Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Sebuah pernyataan


__ADS_3

Happy reading


🍇🍇🍇


Zia dan Rani membentang tikar dengan lebar, menata berbagai makanan dan cemilan untuk mereka makan nantinya.


Anak - anak sedari sampai di taman langsung ke arena permainan dengan semangat yang membuncah.


Hijau Rindangnya pepohonan membawa semilir angin menyejukkan, ditambah kondisi taman yang sepi karena bukan hari libur menyibakkan kedamaian bagi hati gelisah yang sedang ingin butuh obat penenang.


"Papa kemana ya ma? Kenapa tadi gak bareng kita aja?"


"Gak tahu tuh, katanya mau jemput anaknya yang lagi galau biar disini bisa kebuka pikirannya. Kamu tahu Abi galau kenapa Zia?"


"Gak tahu ma, bang Abi gak mau cerita."


"Dia selalu gitu, gak pernah mau terbuka kalau bukan karena lagi kepepet . Sama Abi itu kamu yang harus tegas Zia biar dia gak lembek. Kalau perlu pojokkan terus dia sampai mau mengatakan sesuatu."


"Apa perlu seperti itu ma? Bukankah harusnya pasangan itu harus saling terbuka?"


" Itu yang harus kamu ajarin ke dia, dia terlalu banyak memendam dari dulu, apalagi sikap Fanny yang cuek dan gak mau tahu masalah Abi, jadi harus kamu yang ajak dia terbuka, kalau perlu lakukan pillow talk sebelum tidur agar rumah tangga jauh dari masalah."


"Baiklah ma, akan Zia coba."


Kini Zia memilih duduk bersandar di sebuah pohon rimbun yang sangat besar hingga biasan cahaya dari matahari hanya bisa masuk dari celah - celah dedaunan.

__ADS_1


Zia memikirkan bagaimana kehidupan rumah tangganya kelak, melihat rindangnya pohon yang sekuat ini masih ada celah untuk cahaya bisa menembus masuk kedalamnya dan angin yang berhembus masih bisa menggugurkan daun yang goyah saat menerpanya.


"Jika pohon sebesar ini saja belum tentu bisa melindungi dirinya dari masalah yang diluar, bagaimana dengan seseorang yang berhati lemah? Haruskah aku yang menjadi kekuatan disaat yang diharap bisa menopang malah mudah tumbang?"


Zia tersenyum tipis sambil memejamkan mata disaat merasakan hembusan angin membelai lembut wajahnya.


"Kelihatannya menikmatin banget.."


"Eh, papa udah datang?"


Abi pergi menuju taman kota tempat dimana keluarga yang ia sayangi berada, Abi tidak jadi pergi bersama Faiz tadi karena ada yang harus ia persiapkan terlebih dahulu.


Senyum di wajahnya tidak pernah luntur karena ia sudah memastikan hatinya dan akan mengambil tindakan untuk keutuhan keluarganya kelak.


"Ssst" Abi memberi isyarat dengan jari telunjuk dibibirnya, agar Rani dan Faiz tidak memberitahukan pada Zia yang sedang duduk membelakangi arah datangnya Abi.


Dengan langkah yang bersembunyi dalam keheningan Abi melangkah mendekatin Zia.


Zia tiba - tiba tersentak merasakan pandangannya gelap karena ada dua tangan yang menutupinnya. Zia ingin menjerit tapi saat meraba tangan yang tanpa permisi menutup matanya serta aroma tubuh sudah melekat di indra penciumanannya Zia tidak jadi melakukannya...


"Abang,,,lepasin gak? Abang gelap loh."


"ssstt, dengerin abang, kalau tiada cahaya indah yang bisa adek lihat jika itu karena abang. Ingatlah, itu karena tangan ini yang menutupinya agar adek tidak melihat bahwa didepan sana ada awan mendung yang siap membawa kilatan dan petir yang siap membawa badai. Tangan ini hanya ingin melindungi agar disaat mendung itu pergi adek bisa melihat lagi cahaya keindahan itu lagi tanpa ada mendung didalamnya." Usai dengan ucapannya Abi mencium ubun - ubun Zia dari belakang tangan yang menutup mata Zia berahlih mendekap Zia dengan erat.


"Maaf..." Satu kata yang bisa Abi bisikkan hingga hati seseorang yang Abi dekap keluar dari himpitan yang menyesakkan.

__ADS_1


"Ehm,, sepertinya kita nyusul cucu - cucu kita aja yuk sayang." Faiz merasa Abi membutuhkan waktu berdua dengan Zia.


"Iya,, disini perasaan jadi hangat - hangat gimana gitu." Balas Rani sambi memberi tatapan mengejek pada sepasang manusia didepannya, Zia hanya bisa tertunduk malu didekap Abi didepan mertuanya.


Faiz dan Rani pergi meninggalkan Abi dan Zia berdua, memberikan sedikit waktu agar mereka bisa saling menyalurkan segala yang ingin didengar.


"Dek..." Zia hanya diam sambil menatap Abi yang memanggilnya, kini Abi memilih merebahkan dirinya di paha Zia.


"Abang minta maaf jika sudah melukai hatimu, tidak ada sedikitpun maksud untuk melukai tapi hanya ingin menjaga yang kenyataan malah kebalik menjadi sebuah luka.


Abang kemarin mendapat kabar dari Fanny, jika ia ingin ditemanin saat acara pengangkatan resminya disana.


Abang yang tidak biasa memiliki dua istri merasakan kebingungan dan ketakutan kala itu..."


"Bingung dan takut kenapa?" Zia tidak mengerti apa yang harus dibingungkan dan ditakutkan, karena memang kewajiban Abi memberikan hak untuk mba Fanny dan Zia juga tidak mempermasalahkan apapun.


"Bingung karena abang sekarang tahu apa yang ada disini dan takut dengan yang ada disana.." Jari Abi menunjuk tepat dimana jantungnya berada dan berahlih menunjuk ke arah jantung Zia.


"Ma..maksud abang?" Zia tidak mau salah menebak tapi ia seakan tahu Abi akan mengatakan apa.


"Abi Zidan sudah sepenuhnya mencintai Zia Zahra." Abi menatap lekat mata Zia tanpa urung menghindarinya.


#Akhirnya jujur juga...#


#bantu like comment and vote dears#

__ADS_1


__ADS_2