
Happy reading
🍇🍇🍇
"Maafkan aku...." Abi melirik Fanny yang tertidur memunggunginya...
Abi menyugar rambutnya kemudian menjambaknya dengan kuat. Apa yang telah ia lakukan? Apa yang dirasa Fanny sekarang?
"Sayang...." Abi berusaha memanggil Fanny tapi yang dipanggil tetap tidak bergeming.
"Sayang,,,maafkan mas ya....Mas benar - benar lelah hari ini hingga gak semangat untuk melakukannya. Bagaimana kalau kita coba menjelang subuh nanti?"
Abi berusaha tetap berbicara dan membujuk Fanny, bagaimanapun Fanny istrinya ia tidak boleh egois dengan perasaannya.
Fanny tetap terdiam dan enggan menjawab bujukan Abi hingga Abi memilih diam dan menyerah membujuk Fanny dan memilih tidur dengan memeluk Fanny, mencoba menyalurkan ketenangan untuk Fanny dengan pelukannya.
"*Kenapa mas sekarang berubah? Dahulu saat aku sentuh sedikit mas sudah terbuai dan hanyut dalam sentuhan yang kita buat tapi kini apapun yang aku usahakan tidak sedikitpun mas merasa menginginkannya..
Apakah aku sudah salah bertindak? Kenapa pandangan mas begitu kosong untukku tidak seperti dulu memandangku dengan penuh dambanya*.."
Fanny menangis dalam diamnya,,ia berusaha memejamkan matanya tapi kawah kesedihan itu terus mengalir keluar dari mata yang terpejam itu.
"Hangat..pelukan mas masih sehangat dulu tapi tidak dengan perasaan mas yang terasa sangat dingin dan tidak bisa tersentuh olehku mas....Kenapa perasaan ini bisa terasa sesakit ini...."
Fanny menahan sesugukan yang akan keluar dari bibirnya yang ia katup dengan serapat mungkin hingga harus menggigit bibirnya untuk menahan agar suara isakan itu tidak keluar. Fanny mempererat pelukan digulingnya, membenamkan kepalanya disana agar air mata yang tidak tahu diri keluar tanpa henti itu tidak terlihat dan suara menjengkelkan itu tidak terdengar oleh orang yang sedang tertidur dengan memeluknya.
Di perkotaan yang penuh dengan rumah tinggi menjulang dengan kesomobongannya tidak ada suara kicauan ataupun pekikan kokokan ayam yang akan mengusik gendang telinga.
Abi tersadar dari tidurnya yang terbangun kesiangan saat silau mentari menerobos masuk dari celah tirai jendela kamarnya.
"Mati aku, ketinggalan subuh bisa - bisa Zia nanti ngamuk."
Abi dengan segera lompat dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi. Walau kesiangan Abi tetap menunaikan sholat subuh yang kesiangan itu karena tidak ada maksud Abi untuk melewatkan waktu sholat.
__ADS_1
"Fanny sayang bangun..." Abi membangunkan Fanny yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Apakah ia menangis tadi malam? Ya Allah, begitu salah diriku sudah membuatnya merasakan sakit dihatinya karena penolakanku." Abi melihat wajah Fanny yang sembab dengan lingkar hitam dimata terlihat sangat jelas dan sedikit bengkak.
"Sayang..." Abi memanggil Fanny lagi dengan lembut, tidak lupa memberikan ciuman mesra ke seluruh wajah Fanny agar Fanny terusik dalam lelap panjangnya.
"Aku masih ngantuk mas,," Fanny masih enggan membuka matanya karena ia baru bisa tertidur menjelang subuh.
"Ya udah,, nanti bangun sarapan ya..mas hari ini gak ke kantor ada yang mau mas tunjukin ke kamu. Nanti kita keluar berdua ya sayang."
"Ehm..." Hanya suara gumaman yang menyahut perkataan Abi.
