Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Sebenarnya anak siapa?


__ADS_3

Zia dan anak-anak sedang berkutat didapur membantu Zia membuat kue pesanan yang akan diantar sehabis maghrib. Mungkin keputusan Zia benar dengan menyibukkan diri maka pikirannya tidak akan selalu kosong.


Zia terus mengolah pesanannya hingga hampir sore hari baru selesai, dilanjut memasak untuk makan malam.


Saf dan Aif paling seneng kalau sudah disuruh membantu di dapur.


"Pada ikutan bau bawang nie anak mama. Mandi bareng sana biar sholat ashar. Mama mau beresin dapur dulu." Zia dengan sigap membereskan dapur setelah anaknya pergi mandi.


"Ma..Kami uda selesai." Beritahu Saf.


"Ya udah, bajunya uda mama siapin di tempat tidur. Mama juga mau mandi." Zia selalu menyiapkan baju anaknya setiap mandi karena kalau anaknya yang cari diyakinin akan berantakan satu lemari.


Saat pukul 5 sore mereka mau bersantai nonton tv tiba - tiba ada suara ketukan di pintu.


"Bukannya bakal dijemput habis maghrib ya?" Pikir Zia.


Ziapun dengan segera membuka pintu dan dia sangat terkejut dengan siapa yang bertamu di rumahnya sambil menggendong gadis kecil.


"Anda..?"


"Assalamualaikum..," Salam Abi


"Waalaikumsalam. Ada apa ya?"


"Ehm,, Saya boleh masuk dulu gak?"


"Eh ituu, silahkan masuk." Zia rada ragu mempersilahkan Abi masuk.


"Siapa ma?" Tanya Saf menghampiri Zia ke ruang tamu


"Ini ada tamu."


"Wah ada adek gemesh." Seru Aif yang mengikuti kakaknya dari belakang.


"Pa, ithu Aak-aak aik." Tunjuk Icha.


"Ha? kakak - kakak baik?" Sejak kapan anak kecil itu kenal anaknya.


"Eh itu ehmm, Kakak - kakak bisa bawa adiknya main dulu? Om mau bicara sebentar sama mamanya." Abi tergagap menjawab pertanyaan Zia langsung mengalihkan pertanyaan ke anak Zia.


"Baik om, Aif bawa adeknya ke ruang tv. Kakak mau buat minum dulu." Ajak Saf membawa sikecil Icha yang menggandeng tangan Aif.


"Izinkan saya memperkenalkan diri saya dulu. Saya


Abi Zidan. maksud kedatangan saya kemari saya ingin meminta maaf dengan tulus karena sudah menabrak suami anda sampai merenggut nyawanya." Ucap Abi dengan tulus terlihat begitu banyak penyesalan yang dirasakannya.


"Bukannya kemarin sudah selesai ya?"

__ADS_1


"Iya tapi saya belum lega.. Saya juga mau memberi uang sebagai bentuk pertanggung jawaban saya karena telah menghilangkan tulang punggung keluarga ini."


"Maaf nyawa suami saya bukan di nilai dari uang. Saya ikhlas biar Allah menggantinya dengan tempat terbaik." Tolak Zia


"Tapi.." Abi masih bersikukuh memberi bantuan..


"Gak ada tapi - tapi atau anda mau buat saya tersinggung?"


"Tidak maaf."


Pembicaraan selesai bertepatan dengan Saf membawa minum air teh manis ke ruang tamu, sedikit lama karena ternyata air panasnya habis jadi Saf harus merebusnya lagi.


"Terima kasih."


"Sama - sama om."


"Saf bawa adeknya kemari, mama mau kenalan dulu." Zia sudah risih berdua aja duduk diruang tamu bersama Abi.


Safpun dengan segera membawa Icha dengan Icha ditengah yang kedua tangannya digandeng Saf dan Aif.


"Papa,aaknya aik anget. atha aak, itha okheh obok chini." Cerita Hana yang lebih memilih duduk dipangkuan Saf.


"Loh jadi papa bobok sama siapa?"


"Papa obok cheundkhi." Saf tertawa kecil melihat jawaban Icha.


"Waduh kok papanya suruh bobok sendiri? gadis manis siapa namanya?" Tanya Zia


"Tante?" Zia kurang biasa dipanggil tante


"Namanya icha ma, tadi Aif pikir juga namanya itha ternyata salah." Aif terkikik geli saat salah terus menyebut nama icha.


"Icha jangan panggil tante dong. panggil bunbun aja gimana?" Dikomplek itu anak kecil memang sering memanggil Zia bunbun kurang afdol kalau kata tante bagi Zia.


"Oe bunbun." Tiba - tiba Icha berbisik ke Zia tapi tetep aja suaranya terdengar ke yang lain. "Bun, aak ok paek ijab? apa ndak gekhah?"


"Icha tahu permen gak? permen manis gak?"


"Manis sekakhi bunbun, itja ajha suthak."


"Nah kalau permennya gak dibungkus jadinya gimana?" Tanya Zia sambil mengambil ahli icha dipangkuan Hana agar duduk dipangkuannya.


"Athian pekhmenna bunbun dimaem ceumut nakhal."


"Nah gitu juga dengan Icha dan kakak, perempuan itu ibarat permen yang manis. kalau gak dipakaikan hijab ntar siapapun bisa mencicipin manisnya tapi kalau dibungkus manisnya gakkan bisa semua orang yang rasakan." Zia mencoba memberikan pengertian pada Icha.


"Api itha uthak aok di bikhang manis chama okhang bunbun."

__ADS_1


"Tapi kalau permen yang terbuka itu sudah dimakan semut apa icha masih mau?"


"Ndak au bunbun, jokhok ihh.." Jijik icha


"Makanya kakak pakek hijab biar manisnya kakak tetap terjaga gak jorok dilihat atau dipegang sembarang orang."


"Adek Icha tahu neraka?" Tanya Saf.


"Au ak,, anas ada api-api na besakh ak, shekheum shekakhii."


Icha bergidik ngeri membayangkan neraka imaginasinya.


"Kalau icha gak pakek hijab, ntar papa icha bisa masuk neraka karena biarin anaknya yang manis ini dilihatin semua orang."


"Itha eundak au papa mashuk nekhaka. ntakh papa ethatitan khena api ak."


"Makanya kita harus pakai hijab."


"Ntakh itha tukhuh papa bekhi ijab itha."


"Itu baru gadis soleh." Ucap Saf


Abi yang dari tadi hanya mendengarkan terkesima dengan jawaban ibu dan anaknya yang mudah dimengerti.


Dia sendiri bingung untuk menjelaskannya.


"Ini Icha sebenarnya anak siapa si? kok dari tadi ngomongnya sama bunbun dan kakak terus. Papa dicuekin." Abi pura - pura merajuk.


"chup - chup papa, Itha anak papa ok." Icha menepuk - nepuk kaki Abi saat turun dari pangkuan Zia.


"Kalau gitu ayo kita pulang uda sore banget ni."


"Api itha au obok ama aak." Icha mulai memasang wajah memelas meminta persetujuan papanya.


"Tidak hari ini sayang, besok - besok kita datang lagi oke."


"Pokhmise?" Sambil menjulurkan jari kelingkingnya


"Promise." Sambut jari kelingking Icha.


Akhirnya mereka pulang juga, Zia sudah merasa lega dia berfikir mungkin ini terakhir mereka berjumpa.


Tapi takdir siapa yang tahu..


#Semangat#


#abizia#

__ADS_1


#Bagaimana takdir menjumpakan mereka lagi?


#like,comment and vote ya dears..#


__ADS_2