
Abi dengan bergegas masuk ke dalam mobil SUV nya. Ia bukanlah lelaki penggila mobil sport agar terlihat gagah. Abi lebih suka terlihat sederhana dan tidak banyak mengikuti fashion.
Didalam mobil Abi terus beristghfar menahan segala kecamuk dihatinya. Tapi mungkin setan adalah pemenang hari ini. Abi sangat emosi kali ini, apalagi baru saja dapat pesan dari istrinya akan tetap pergi ke Bali. Apa ancamannya tidak berpengaruh dengan istrinya itu?
Jari jemarinya menggenggam erat stir kemudi hingga berbunyi menggeretak jemarinya. Kaki Abi menekan kuat gas mobilnya, dalam pikiran Abi untuk melampiaskan amarahnya adalah menyalip semua mobil didepannya itu.
Kabut amarah menutupin logika Abi hingga ia tidak sadar sedang dalam perempatan jalan berambu.
Rambu yang dengan jelas telah berganti kedip ke merah Abi hiraukan. Dia makin menekan gas mobilnya tanpa sadar ada sebuah motor dari seberang perempatan yang hijau sedang melintas dan kecelakaan itu tidak bisa dielakkan lagi, Abi yang sudah diliputin dengan emosi tinggi tidak sempat untuk menginjak rem mobilnya dan motor itupun terpelanting jauh menabrak trotoar. 2 pengendara yang berada dimotor juga ikutan terpental jauh karena kecepatan tinggi Abi.
Saat itu suasana jalan jadi semakin ricuh dan macat karena adanya tabrakan. kepala Abi terbentur stir dengan kuat saat tabrakan itu tapi masih bisa sadar walau perih dirasakannya dibagian yang terbentur dengan darah mengalir keluar di kening Abi.
Warga yang melihat kejadian itu segera berlari untuk melihat kejadian tabrakan itu dan sebagian ada yang langsung menggedor-gedor pintu mobil Abi.
"Hei, keluar kau!!" Teriak warga dari luar sambil membuka paksa pintu mobil Abi.
"I..iya pak." Jawab Abi, keberuntungan mungkin lagi memihak Abi disaat ia keluar dan akan di amuk massa karena kecerobohannya, polisi yang saat itu bertugas langsung melerai dan melindungi Abi.
"Tolong saya pak, saya akan bertanggung jawab." Abi meminta bantuan polisi untuk melindunginya karena tidak ada niatnya untuk lari dari apa yang telah dia perbuat.
Polisi yang satu mengamankan Abi yang sudah dimasukkan ke dalam mobil polisi. Mobil derekpun sudah datang membawa kendaraan yang bertabrakan tadi.
Polisi yang satunya lagi memeriksa korban, namun naas detak nadi mereka sudah tidak saling bersahut dalam detakan.
__ADS_1
"Innalillahi wainna ilaihi rojiun" Ucap polisi tersebut.
Tidak ada warga yang berani mendekat saat sedang dilakukan pemeriksaan identitas korban. Mereka hanya berani melihat apa yang dilakukan itupun sebagian sudah dibubarkan karena mengganggu lalu lintas jalan.
Bunyi mobil sirine ambulance telah datang untuk membawa kedua korban yang tidak bernyawa.
"Ya Allah, apa yang telah kulakukan?" Seru Abi mengetahui apa yang telah diperbuatnya hingga menghilangkan dua nyawa sekaligus.
"Aku sudah menjadi pembunuh." Sambil meraup wajahnya dengan kasar dan menjambak rambutnya dengan frustasi.
Abi dibawa juga ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan pada lukanya.
"Pak, apa yang akan bapak lakukan? melihat kejadian inu kemungkinan besar akan dibawa ke jalur hukum." Kata Polisi yang dilihat dari nametag bernama Doni Harahap.
"Baiklah."
Polisi yang berbadan Gemuk datang setelah selesai memeriksa identitas korban.
" Sepertinya kedua korban bekerja sebagai audit di retail terlihat dari barang bawaannya. mereka bernama Rudy dana Farhan."
"Segera hubungin mereka pakai handphonemu saja agar bisa segera diselesaikan Jay." Perintah Doni ke Jay.
"Baiklah."
__ADS_1
Tidak berselang lama pengacara Rudi datang bersamaan juga dengan keluarga Rudy.
Rudy yang belum menikah hanya kedatangab kedha orang tuanya. Ibunya sudah menangis histeris sebagai lelaki Bapak Rudi hanya bisa menenangkan Istrinya.
Negosiasipun terjadi antara pengacara Abi dengan orang tua Rudi yang akhirnya berujung perdamaian dengan kompensasi uang 200 juta Rupiah.
"Ada- ada aja loe, ngamuk gak.jelas di jalan raya. Nyusahin gue aja." Pengacara Abi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Abi. Dia kira sirkuit balapan apa jalan raya itu?
"Loe pikir itu gue? itu setan yang ngendarai mobil gue Denis Alamsyah." Imbuh Abi sama teman masa SMA sekaligus pengacaranya.
"Iya, loe setannya. Gue mau keluar bentar, loe urus dulu tar yang kedua. Gue ada sidang, kalau gak bisa loe urus ntar gue yang nanganin" Jawab temannya sambil permisi untuk pergi ke persidangan.
Lorong rumah sakit yang sunyi tiba-tiba terdengar sangat berisik denban suara langkah yang terhentak cepat dan keras.
Seketika Abi mengangkat wajahnya ingin tahu siapa yang datang. Dilihatnya seorang wanita berhijab biru tergerai lebar tertiup angin berjalan cepat. Wajahnya yang manis tidak putih tapi bersih seperti bersinar tapi terlihat kesedihan yang mendalam raut wajah itu, matanya yang bulat sipit berderai air mata, hidung yang kecil mancung memerah. Dia berjalan cepat sambil memegang erat tas kecilnya seperti mencari kekuatan disana.
"Apakah dia?"
#Siapakah dia? Adakah yang tahu?#
#Semangat selalu#
like,comment and vote dears..
__ADS_1