeringat tandanya ia gerah dan gak nyaman." Fanny memutar bola matanya jengah melihat anaknya tidak mau menurutinnya.
"Kalau Icha gak mau nurut sama mama ya udah, mama nanti gak mau sayang sama Icha lagi." Fanny mencoba pura - pura merajuk didekat anaknya agar Icha menurutinnya.
Abi terdiam dalam kebingugan tanpa perlu lirikan ia bisa melihat wajah Fanny yang sudah berubah tidak bersahabat penuh ruam kekesalan dan Zia yang hanya bisa berpura - pura berbicara ke anak - anaknya untuk mengalihkan pandangam wajah Fanny yang terlihat tidak terima dengan permintaan Icha.
"Duduk dipangku mama aja sayang. Emang Icha gak kangen sama mama?" Bujuk Abi.
Icha terdiam seperti sedang berpikir dengan apa yang dikatan Abi tadi,tidak berapa lama Icha memgangguk ke arah Abi.
"Kangen pa tapi Icha takut mama makhah dan lepas ijab Icha, Icha gak mau.. Icha mau minta kipas kipas bunbun aja pa biakh gak panas.."
__ADS_1
Zia memang selalu berusaha membuat Icha nyaman berhijab termasuk dengan telaten mengipasin Icha disaat hawa panas menyentuh kulit seakan hendak membakar manusia yang terkadang suka membangkang dari yang diperintahkan Allah.
"Apa yang sudah kamu racunin ke anakku Zia hingga sekarang ia dekat denganmu dan membuat jarak denganku?" Batin Fanny memberontak dengan semua yang dikatakan Icha, sekarang siapa yang ibunya Icha hingga ia merasa diabaikan begitu saja.
"Mama Fanny juga bisa kipasin Icha kok sayang. Mama kangen banget sama Icha itu.." Akhirnya Zia ikut membujuk Icha agar Fanny tidak salahpaham kepadanya.
"Mama gak bawa kipas, lebih baik kita pulang sekarang, AC disini juga gak bisa ngalangin rasa panas yang ada."Ketus Fanny dengan nada yang sangat tajam.
Fanny segera beranjak dari duduknya dengan tatapan yang membuat orang takut menatapnya, karena begitu banyak rasa disana, takut,kecewa, sedih dan amarah yang sangat terlihat jelas.
Semuanya ikut melangkahkan kaki keluar dari restoran fast food itu menuju mobil Abi.
"Dek.."
"Adek gak papa kok bang." Abi mengelus kepala Zia yang berbalut hijab dan tersenyun ke Zia.
"Jangan dimasukkan ke hati ya, cukup abang aja yang ada dihati adek." Abi mencoba merayu Zia dengan berbisik lirih ditelinga Zia.
Terlihat Fanny berjalan cepat didepan dan berhenti sejenak karena ia tidak tahu dimana mobil Abi diparkirkan. Saat ia ingin membalikkan badan ia sempat melihat perlakuan Abi ke Zia. Ada rasa yang menambah perasaan nyeri dihatinya melihat perlakuan itu, sejak tadi ia menunggu Abi berlaku manis padanya termasuk memanggil sayang tapi tidak kunjung terdengar dan kini ia melihat sikap lembut Abi ke Zia?
Fanny masih berusaha menutupin kecemburuannya, ia memejamkan mata sejenak menahan gemuruh yang dari tadi terus menggelayut tidak mau terlepas dari dadanya hingga makin terasa membara.
"Mas, mobilnya dimana?" Tanya Fanny setelah membuka matanya walau merasa panas yang dirasa hanya bisa sedikit mereda, ia membalikkan tubuhnya penuh kebelakang bertanya ke Abi.
__ADS_1
#Lebih sakit dekat terasa jauh iya kan Fanny?#
#Bantu like comment and vote dears#