
Happy reading...
🍇🍇🍇
Rani memasang mimik wajah terkejutnya, Apakah Zia sudah hamil? Ternyata anaknya gerak cepat juga tidak menyianyiakan waktu pikir Rani.
"Kamu hamil Zia?" Tanya Rani..
"Eng..enggak kok ma.." Jawab Zia gugup, kok dari semalam dia diteror tentang bayi terus.
"Lalu maksud Icha?"
"Oma,, amil ichu pa oma? Bunbun ndak uat amil oma, bunbun au uat adik ayi akek epung."
"Tepung?"
"Iya epungna antik akhuk i ekhut bunbun embiyan uyan iakh isha oek oek." Jelas Icha sambil menunjukkan kesepuluh jarinya.
"Maksudnya apa Zia?" Rani menyerngit bingung tepung apa yang dimaksud.
"Nanti Zia jelasin ya ma.." Jawab Zia sambil melirik Abi yang dari semalam selalu sibuk tersenyum sendiri.
"Saf Aif sini makan bareng oma," Ucap Rani ke anak Zia yang turun kebawah untuk sarapan dan pergi sekolah.
"Iya oma.." Sahut mereka bareng.
"Kamu gak kerja Abi?"
"Badan Abi lagi gak enakan ma, mungkin besok Abi masuk kerja."
"Kamu sakit?"
"Iya ma, bang Abi panas tadi malam badannya."
"Tapi Abi kalau tiap hari sakit gak keberatan ma asal..." Zia langsung menutup mulut Abi dengan tangannya agr berhenti bercerita.
"Asal apa?"
"Gak ada apa apa ma.. Bang Abi kebanyakan ngigau tadi malam."
"Ya udah ayuk kita sarapan dulu. Kamu Abi jangan keenakan cuti, kasian papamu, kamu ngertikan?."
"Iya ma, besok Abi mulai kerja." Zia hanya diam walau bingung apa hubungan kerjaan Abi dengan papa?
Kini waktu siang menanti dimana kecerahan kalah dengan kesunyian, hanya ada Abi dan Zia yang masih betah membuka matanya, sedangkan yang lain sudah istirahat siang.
"Dek.."
"Ya bang kenapa? Tanya Zia yang sedang sibuk fokus membaca pesan di handphonennya menanyakan kembali kapan ia bisa menerima pesanan lagi.
"Abang manggil kok gak dilihat?" Abi merasa Zia sudah mengesampingkannya..
"Sebentar bang.. Adek juga mau ngomong.. tar ya dikit lagi,, nah uda selesai, kenapa bang?" Zia sekarang sudah mengalihkan pandangannya ke Abi.
"Ini adek pegang dan disimpan, buat keperluan rumah tangga kita dan keperluan yang lain. Maaf baru bisa abang kasih sekarang."
__ADS_1
"Apa ini?" Tanya Zia membolak balikkan sebuah kartu
"Kartu kredit.."
"Gak mau ah,, ni Zia balikin."
"Loh kenapa? disitu adek bisa belanja sesuka hati maksimal sebulan 50 juta." Mata Zia melotot lebar seperti mau keluar dari sarangny dan langsung menatap Abi dengan muka memerah padam.
"Pokoknya adek gak mau, mau ambil atau adek buang ke tong sampah ini?" Ancam Zia
"Loh adek kok jadi marah? Biasanya wanitakan suka dikasih kartu kredit buat belanja. Sama kok limitnya dengan Fanny." Abi takut Zia marah karena Fanny mendapatkan lebih banyak dari pada dia.
"Siapa yang suka kalau di kasih nafkah pakek hutang kreditan, kayak mak-mak kredit panci, gak mau Zia ntar mati amal Zia tergantung - gantung karena hutang." Zia memanyumkan bibirnya dengan kesal.
"Jadi gimana?" Abi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau ikhlas tuh ya tunai bang, jangan hutangan apalagi ada bunganya gak mau Zia."
"Abang kasih kartu debit abang aja ya?" Zia menggelengkan kepalanya.
"Lalu gimana?" Abi mulai bingung dengan maunya Zia..
"Itu punya abang, tanggung jawab abang hanya kasih nafkah lahir dan batin, jadi harusnya abang kasih ke adek buat keperluan keluarga dan nafkah buat Zia berapa?"
Abi tampak berpikir maunya Zia...
"Adek ada nomor rekening?" Zia menganggguk pada Abi.
"Ya udah, kirim ke pesan abang nomornya biar abang kirim nafkah satu bulan untuk semuanya."
Sebuah notif masuk ke handpone Zia hingga Zia membelalakkan matanya kembali dan menatap Abi dengan tajam.
