Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Permulaan selalu ada Akhir


__ADS_3

Happy reading


🍇🍇🍇


Abi dengan setia mendorong kursi roda Zia yang terus memaksa ikut untuk melihat keadaan Fanny. Disana ternyata sudah ada Beni dan Bagas yang sedang duduk dibangku panjang ruangan dimana Fanny berada.


"Gimana keadaan Fanny pa?"


"Kata dokter yang merawat Fanny belum bisa dijenguk karena keadaanya belum stabil. Dia masih sering teriak histeris." Jawab Beni dengan wajah sendu penuh rasa iba ke anaknya.


"Pa, maafkan Abi yang tidak bisa membuat Fanny menjadi lebih baik. Salah Abi yang tanpa melihat kondisi saat itu menceraikan Fanny yang sedang dalam emosi tinggi pa, karena Abi juga sudah terbawa emosi saat melihat Fanny dengan teganya melukai Icha anaknya sendiri."


"Papa sudah dengar semua dari papamu tadi malam. Papa juga gak nyangka jadi seperti ini. Fanny hanya bilang ia ingin bahagia bersama kalian, ia ingin mencoba untuk terakhir mengambil hati kamu. Tapi Papa tidak tahu kalau sampai seperti ini kejadiannya. Papa juga minta maaf kepadamu."


"Pa.."


"Abi,, Fanny sekarang sudah lepas tanggung jawabnya darimu. Biarkanlah kami yang memikirkannya sebagai tanggung jawab kami yang mengabaikannya dahulu. Berbahagialah bersama Zia dan anak - anak. " Abi terdiam mendengar perkataan Beni, ada seonggok hati diujung sana yang tercubit merasakan sakit. Bagaimanapun Fanny telah lama bersama ada dalam garis hidupnya. Kesedihan menyeruak di dadanya, ada penyesalan yang tidak bisa ia abaikan tapi jika ia tidak memilih ia takut Fanny akan makin terluka jika bersamanya. Seorang lelaki yang tidak bisa tegas dan adil dalam membagi cinta.


Zia menangis di kursi rodanya, banyak kesedihan yang ia rasakan. Perasaan seorang wanita yang merasakan bagaimana rasa sakit yang dirasakan sesama kaumnya. Zia mungkin juga tidak akan kuat jika ia berada di posisi Fanny. Wanita yang kuat hingga akhir tapi harus kalah dengan kendali emosinya sendiri.


"Bisakah Abi melihat Fanny terakhir kali?" Pinta Abi dengan wajah penuh harap.


"Kita akan tanyakan ke dokter Radit."

__ADS_1


Akhirnya mereka menemui Radit untuk bisa menjenguk Fanny yang terkurung didalam ruangan. Radit terlihat berpikir, ia belum bisa mengiyakan permintaan Abi karena takut mereka tahu kalau Fanny hanyalah bersandiwara.


"Kalian tunggu diluar sebentar, saya akan kedalam melihat kondisi pasien. Kalau perlu saya akan memberikan suntik penenang dahulu sebelum kalian masuk."


Radit langsung masuk keruangan Fanny dengan kunci yang ada ditangannya. Ia bisa nelihat Fanny yang termenung sendiri dengan tatapan menerawang kosong.


"Keluargamu ada didepan, Abi dan Zia juga ada disana.Mereka ingin bertemu. Apakah kau ingin menemui mereka?"


"Apakah aku akan kuat jika melihat wajahnya? Aku takut hatiku goyah saat melihatnya. Masih begitu besar cintaku untuknya hingga aku sendiri takut tidak bisa menahan diriku sendiri."


"Temuilah mereka untuk terakhir agar hatimu sedikit lapang tidak hanya merasakan kesalahan itu sendiri. Berpura - puralah tertidur dan aku akan mengikatmu." Fanny hanya menganggukkan kepalanya dan menurutin apa yang Radit katakan.


Tidak selang berapa lama Radit yang telah keluar kembali masuk bersama Beni dan Bagas dahulu..


"Fanny,maafkan papa yang tidak bisa menjagamu hingga kau menjadi seperti ini. Biarkan Papa dan Bagas menjagamu sekarang sayang. Kau tidak sendiri, ada papa dan Bagas selalu bersamamu apapun keadaanmu sayang. Papa masih berharap kau bisa kembali sembuh dan bersama kami kembali." Ucap Beni dengan air mata yang tak bisa ia tahan melihat anaknya tertidur dengan terikat kedua tangan dan kakinya.


Setelah selesai dengan Beni dan Bagas kini giliran Abi dan Zia masuk kedalam ruangan Fanny.


