Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Kejutan untuk Zia


__ADS_3

Happy reading


🍇🍇🍇


Tiada masalah yang tidak ada jalan keluarnya, semua tergantung dengan kita, berani menghadapin atau hanya lari dari masalah tersebut, itu semua adalah pilihan hidup yang nanti akan kita jalanin.


Zia tidak tahu ia akan dibawa kemana sama suaminya, Abi menculik Zia secara tiba - tiba tanpa permisi langsung kepada kedua orang tuanya yang sedang asik bermain dengan cucunya.


"Bang, nanti papa mama khawatir kita pergi gak bilang - bilang.." Zia sangat khawatir pergi tanpa permisi.


"Udah abang kirim pesan kok tadi ke papa, jadi kamu tenang aja. Mereka gakkan nyari kita." Jawab Abi dengan santai dan tersenyum ke arah Zia, Abi tanpa merasa bersalah menautkan jari mereka dengan tangan kiri yang tidak memegang kemudi.


"Emang kita mau kemana bang? Nanti anak - anak nanyai gimana?" Zia tidak mau meninggalkan anaknya berlama - lama apalagi sampai mereka mencari Zia atau membutuhkan sesuatu?


"Dek,,, mereka uda sama opa dan omanya jadi biar kita berdua hari ini dan mereka akan bersenang - senang juga. Kamu gak perlu khawatir."


Zia kali ini hanya diam pasrah akan dibawa Abi kemana dan berdoa semoga anak - anaknya tidak bingung mencari Zia.


Perjalanan yang menyita waktu mengajak Zia untuk tertidur diperjalanan,


"Nyenyak banget tidurnya, apa dia tidak tidur tadi malam? Wajah saat ia tidur selalu menjadi obat bius hingga aku juga ingin ikut tertidur bersamanya. Hah...Sabar Abi,,,sebentar lagi sampai, loe bisa puas tidur setelah habis ngadonin Zia sepuasnya." Abi memberi semangat dirinya sendiri agar tidak terbawa hawa ngantuk yang suka menyerang saat sedang menyetir sendiri.


Tangan Abi tidak pernah mau melepaskan genggamannya walau jemari Zia sudah melemah...


"Semoga nanti kami suka sayang..." Abi mencium tangan Zia yang tidak ada tenaga didalamnya lagi.


Sekarang semua lelah hilang menguap setelah sampai di tempat yang dituju.. Terlihat sebuah Villa yang berada diatas bukit kecil sangat asri...Pemandangan sejuk menelusup ke pori - pori kulit hingga yang merasakannya pasti ingin mencari kehangatan.


Zia yang merasakan hawa dingin yang tanpa segan menembus kain yang membalut tubuh polosnya terbangun. Zia menoleh ke kanan kiri hingga memalingkan kepalanya ke belakang..


"Bang..." Tidak ada Abi di dalam mobil mereka.. Zia merasa sedikit ketakutan berada sendiri disana, apalagi pohon - pohon besar besar terdengar gemerisik saling bersenggol dedaunan menandakan tiada seseorangpun ada disana.


Zia memberanikan untuk turun dari mobil mencari suaminya..


"Apakah aku harus bertanya?" Zia melihat ada sebuah Villa yang sangat dekat dengan mobil Abi. Dengan langkah ragu Zia menuju Villa tersebut. Waktu sudah menunjukkan sore hari, Zia juga khawatir meninggalkan sholat Asharnya. Paling tidak ia bisa minta izin melaksanakan sholat dahulu.


"Assalamualaikum..permisi..." Zia mencoba mengucapkan salam tapi tidak ada sahutan dari dalam.


Hati Zia mulai gelisah, apa yang harus ia lakukan hingga tanpa sengaja tangan Zia yang memegang handle pintu terdorong hingga pintu terbuka...


Gelap...satu kata yang dirasakan Zia saat melihat dari luar kondisi dalam Villa. Zia mencoba mengucapkan salam lagi tapi semuanya nihil ,tidak ada jawaban yang Zia dengar.


Zia ingin masuk kedalam, tapi bukankah itu tidak sopan tapi kaki Zia tiba tiba melangkah masuk penasaran dengan bibir yang terus mengucap salam berharap ada orang yang mau membalas ucapannya.


BAMM!!

__ADS_1


Zia yang masih masuk diujung bibir pintu terkejut dengan pintu yang tiba - tiba tertutup. Buluk kuduk Zia berdiri bersamaan dengan degup jantung yang berlari dikejar rasa ketakutan.


