Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Sengsara membawa nikmat


__ADS_3

Tok!!..Tok..!!Tok..!!


Suara ketukan pintu sangat terdengar dari kamar Abi.


"Abi, banguun!!"


"Apaan sih ma, pagi - pagi sudah berisik banget." Keluh Abi membuka pintu sambil menggaruk kepalanya.


"Jam segini masih tidur? Ayo cepet antar mama ketemu calon mantu."


"Ma, ini masih pagi dan Abi harus ke kantor dulu ma."


"Mama gak mau tahu hari ini kamu harus minta izin gak masuk. Apa perlu mama yang minta izin langsung ke papamu?"


"Ma semua orang disanakan tahunya Abi hanya karyawan ma, gak mungkin Abi sembarangan aja absen."


"Ya itu urusanmu, pinter - pinter kamulah cari alasan."


"Sesenang mama ajalah." Abi lebih memilih mengalah dari pada adu debat dengan mamanya yang dipastikan tidak akan pernah menang.


"Mama tunggu di bawah cepetan, habis sarapan kita langsung pergi."


Abi tidak mau mendengar omelan mamanya jilid dua langsung bergegas mandi dan bersiap.


Abi memakai pakaian casualnya hingga ia terlihat lebih muda.


"Mama yakin mau pergi sekarang? masih pagi ini loh ma." Abi mencoba negosiasi dengan mamanya sambil duduk dikursi dan mengambil sarapannya.


"Yakin pakai banget pokoknya kalau perlu mama nginap disana."


"Mama jangan bikin malu Abi ma, Abi aja belum dekat dengannya, jangankan saling bicara ma, mandang Abi aja dia gak mau ma."


"Ada juga yang menolak pesonamu.."


"Ini mau sarapan atau cerita?" Suara Faiz menghentikan percakapan Abi dan Rani tanpa menjawab mereka langsung makan dengan hening.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Zia merasa sekarang orang hobi banget bertamu pagi kerumahnya.


"Apa kamu nak Zia?"


"Iya bu, maaf dengan ibu siapa ya?"


"Saya bu Rani." Zia langsung menyalim Rani menghormati orang yang lebih tua


Mama rani yang diperlakukan Zia seperti itu langsung tersanjung, hatinya memancarkan kebahagiaan tanpa aba-aba langsung memeluk Zia.


"Maaf bu ada perlu apa ya bu? Mau mesan kue atau ada yang lain?" Zia yang terkejut dipeluk langsung memberikan pertanyaan ke Rani


Siapa yang tidak terkejut dan heran baru pertama kali datang langsung main peluk aja.


Rani melepas peluknya dan mencium pipi Zia dengan sayang.


"Boleh kami masuk?" Bukannya menjawab pertanyaan Zia, Rani malah memberi pertanyaan balik.


"Kami..?" Zia mulai mencari arti kami dan matanya langsung tertuju pada mobil Abi yang sudah terpakir didepan rumahnya dan saat itu Abi Keluar menutup pintu dengan pria paruh baya yang sedang menggendong Icha.


"Bunbun.." Teriak Icha "Opa tukhunin Itha, itha au chama bunbun."


"Assalamualaikum." Sapa Abi


"Waalaikumsalam" Jawab Zia "I..Ini.."


"Kenalkan ini kedua orang tua abang dek." Sejak kapan panggilan mereka berubah? Adek? kayaknya Zia tidak asing dengan kata itu..


"Salam kenal nak Zia. Saya Faiz papanya Abi" Ucap Faiz dengan senyum tulusnya dibalas senyum dan menangkupkan kedua tangannya didepan dada.


"Silahkan masuk pak abi,bu rani dan pak Faiz."


"Loh kok manggil Abi sama kayak manggil papanya? serasa anak saya sudah tua aja." Rani tidak terima Abi dipanggil Bapak oleh Zia.


"Maaf bu, hanya biar sopan aja."


"Kamukan uda mau nikah sama Abi, uda panggil aja dia abang, kalau saya mama dan suami saya papa, bagaimana?" Zia merona malu dengan perkataan Rani yang juga merangkulnya untuk duduk disofa yang sama dengannya.


"Baik lah ma." Zia lebih mencari aman.

__ADS_1


"Nah gitukan enak dengernya.."


"Icha duduk disini dulu ya, bunbun mau kedapur bentar."


"Iya bunbun."


" Zia permisi kebelakang dulu ya ma buat minum." Zia berjalan menunduk saat melewati kursi Faiz semua kelakuan Zia tidak luput dari pandangan orang tua Abi.


Saat Zia sudah tidak terlihat, Rani langsung mendekat ke Abi dan menepuk paha Abi


"Mama ni selalu main kekerasan sama anak sendiri."


"Gitu aja sakit, kamu beruntung Abi. Ini namanya sengsara membawa nikmat." kata Rani dengan pelan..


"Maksud mama?"


"Dibalik musibah yang menimpa kamu, kamu jadi bisa bertemu wanita seperti Zia bagus banget sikapnya, kalau seperti ini jangan kamu tunda, mama ikhlas sepenuh hati kamu menikahinya."


Abi tidak menjawab perkataan Rani karena Abi juga membenarkan semua itu.


"Diminum tehnya ma,pa dan bang Abi, maaf jika hanya ada teh hangat dan ini ada kue juga silahkan dicicipin." Zia sebenarnya enggan memanggil Abi dengan abang tapi Zia tidak mau orang tua Abi tersinggung.


Rani langsung mengambil dua kue satu diberikannya ke icha


"uwena ennakh oma."


"Iya enak, beli dimana Zia?"


"Oh ini Zia buat sendiri kebetulan ini juga lebihan pesanan orang ma tadi subuh." Jelas Zia


"Jadi kamu jualan kue gitu?"


"Iya ma kalau ada yang mesen zia buat alhamdulilah selalu ada orderan rezeki buat anak Zia."


Rani terharu dengan perkataan Zia, tidak ada kata mengeluh disana tapi yang ada ia bersyukur dengan apa yang Allah beri.


"Nak Zia, bisakah mama bertemu dengan orang tuamu sekarang?"...


#garcep banget mama rani ni..#

__ADS_1


#Bantu vote,like and comment#


__ADS_2