Zia merasa tidak tega melihat Fanny yang terikat di tempat tidurnya. Belum berkata air matanya sudah mengucur deras melihat kondisi Fanny. Abi mendorong Zia mendekat dengan Fanny.


"Mba Fanny, Maafkan aku yang sudah masuk dalam kehidupanmu hingga tanpa sadar menorehkan luka. Kenapa harus seperti ini akhirnya mba? Mba Fanny, aku akan menjaga Icha dan selalu menyayanginya. Aku akan selalu menceritakan bagaimana baik dan kuat mamanya menjalani kehidupan yang sangat berat. Aku tidak akan pernah menggantikanmu mba karena kamu tetaplah mamanya, orang yang telah melahirkannya.Maafkan Zia mba..Maaf.." Zia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia tidak bisa menahan rasa sedih yang mengorek begitu dalam rasa bersalah hadir diantara Fanny dan Abi.


Abi mengelus punggung Zia mencoba menenangkan hati yang sedang tenggelam dalam keresahan.

__ADS_1


"Adek diluar dulu ya..abang gak mau adek makin sedih." Zia mengangguk. Ia tahu Abi butuh waktu berdua bersama Fanny untuk menyatakan segala yang bersembunyi dihati Abi.


Kini Abi menatap Wajah Fanny yang terlelap dalam pengaruh bius dengan rasa sedih yang bercampus aduk.


Ia mendekat ek arah Fanny dan mengelus lembut surai rambut Fanny yang sangat berantakan. Fanny yang biasa sangat menjaga penampilannya kini terlihat sangat berantakan.


"Fanny, kau tahu aku ingat disaat kau menanyakan dimana kelasmu denganku. Aku berpikir ada juga seorang adik kelas wanita yang berani bertanya dengan kakak kelas lelakinya. Hingga aku tahu kau selalu berani walau banyak orang yang menghujatmu. Sebagai seorang lelaki aku selalu ingin melindungin dan mengenalmu lebih dalam membuat aku tahu bahwa banyak kehidupan yang harus aku syukurin walau cobaan selalu silih berganti.


Maafkan aku yang salah mengartikan rasa didiriku hingga membuatmu makin terluka. Aku lelaki yang lemah dan patut kau maki karena tidak bisa mengerti membedakan mana itu rasa peduli atau cinta hingga kita tersesat dalam rumah tangga kita.


Tapi ingatlah Fanny, bagaimanapun dirimu tidak ada penyesalan aku menikahimu hanya satu penyesalanku menceraikanmu dengan cara tidak layak. Aku menyesal Fanny, aku terbawa emosi saat kau melukai anak kita. Maafkan aku yang melepasmu. Aku tidak ingin kau lebih terluka berada disisiku yang hanya bisa berkata tapi tidak bisa bertindak. Aku tidak ingin kau merasakan lebih sakit hati saat aku lepas kendali dalam memberi perhatian.


Maafkan aku Fanny, sembuhlah dan raihlah bahagiamu...Jangan larut dalam kesedihan...Maafkan aku Fanny... Semua cerita selalu ada permulaan dan mungkin ini akhir cerita kita. Aku tidak akan pernah melupakanmu karena hidupku sebagian besar ada saat bersamamu."


Abi mengecup kening Fanny terakhir kali. Sayang? Abi sayang Fanny..seorang wanita yang selalu ada disampingnya dengan ambisinya yang kuat untuk mempertahankan hidupnya hingga menarik perhatiannya.


"Kita akan bertemu lagi lain waktu dan aku berharap kau sudah sembuh dan menata hidupmu kembali dengan seseorang yang benar - benar mencintai dan menyayangimu tidak seperti aku lelaki yang buruk dalam merasakan perasaannya. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik Fanny."


Langkah kaki Abi yang menjauh dan suara pintu tertutup mengiring air mata yang sudah siap tumpah, menahan rasa sesak yang dari tadi tertahan.


"Maafkan aku yang membuat kalian makin merasakan rasa bersalah. Terima kasih kalian tidak hanya menyalahkan diriku yang selalu salah dalam mengambil keputusan. Aku akan memulai semuanya dari awal walau aku tidak tahu dapatkah hatiku untuk merasakan cinta itu lagi.. Sesak banget rasanya...hiks..." Lirih Fanny sambil menepuk - nepuk dadanya yang terasa sesak dan menghimpit dengan kesedihan yang tidak mau surut sedikitpun.


#Fanny semiga bisa nemui kebahagiaan nantinya ya#

__ADS_1


#bantu like comment and vote dears#


#1-2 bab lagi tamat ya,, bakal ada extra bab juga nanti, dan season 2 yang belum pasti kapan mulainya#


__ADS_2