Zia menahan rasa takutnya, ia mencoba membuka pintu masuk tadi tapi terkunci, bagaimana bisa? Zia menggigit bibir bawahnya, ketakutan mulai menjalar keseluruh tubuh Zia..


"Bang,, Zia takut..." Seberapa rasa takut kalau ia tidak melangkah mencari jalan keluar, Zia tidak akan bisa keluar. Dengan sedikit keberanian Zia melangkahkan kakinya masuk ke lebih dalam lagi dengan mata yang awas mencari dan melindungi diri.


S****reek!


Kaki Zia merasa menginjak sesuatu...


"Kertas?" Zia mengambil kertas itu dan membacanya..


Teruslah melangkah kedepan....


Zia mengikutin kata - kata yang tertulis didalam kertas hingga ia sampai di ujung tangga.


"Ada kertas lagi?" Zia membaca kertas kedua yang ia temukan tertempel di tiang penyangga tangga.


Naiklah keatas dan temukan kamar nomor tiga dari pojok kanan.


Zia menaiki tangga dengan hati - hati, sikap waspada tetap ia gunakan, Zia penasaran untuk siapa surat itu? Dan apa yang ada disana? Zia berharap menemukan sesuatu yang bisa membuat ia kembali. Kalau tahu seperti ini lebih baik Zia tadi tetap didalam mobil menunggu Abi, ingin menelpon juga sinyal tidak mendukung didaerah sini..


Zia menghitung kamar dari pojok kanan hingga Zia terfokus pada kamar dengan hitungan ketiga. Zia membuka pintu itu secara berlahan..


"Bismillah...."


"Apa itu?"


Zia mendekat ke lilin tersebut, melangkahkan kaki dengan hati - hati takut terkena api lilin, mengambil sesuatu yang berada di tengah lilin berbentuk love.


"Surat dan ini..?"


Zia memilih membaca surat itu terlebih dahulu...


**Hai Zia istriku...


Mau kan kau menjadi Ibu dari anak - anakku..


Agar bangunan cinta kita ramai akan gelak tawa dari buah cinta kita..


Tetaplah ada disisiku sayang...


Hingga saat aku kehilangan tujuan, ada dirimu yang mengingatkanku akan tujuanku...


Jangan berhenti tersenyum..

__ADS_1


Penat yang kurasa hilang terkikis oleh senyummu.


Jangan pernah jenuh menggenggam tanganku..


Karena kamu sumber kekuatanku


I love You istriku..


Tertanda pemilik Zia Zahra


Abi Zidan**


Zia tersenyum membaca surat Abi, tapi Abi kemana? Zia juga penasaran dengan isi kotak kecil itu...


"Jangan dibuka.." Abi menutup mata Zia hingga Zia sedikit terkejut. " Tutup mata adek, biar abang yang buka." Zia menurutin kata - kata Abi...


Abi membuka kotak kecil itu... lalu memasangkan kalung denga liontin berhias initial AnZ dengan hiasan berlian kecil ditengahnya.


"Gimana? Adek suka?" Zia kini membuka kelopak matanya..


Zia menganggukkan kepalanya berulang kali saat melihat kalung yang sangat cantik bertengger di lehernya, Zia langsung berhambur memeluk Abi yang tidak siap menerima pelukan Zia hingga mereka hampir terjatuh kalau Abi tidak segera menyeimbangkan tubuhnya.


"Makasih bang,, Adek tadi sempat ketakutan..tapi kali imi adek bahagia banget.. makasih dengan semua perasaan abang dan makasih juga hadiahnya." Zia melepas pelukankannya.


Ia beralih mencium punggung tangan Abi...


"Semoga suami Zia, diberikan rezeki yang barokah."


"Hadiah buat abang mana?"


"Hadiah apa?" Zia bingung ia tidak ada mempersiapkan hadiah untuk Zia..


"Abang mau ini.." Abi menunjuk bibir Zia...


"Bang,, adek belum sholat.." Abi menghela napasnya, ia harus menahan untuk beberapa waktu lagi karena kewajiban menanti...


"Ayo kita sholat, habis sholat kita lanjutkan hadiah yang abang mau ya.." Abi mengedipkan matanya ke Zia.


Zia merona malu,, sejak kapan suaminya jadi genit dan makin meshum begini?


"Kamu juga gak kalah meshumkan Zia? Tapi kan gak semeshum itu juga.." Zia kok jadi kesal ya,, hatinya malah membela Abi...


"Mesum sama suami sendiri gak masalah kan?" Bela hati Zia lagi..


#Abi uda mau nunjukin sikap romantisnya ni#

__ADS_1


#bantu like, comment and vote dears#


__ADS_2