Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Baik - baik saja


__ADS_3

Happy reading


🍇🍇🍇


Kini Zia terlihat bingung berdiri tepat dipinggir jalan yang dihadapannya ada sebuah gedung tinggi yang gak kalah megah dengan gedung-gedung yang lainnya.


Baru kali ini Zia mendatangin tempat kerja suaminya, bersama Farhan Zia tidak pernah datang ke tempat kerjanya, selain Zia sibuk dengan pesanan kue yang datang, Farhan juga selalu membawa bekal ke tempat dimana ia melakukan audit yang selalu berpindah - pindah toko.


"Bu, ada keperluan apa?"


Zia terkejut saat seorang satpam menegurnya, mungkin ia terlalu lama berdiam diri sambil memoerhatikan gedung didepannya setelah turun dari taksi online yang dipesannya.


Kali ini Zia merutukin dirinya sendiri kenapa dia tadi tidak ikutin saran mertuanya saja? Rani tadi menyuruh Zia pergi bersama supir ke kantor Abi, tapi Zia menolak dengan halus disebabkan ia tidak mau terlihat mencolok menaikin mobil mewah hanya untuk sekedar mengantar bekal makanan. Tapi kalau sudah begini bagaimana Zia masuk? Dia tidak pernah mendatangin kantor sebesar ini. Kerpecayaan diri Zia kini terseret dengan kegugupannya yang kian bergemuruh.


Zia tidak mengira Abi bekerja dikantor sebesar ini, dia melupakan bagaimana besarnya rumah Abi dan tidak mungkin kerja di tempat yang biasa saja.


"Bu...Ada yang bisa saya bantu?" Tegur satpam itu kembali yang melihat Zia masih melamun di pinggir jalan dekat pagar halaman kantor ia bekerja.


"Eh.. Ini pak, saya mau antar bekal buat Pak Abi." Jelas Zia


Satpam itu tampak berpikir Abi yang mana? Bukan pak Abi sang direktur utamakan? Karena ia sudah menikah dengan Bu Fanny.


"Didalam ada beberapa nama Pak Abi buk, Ibu bisa masuk ke dalam, nanti disana ada bagian meja receptionis, ibu bisa menanyakan Pak Abi disana."


"Makasih pak." Zia melangkahkan kakinya dengan berat, ia sudah terlanjur sampai tidak mungkin berputar arah, kenapa mertuanya menyuruh Zia mengantarkan bekal ke Abi? Kalau tahu gini, lebih baik Zia menyiapkan dari pagi tadi tapi kata mertuanya nanti bekalnya gak segar lagi sudah dingin.


"Huft.. Bismillah." Zia menarik napasnya dalam agar tidak terlalu sesak menahan kegugupannya.


Tanpa terasa Zia yang merasa melangkah dengan lambat begitu cepat sampai di depan meja receptionis.


"Permisi mba,,," Sapa Zia pada wanita cantik didepannya.


"Iya buk, ada yang bisa saya bantu?" Balasnya dengan ramah dan senyum yang mengembang.


"Saya mau bertemu dengan pak Abi."


"Pak Abi yang mana ya buk?"


Zia tampak berpikir sejenak mengingat nama panjang Abi.


"Namanya Abi Zidan.." Terlihat raut wanita itu sedikit terkejut untuk apa seorang wanita dengan pakaian sangat tertutup dan membawa bekal menemui atasan mereka tapi ia tidak menunjukkannya tetap tersenyum ramah.


"Apa ibu sudah membuat janji? Dengan Ibu siapa?" Tanyanya kembali.

__ADS_1


"Belum tapi bisakah mba mengatakan padanya kalau saya menunggunya dibawah? Nama saya Zia." Jelas Zia yang sudah tidak merasa kenyamanan disana karena beberapa mata yang meliriknya walau tidak terlalu kelihatan tapi Zia tahu ia sedang diperhatikan.


"Baiklah, ibu duduk dulu disana. Biar saya hubungin pak Abinya dulu."


"Terima kasih." Zia melangkahkan kakinya ke sofa ruang tunggu dekat dengan meja receptionis, ia sekali lagi merutukin kebodohonnya yang lupa membawa handphone, kalau tadi dia bawa tidak perlu ia berlama disini dan harus menunggu.


"Bu Zia" Panggil receptionis tersebut


"Ya mba." Zia mengalihkan pandangannya saar ia dipanggil.


"Pak Abi akan segera turun kebawah. Ibu silahkan menunggu Pak Abi."


"Makasih banyak ya mba."


"Sama - sama buk"


Zia sibuk tertunduk dan memilin ujung hijabnya menahan rasa gugupnya, bekal yang ia bawa ia letakkan di atas meja dihadapannya. Zia juga tidak tahu mengapa ia merasa gugup dan takut apalagi ada setiap mata yang berlalu lalang memperhatikannya.


"Dek.." Zia mendongakkan wajahnya saat mendengar suara Abi memanggilnya. "Kenapa gak bilang mau kesini?" Abi duduk disamping Zia tanpa mau menjaga jarak hingga tiap mata yang tak sengaja melihat makin penasaran dan berpikir keras siapa yang duduk disebelah atasannya tersebut?


"Maaf, adek lupa bawa handphone tadi mama suruh adek antar bekal makanan buat abang." Jawab Zia dengan suara sangat pelan seakan takut terdengar orang - orang disana.