"Loh? kan uda dikirim kok masih marah? Kurang ya? Biar abang transfer lagi." Abi dengan cekatan ingin mengirim lagi ke Zia..
"Abang..." Zia menghentikan kegiatan tangan Abi.
"Kenapa biar abang transfer lagi."
"Bukan itu... Kenapa ditransfernya sebanyak ini?"
Terlihat notif yang bernominal lima puluh juta masuk ke rekening Zia.
"Iya itu untuk sebulan?"
"Dari mana uang sebanyak ini? Abang gak nepotismekan? Atau koruspsi? Atau jangan - jangan abang melihara tuyul? Atau tengah malam abang jadi babi ngepet?" Zia mulai berasumsi sendiri.
"Eh kalau ngomong itu yang baik, itu uang halal dari hasil kerja abang. Gak ada yang seperti adek pikirkan." Abi menyentil kening Zia.
"Aduh sakit.." Zia meringis kesakitan sambil mengelus keningnya.
"Eh,,abang gak kuat tadi kok..mana yang sakit?" Abi sudah mulai ketakutan dan khawatir menyakitin istrinya. Abi mendekatin wajah Zia dan ikut mengelus kening Zia sambil dihembus pelan.
"Tapi boong.. Ha..ha..ha..Jelek banget mukanya.." Zia tertawa bisa mengerjai Abi kali ini.
"Oh sudah mulai mau jahil sama abang ya? Awas adek ya.." Abi tiba - tiba menyerang Zia menggelitik pinggang Zia hingga Zia tidak kuat dan terjatuh tertidur dikasur..
__ADS_1
"Ampun bang, gak gak lagi deh....geli banget..Udah bang stop." Pinta Zia yang tidak direspon Abi dan terus saja menggelitik Zia..
"Masih mau jahilin abang?"
"Gak bang, udah cukup ampun."
Napas Zia sudah naik turun kelelahan tertawa begitu juga Abi yang ikut tertawa tadi. Pandangan mereka yang bertemu membuat rona wajah Zia berubah dan itu kesenangan untuk Abi.
Cup..
"Lain kali mikir lagi kalau mau jahil, tar abang bisa lakui lebih dari ini." Zia menutup bibirnya dan menggelengkan kepalanya tanda menyerah.
"Bang.."
"Ya dek,," Mereka kini duduk bersandar dikasur kembali.
"Mbak Fanny kemana? kan kemarin sakit kok belum kesini lagi?"
"Fanny sudah pergi kerja lagi."
"Kok gak kesini dulu, nanti Icha nyarii gimana?"
"Icha gakkan nyarii, dia uda biasa ditinggal Fanny tiba - tiba dalam waktu lama."
Hati Zia terasa tercubit bagaimana anak sekecil Icha ditinggal lama oleh mamanya padahal anak sekecil itu masih butuh banyak perhatian.
"Udah gak usah dipikiran, kami udah biasa ditinggal Fanny." Abi tersenyum datar saat menjelaskan ke Zia.
Zia hanya tersenyum canggung tidak mau memperpanjang cerita jika didalamnga ada kesedihan.
"Nafkah lahir udah abang kasih, nafkah batinnya kapan abang berikan?" Abi menggoda Zia agar suasana tidak canggung lagi.
"Eh,,adek masih palang merah ya."
"Kalau uda enggak, berarti bisakan?" Tanya Abi penuh harap.
"Kalau itu,, Apakah abang uda gak ridho?"
"Bukan abang gak ridho, abang lelaki yang normal saat melihat wanita dan berdekatan pasti menginginkannya. Apalagi itu uda halal untuknya."
"Apa abang uda....." Lidah Zia keluh mau menanyakan hati Abi untuknya.
"Apa adek gak bisa lihat di mata abang? Sudah ada adek disana. Bagaimana abang bisa katakan ke adek kalau sebenarnya abang sudah jatuh cinta ke adek.? Bagaimana hati abang sudah terjatuh ke seseorang yang bernama Zia Azzahra" Ucap Abi dengan memandang mata Zia hingga Zia mengerjapkan matanya.
Zia langsung memeluk Abi erat,
"Maaf kan Zia bang yang sudah sering menahan keinginan abang."
"Abang ikhlas kok. Adek bisakan mulai belajar mencintai abang?" Zia mengangguk dalam pelukan Abi..
"Makasih sudah mau membuka hati buay abang." Abi mengecup ubun - ubun Zia.
"Tapi satu hal yang adek minta sama abang."
"Apa itu?"
__ADS_1
"Adillah abang dengan mba Fanny dan Zia nantinya."