
Happy reading
🍇🍇🍇
Musim hujan sudah menyelingi bumi tapi tidak mudah menembus hati yang gersang dan panas agar merasakan kesegaran dan kesejukannya hingga menyisakan jarak yang tak kasat mata.
Icha sudah kembali ke tempat tidur kenyamanannya hanya dua hari saat panas Icha sudah mereda ia sudah diperbolehkan pulang.
Masih terlihat senyum di wajah Zia tapi Zia berusaha menghindar dari Abi semenjak Icha dirumah sakit. Zia tidak suka berlama - lama dengan situasi canggung antara ia dan Abi,.ingin ia mendengar penjelasan tapi waktu dan tempat tidak memungkinkan ditambah lagi Icha membutuhkan perhatian Zia jad8 Zia tidak mau merusak suasana hatinya.
Zia berusaha bersabar dan menenangkan rasa penasaran yang selalu timbul ingin penjelasan tapi yang Zia lakukan malah membuat jarak antara mereka berdua, kini Abi juga ikut mendiamkannya.
Walau didepan keluarga mereka masih terlihat biasa saja tapi tidak didalam kamar, keduanya diam tanpa ada niat membuka suara. Zia tidak tahu apa yang dipikiran suaminya sampai mendiamkannya bukan mencoba berusaha memberi penjelasan apalagi mereka sudah dirumah sekarang.
Zia berpikir pasti ada sesuatu yang terjadi, lebih baik ia menghindar dahulu dengan diam, ia tidak mau terlibat begitu dalam hingga ia nanti yang ikut jadi tertuduh.
"Fanny akan kembali hari minggu." Jantung Zia berdetak kuat sekali mendengar suaminya berbicara tiba - tiba tepat hari kedua Icha sudah kembali, berarti tidak lebih dari tiga hari lagi mba Fanny sudah dirumah.
"Baguskan? Itu yang dibutuhkan Icha, perhatian seorang ibu dan abang juga tidak perlu khawatir gimana kondisi mba Fanny lagi disana." Zia berusaha berbicara setenang mungkin gimanapun disana ada hak dan kewajiban yang juga bukan untuk Zia.
"Mama mau Fanny tidak tinggal dirumah ini lagi."
__ADS_1
"Kalau semua karena adek dan abang merasa gak enak hati atau merasa bersalah dengan mba Fanny karena mama sudah pilih kasih. Lebih baik adek aja yang keluar dari sini. Adek juga masih ada rumah peninggalan mas Farhan. Pisah rumah juga lebih baik menghindari rasa iri nanti yang akan menyerang hati karena gimanapun mba Fanny lebih berhak ada disini." Zia tidak mau egois hanya karena sebuah kata cinta bisa menyakitin banyak hati. Lagian lebih menenangkan tinggak dirumah lamanya dari pada rumah megah tapi mengurung kebahagiaan.
Abi beranjak dari sofa mendekatin Zia yang duduk bersandar di tempat tidur.
"Apa adek marah sama abang?"
"Adek gak marah."
"Kenapa adek selalu diam dan menghindar hingga abang takut untuk mendekat dan berbicara dan ini adek mau pisah rumah dari abang?"
"Diam bukan berarti marah, diam adalah obat agar hati tidak terlalu dalam tersakitin oleh sebuah kata. Abang sendiri yang diam dan menghindar kenapa dipertanyakan ke adek? Lagian siapa yang pisah sama abang. kan abang bisa bagi waktu dalam seminggu nantinya."
"Dek, demi Allah gak ada niat abang tidak menghubungin adek, abang juga nunggu adek hubungin abang tapi yang abang tunggu gak kunjung ada. Abang gak tahu ternyata semua nomor diblokir Fanny dan dia mengganti nomor abang tanpa sepengetahuan abang." Abi berusaha menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman kembali.
"Jawaban apa?"
"Adek ada kirim pesan ke abang tapi gak ada abang balas, adek hubungin juga tidak aktif, adek gak tahu pesan itu sampai atau sudah dihapus seseorang hingga abang gak tahu. Tapi dari sini harusnya abang tahu mba Fanny sebenarnya tidak ingin di madu. Dia belum rela berbagi dan pisah rumah itu lebih baik agar tiada hati yang terluka." Zia berusaha tegar menjelaskan walau hatinya sudah mengembun sedih.
"Tapi ini juga pilihan dia dulu dan abang juga gak mau melepasmu sampai kapanpun."
"Walau itu mba Fanny yang minta? Walau bakal ada hati yang lebih terluka? Adek gak gila akan cinta hingga rela diperbudak olehnya bang. Abang sepertinya butuh waktu berdua dengan mba Fanny memperbaiki hubungan kalian, menanamkan rasa cinta itu kembali." Zia berusaha mengeluarkan kata - katanya walau keluh selalu menghadang dari sudut ketidakrelaan harus mengalah tapi ia tidak boleh egois.
__ADS_1
"Jadi kamu ingin menyerah? Abang pikir adek benar - benar ingin membangunkan cinta kita tapi nyatanya..."
"Siapa bilang adek ngingkarin janji. Ini termasuk membangun cinta dengan merelakan dibukanya jalan penghubung untuk kerumah yang lain karena abang harus ingat tempat abang pulang bukan hanya satu rumah tapi ada dua rumah."
"Kalau abang tidak sanggup dan memilih pisah dengan Fanny?" Abi sudah kehilangan akal sehatnya.persaannha yang dalam ke Zia membuat Abi tidak ingin melepas Zia begitu saja.
"Itu berarti abang egois, apa abang mau mengulang hal yang sama yang terjadi dengan orang tua mba Fanny? Apa abang gak berpikir bagaimana dengan keadaan mba Fanny nanti saat pisah dengan abang?" Zia tersenyum miris dengan pilihan suaminya, sungguh bukan itu yang ia mau hungga merusak rumah tangga seseorang dengan kehadirannya.
"Abang egois? Apa adek juga gak egois? Melukai hati abang dan adek juga sekaligus?"
"Bang, coba berpikir jernih kita gak pisah. Abang bisa sama adek tiga hari dalan seminggu. Jangan terlalu terperdaya dengan hasutan yang merusak hati bang. Mulai hari senin abang harus sudah menunjukkan sikap adil itu."
Abi mengacak - acak rambutnya. Semua menekan dirinya harus adil dan memilih.Tapi apa kabar dengan hatinya sekarang yang sudah melewati ambang batas kesadaran dalam mencintai.
Keputusan harus segera diambil sebelum ada kata penyesalan.
"Hari senin setelah sehari mba Fanny sampai kesini, adek akan pindah kerumah adek yang dulu."
#Abi makin galau aja ditekan habis - habisan."
#Bantu like.comment and vote dears#
__ADS_1
#Hampir ke zona nyaman kelamaan libur malas nulis lagi...#