Abi kembali kekamar mandi untuk membersihkan dirinya dan beranjak ke lantai bawah.
"Udah bangun bang?" Zia menyapa Abi yang sudah terlihat di area rumah keduanya yaitu dapur.
"Udah dek, abang laper.."
"Ya udah duduk dulu. Ini bentar lagi juga masak..." Zia melanjutkan masakannya yang sempat ia abaikan saat suaminya datang.
"Adek mau kdrt sekarang ya?" Ringis Abi.
"Nyium gak tahu tempat, kalau dilihat orang gimana?"
"Kan udah halal dek.."
"Halal sih halal kalau tadi mba Fanny lihat gimana? Abang yang buat peraturan, abang yang ngingkarin." Zia ngomel - ngomel sepanjang ia memasak. Zia tadi malam juga tidak bisa tertidur, ia juga merindukan suaminya tapi ia sadar Abi bukan hanya miliknya, jadi Zia lebih memilih meluapkan segala yang ia rasa dengan sholat malam dan berzikir terus menerus agar semua yang menghantui pikirannnya hilang dan pergi berganti dengan kerinduan kepada sang pencipta.
Abi meneliti semua kegiatan yang Zia lakukan, ia nelirik jam masih menunjukkan pukul enam subuh...
"Sepertinya masih ada waktu..."
Tanpa pikir panjang saat Zia sudah menyelesaikan masaknya, Abi menggendong Zia hingga Zia tidak bisa melakukan perlawanan.
__ADS_1
"Abang turunin.."
"Gak mau,,masih sempat sebentar, abang mau kangen - kangenan dulu.." Abi tersenyum dengan nakalnya.
"Tapi bang...." Abi membungkam bibir yang akan selalu memprotesnya itu hingga mereka sampai dikamar Zia.
Tanpa menjeda waktu Abi langsung membuka semua yang menutupi tubuh mereka berdua dan menyalurkan rasa rindu yang terhambat saat malam tadi yang memisahkan mereka...
"Makasih adek abang sayang..." Abi menngecup seluruh wajah Zia, bibir yang mengerucut itu juga tidak lepas dari sentuhan bibir Abi. Abi tidak mau bermain lama - lama karena ia tahu waktu tidak akan mau berhenti untuk ia menikmatin Zia dengan berlahan.
"Abang, kalau gini adek harus mandi dua kalikan?"
"Kalau gitu, ayo sini abang mandikan."
"Ahhh!!" Zia kembali tak bisa bergerak saat Abi sudah mengangkatnya dan membawanya kekamar mandi didalam kamarnya.
Mereka mandi dengan secepat mungkin agar bisa turun kebawah bergabung dengan yang lain.
Zia duluan turun kebawah untuk melihat anak - anaknya sudah siap berangkat ke sekolah atau belum..
Hijab yang ia pakai tidak bisa menutupin kalau rambutnya sedikit masih basah karena ritual mandi besarnya..
Zia sedikit tersentak saat melihat Fanny sudah duduk di meja pantry sendiri, sedangkan yang lain sedang sarapan di meja makan.
"Kamu kok bisa keramas pagi - pagi? Bukannya tadi malam tidur sendiri ya?" Zia tidak tahu perkataan Fanny sekedar pertanyaan atau sebuah sindirin melihat sorot matanya yang seperti menelisik ingin mengetahui sesuatu...
"Gak mba,, Zia memang suka keramas pagi kok." Jawab Zia.."Suka keramas pagi kalau habis di adon suami maksudnya mba." Jelas Zia didalam hatinya.
"Ohw..lalu mas Abi mana?" Tanya Fanny penuh selidik
Zia terdiam sesaat dan tampak bingung menjawabnya karena Zia tahu Abi masih ada didalam kamarnya.
"Eh..itu..."
__ADS_1
#Itu apa Zia...susah ya kalau gak pande bohong harus bersilat lidah#
#Bantu like comment and vote dears#