Abi melirik bekal di meja depannya, baru kali ini dia diantarkan bekal makanan ke kantor dan itu membuat hatinya senang saat diperhatikan walau yang pengantar mengaku disuruh oleh mamanya.


"Kalau gitu, adek pulang sekarang ya?" Zia sudah tidak ingin berlama - lama disana.


"Naik apa kemari?"


"Tadi mesan taksi online, Tapi adek lupa bawa handpone. Abang bisa pesankan?" Pinta Zia.


"Gak usah pesan taksi online, nanti kita pulang bareng aja."


"Tapi abang masih kerja.."


"Abang akan segera menyelesaikan semuanya dan kita bisa segera pulang."


"Kalau gitu Zia tunggu diluar aja ya?"


"Kenapa harus diluar? Ayo ikut keruangan abang." Sifat Abi yang selalu suka tanpa permisi langsung menarik tangan Zia agar berdiri mengikutinnya berdiri.


Abi terus menggenggam tangan Zia, Jari jemari mereka saling bertaut membuat Zia berjalan hanya menatap lantai dibawahnya.


Zia banyak mendengar kasak kusuk di setiap perjalanannya bersama Abi. Banyak yang langsung berpikir jelek dengan Zia.

__ADS_1


beberapa kata yang terdengar sekilas oleh Zia, Tidak ada bu Fanny pak Abi berani bawa wanita lain, Gak malu sama hijabnya udah jadi pelakor, Gak malu digandeng suami orang, Kurang apa Bu Fanny sampai pak Abi bawa wanita lain? Masih banyak kasak kusuk yang didengar Zia.


Abi bukannya tidak dengar bisikan karyawannya tapi ia tidak mau menanggapinya, mereka tidak tahu sebenarnya. Abi bukan makin menjaga jarak tapi makin mendekatkan dirinyanya ke Zia. Genggaman tangan tadi berubah menjadi sebuah rangkulan di pinggang Zia hingga suasana semakin berisik dengan hujatan ataupun sindiran.


"Dek..." Kini mereka sudah berada di dalam lift berdua.


"Adek baik - baik saja kok bang." Zia mencoba tersenyum ke Abi, ia berusaha menguatkan hatinya, ini resiko ia menerima jadi istri kedua yang harus siap dengan pemikiran orang yang hanya tahu luarnya saja.


"Maaf." Hanya satu kata itu yang bisa Abi ucapkan sambil mengecup ubun - ubun Zia dan membelai pipi Zia dengan sayang.


"Gak ada yang perlu dimaafkan bang."


"Sepertinya abang perlu memberitahukan mereka tentang pernikahan kita agar adek gak jadi bahan cerita mereka lagi."


"Mana baiknya aja bang, adek gak peduli apa kata mereka tapi adek hanya kecewa mereka membawa - bawa hijab yang adek pakai yang mana ini sebuah kewajiban menutup aurat tidak mewakilkan sifat pemakainya,,"


"Biar abang yang urus nanti, abang juga gak mau adek tersakitin karena ini. Ayo kita keluar." Abi menggenggam tangan Zia lagi membawa Zia keruangannya tapi sebelum itu ia menyampaikan ke sekertarisnya agar ia tidak diganggu dan menerima tamu siapapun itu.


"Adek duduk disitu dulu, abang mau ke toilet bentar." Abi langsung pergi ke toilet didalam ruangannya, tapi ia bukan mengeluarkan hajatnya tapi mengeluarkan handphone dari sakunya.


"Sudah sangat nyamankah dirimu sekarang dengan posisi CEO itu?


"Maksud tuan?" Tanya lelaki yang bernama Teguh diruangan lain yang sebenarnya asisten pribadi Abi.


"Harusnya kau makin pintar dan sigap dengan segala situasi, segera lihat cctv, cek siapa saja yang tadi berani menghujat istriku, pecat mereka semua. Aku gak peduli kinerja mereka jika sudah menyakitin hati istriku.


Kau buat pertemuan semua karyawan untuk mengumumkan siapa Zia dalam hidupku dan jangan sampai aku ada mendengar lagi selentingan yang menjelek - jelekkan istriku." Perintah Abi dengan menahan amarahnya yang ikut merasakan sakit yang Zia rasakan. Ia sangat geram dengan orang yang sudah berani bergosip dibelakangnya.


"Baik tuan."


"Lakukan segera aku tidak terima kata nanti."


Abi segera menutup sambungan telponnya dan menghampiri Zia.


"Makan dulu bang sini." Pinta Zia yang sudah membuka semua kotak bekal yang ia bawa tadi.


"Tapi abang gak lapar itu, yang abang lapar ini.." Ucap Abi menyentuh dan mengusap bibir Zia.


Abi lalu memegang dagu Zia mendekatin bibir Zia yang sangat dirindukan Abi setiap waktu, Zia yang tahu apa yang diinginkan Abi memejamkan matanya menerima dengan tulus sentuhan bibir Abi dibibirnya hingga mereka saling membalas ciuman dengan sangat lembut yang membuat hati Abi bahagia karena Zia sudah membuka dan membiarkan Abi masuk kedalam hatinya. Abi tidak akan sia - siakan itu, ia akan mencari ruang hati Zia yang akan selalu ada ia disana.


"Kau jangan khawatir, tidak akan aku biarkan hatimu terluka oleh apapun." Batin Abi sambil menikmati makanan pembukanya yang sudah menjadi candunya.


#nasib istri kedua ya Zia#

__ADS_1


#Bantu like comment and vote dears#


__ADS_2