
**Happy reading
🍇🍇🍇**
"Nak Zia jadi ini bagaimana?" Tunjuk Pak camat dengan lirikan mata ke benda yang ada dibawah meja. Sedangkan bu camat didapur sedang menyiapkan makan malam.
Zia hanya meringis melihat banyak tumpukan map disana, mungkin ada sekitar 10 buah lebih atau kurang karena Zia tidak pernah mau menyentuhnya.
"Yakin mau pilih Abi? tidak lihat itu dulu?" Zia baru ingat tentang itu kenapa dia tidak terpikir dari tadi?
"Yakin pak,lagian kalau saya lihat juga belum tentu mereka terima kalau saya belum bisa menerima mereka seutuhnya." Kalau dengan Abi karena kejadian kemarin mau tidak mau Abi juga harus menerima keputusan Zia.
Lagian dari awal Zia memang tidak ada niat menikah karena Zia ingin menjadikan Farhan terakhir tapi kini entahlah Zia hanya memasrahkan semua kepada Allah semoga keputusannya benar.
"Jadi ini.."
Bip..bip
Tiba tiba Pesan masuk ke handphone pak camat.
"Asslamualaikum pak, saya mau tanya pak yang dibawah meja rumah bapak tadi apa ya? kok ada nama untuk Zia?"Tanya Abi
"Nak Abi lihat? Itu berkas taaruf untuk Zia, semenjak Farhan meninggal banyak yang menitipkan biodata taaruf untuk Zia menunggu masa iddah Zia usai tapi belum pernah Zia sentuh."
"Kalau begitu sekarang Zia kan calon istri saya pak, bukankah itu sudah harus dibuang?"
Pak Camat terlihat tersenyum dan geleng-geleng kepala membaca pesan Abi, kelihatannya ada yang sudah tumbuh bibit cemburu. Tapi sepertinya Pak camat ingin bermain dengan Abi.
"Tapi kata Zia dia mau melihatnya dulu, mana tahu ada yang cocok dia akan membatalkan menikah dengan nak Abi."
"Tidak bisa seperti itu pak, kan Zia sudah menerima jadi tidak bisa ditarik lagi. Bisa saya minta nomor handphone Zia pak? Saya mau kejelasan darinya."
"Jadi ini apa pak?" Tanya Zia yang dari tadi menunggu pak camat membalas pesan.
"Oh iya, ya jadi harus dibuang."
"Terserah Bapak saja, Zia permisi pulang dulu pak."
__ADS_1
" Tunggu dulu kalau Abi minta no handphine gimana?"
"Mana baik aja pak yang penting jangan terlalu sering menghubungi. Assalamualaikum pak."
"Waalaikumsalam."
Pak camatpun dengan segera membalas pesan Abi lalu berdiri menyusul istrinya yang sedang dibelakang.
Ting..
"Pak camat sudah memberikan nomor Zia, bagaimana cara aku menghubunginya? Kalau dia benar - benar menolakku gimana?"
Abi sudah seperti remaja yang ingin menyatakan cinta tapi takut ditolak.
" Telpon atau kirim pesan aja ya?" Abi Uring - uringan mengingat kata - kata pak camat. "Ternyata banyak yang tertarik dengannya, gimana dengan aku yang hanya menjadikannya yang kedua?."
"Abi tenang, jangan gegabah besok saja hubunginnya nanti dia berfikir negatif dan benar-benar membatalkannya."
Abi berusaha menenangkan dirinya sendiri langsung beranjak ke kamar mandi, tadi sesampai dirumah karena rasa penasaran yang sudah dipuncak Abi memilih mengirim pesan ke Pak camat dahulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mengantar anaknya sekolah, Zia ingin segera menghubungi kedua orang tuanya untuk mengatakan apa yang terjadi dengan Zia saat ini..
"Assalamualaikum dek?"
"Siapa yang kirim pesan ini? sejak kapan aku punya abang?" Zia mengabaikan pesan itu dan langsung menghubungi kedua orang tuanya yang sebenarnya hanya tinggal beda kota dengan Zia tapi tidak terlalu jauh sekitar satu jaman dari rumah Zia sekarang.
"Hallo bu assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, gimna kabarmu nak?"
"Alhamdulilah baik bu, Bu bapak ada?"
"Ada, bapakmu belum berangkat ke ladang."
"Zia mau bicara sama Bapak dan ibu, bisa panggilin bapak bu? sekalian dispeakerkan biar dengar suara Zia bareng."
__ADS_1
"Pak, sini Zia mau ngomong." Teriak ibu yang sedang nonton tv sedangkan bapak agak jauh duduk dikursi tamu plastik sambil menyeruput kopinya.
"Ada apa nak? Dirimu baik - baik sajakan?"
"Iya pak Zia baik tapi dengerin Zia cerita dulu jangan dipotong ya pak buk."
Zia mulai cerita dari awal saat Farhan meninggal dan dibawa kerumah sakit hingga bisa bertemu dengan Abi, bapak dan ibu mendengarkan dengan seksama kata - kata Zia takut ada yang terlewatkan
"Astaghfirullah nak, ada kejadian seperti itu kenapa gak cerita ke kami?" Sesal Ibu Fatma
"Maafkan Zia buk..e, Zia gak mau buat Ibu dan Bapak khawatir."
"Jadi sekarang gimana? kamu yakin dengan pilihanmu menikah lagi dengan laki - laki yang akan menjadikanmu istri kedua? Bapak selalu mendukung apapun keputusanmu Zia secara syariat memang lelaki boleh istri lebih dari satu tapi apa hatimu siap saat terjadi ketidak adilan? Saat cemburu datang?" Tanya pak Rahman
"Zia tahu pak, tapi semua Zia serahin ke Allah semoga Zia bisa menghadapi garis takdir yang diberi Allah yang penting Saf dan Aif tidak di sakiti hatinya."
"Baiklah jika itu keputusanmu Bapak dan ibu hanya bisa mendukung tapi ingat saat kamu tidak sanggup ada tangan bapakmu ini yang masih kuat merengkuhmu memberimu kenyamanan dan kekuatan."
"Makasih pak." Zia mulai menangis, bapaknya memang bapak yang terbaik mendukung Zia dalam kebaikan,mengingatkan Zia jika salah dan mengulurkan tangannya saat Zia lelah.
"Ya udah, jangan nangis gitu ntar ibukmu yang cantik ini takutnya ikut nangis juga, coba lihat matanya uda sendu gitu." Pak Rahman merasakan sakit dipinggangnya karena cubitan Ibu, uda tua masih aja suka ngegoda.
"Jadi kapan..Nak siapa tadi namanya?"
"Abi pak."
"Ah iya, Kapan nak Abi kemari memintamu. Bapak juga mau lihat gimana dia."
"Ntar Zia tanya pak. Uda dulu ya pak bu, sehat - sehat disana. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Zia sudah lega sekarang setelah selesai bercerita ke orang tuanya tapi berbeda dengan yang disana
"Kenapa Zia tidak membalas pesanku? Apa aku telpon saja? Atau kirim pesan lagi?" Abi mengacak - ngacak rambutnya frustasi sambil duduk dengan tumpukan berkas dihadapannya yang sama sekali tidak selera ia sentuh.
#lah abi gimana mau dibalas, nomor dikenal enggak langsung sok akrab manggil adek#
__ADS_1
#bantu like,comment and vote ya#