
Happy reading
🍇🍇🍇
"Papa..Bunbun..uthak inthuna.." Jerit Icha sambil memggedor - gedor pintu kamar Zia.
Zia yang mendengar pintu kamarnya digedor Icha dengan langkah kaki lebar msegera membuka pintu kamarnya...
icha langsung masuk kamar Zia, kakinya tidak henti melangkah, kepalanya sibuk menoleh ke kanan kekiri, Matanya yang terus melirik disetiap sudut pandang yang berhasil ia tangkap.
Lebih membingungkan lagi Icha sampai berjongkok menulusuri setiap kolong yang berada di kamar Zia...
"Icha ngapai sayang?" Tanya Zia yang kebingungan melihat Icha seperti sedang mencari sesuatu
"Angan anggu Itha bun, Itha aghi cakhi Adek ayi api eyum etemu." Jawab Icha yang masih sibuk mencari.
"Tapi adek bayinya gak ada disini."
Seketika Icha berhenti dan menatap Zia dengan wajah sedihnya.
"Adji i-ana adek ayina bun?"
Zia tidak habis berpikir dengan pemikiran anak sekecil Zia, untuk menjelaskannyapun ia masih sangat kecil untuk mencerna semua.
"Gimana kalau Icha minta beli tepung sama mama? Biar mama dan papa yang buat adek bayinya."
"Ndak auuu" Icha menggeleng - gelengkan kepalanya dengan wajah yang ditekuk ingin menangis.
"Kenapa gak mau sayang?" Zia menggendong Icha agar ia tidak menangis.
"Ama iyang, Itha ndak oyeh inta adek ayi, anti Itha ndak i ayang aghi.."
__ADS_1
"Emang Icha mau punya adek bayi?"
Icha mengangguk semangat seperti sudah mendapatkan yang ia mau.
"Au..au bunbun, ndak apa Itha ndak i ayang, adek an akhus di ayang achih ayi, adji Itha akhus ngayah ama adek ayi. Itha au engekh uwakha oek oek adek ayi" Jelas Icha dengan semangat saat ia akan menjadi seorang kakak.
"Papa..." Panggil Icha saat melihat Abi sudah keluar dari kamar mandi.
"Ya sayang..."
"Ana..? Atha papa au uat adek ayi?" Sungut Icha
"Toko tepung bukanya lima hari lagi sayang, baru bisa papa adonin buat jadi adek bayi." Jawab Abi sekenanya.yang sudah lancar dengan cerita pertepungan.
"Abang..." Zia kesal merasa jadi korban keinginan Icha yang dimanfaatkan Abi.
"Kenapa bun? Emang bunbun gak sayang sama Icha? Icha mau minta dibuatin adek bayi." Abi mulai memancing kata - katanya
"Cup..cup.. Bunbun sayang Icha.. Icha mau adek bayikan nanti kita buat adek bayi Icha ya,,jadi jangan nangis lagi..": Zia berusaha membujuk Icha agar tidak menangis..
"Benekh bun?" Tanya Icha penuh harap, Zia hanya mengangguk dengan senyuman yang ia paksakan, karena pikirannya masih sibuk berpikir bagaimana bisa membuat adek bayi buat Icha?
"Icha tenang saja, papa pegang janji bunbun,, kalau bunbun boong ntar papa cubit bunbunnya, biar papa nanti yang ingatin bunbun untuk buat adek bayi buat Icha." Perkataan Abi dibalas pelototan tajam Zia yang merasa Abi mulai cari kesempatam agar Zia tidak bisa mengelak lagi.
"Adek ayina ndak adha cheukakhang?" Icha tidak sabar ingin memiliki seorang adek.
" Icha dengerin bunbun ya, adek bayi gak bisa langsung jadi, dia harus pakek tepung yang special lalu nanti dimasukkan ke perut bunbun, adek bayi bisa lihat kakak Icha kalau uda Sembilan bulan. Kalau belum sembilan bulan adeknya masih didalam perut bunbun sembunyi dulu.". Jelas Zia dengan bahasa yang ia harap bisa Icha mengerti.
"Embikhan uan tu,, theghini bun?" Icha menunjukan bentuk jari V ke Zia.
" Tidak, tapi segini." Zia membuat jari Icha sembilan jari.
__ADS_1
"Ama sheikakhi bunbun, athian adekna anti ndak da awan di ekhut bunbun. Ial aak Itha i-ut achuk e ekhut bunbun, ial anti adekna da awanna bun." Jelas Icha lagi yang kasian adeknya sendiri didalam perut Zia.
Zia mulai kebingungan menjelaskan ke Icha lagi, bagaimana bisa Icha masuk dalam rahimnya?
"Kalau kakaknya ikut didalam perut, siapa nanti yang pilihan baju untuk adek bayinya? Adekkan mau dibelii baju sama kaka Icha." Abi mencoba menghasut anaknya yang meminta permintaan absurdnya.
" awok ithu, Itha ndak adji di ekhut bunbun, anthik adekna edininan ndak da ajhu na, ial aak Itha eyikan atjhu uat adek ayi yan anyak cheukalli an anthik - anthik ayak ajhu Itha" Ucap Icha dengan semangatnya sambil kedua tanganya ia rentangkan menunjukkan seberapa banyak yang mau ia beli untuk adek bayi.
"Jadi Icha kesini tadi hanya mau cari adek bayi?" Tanya Zia
"Ndak bun,, api papa ma bunbun i ukhuh e awah ama oma."
Zia menghela napasnya dengan berat, kenapa dia tidak bertanya dari tadi agar tidak panjang ceritanya dan ia tidak akan berjanji seperti tadi.
Abi mengambil alih gendongan Icha dari Zia untuk turun kebawah.
"Abang tagih janjinya nanti ya dek,, ingat lima hari lagi." Bisik Abi ditelinga Zia yang diakhiri dengan hembusan kecil ditelinga Zia hingga bulu kuduk Zia meremang...
Tanpa tahu Zia yang masih mematung Abi menarik tangan Zia dengan tangannya yang masih sendiri, kalau sudah bergandeng tangannya baru berpasangan.
"Ayo kita kebawah..."
"Eh,," Zia hampir kehilangan keseimbangan akibat dirinya yang masih terpaku tadi hingga ia berusaha menyeimbangi tubuhnya dan mengikuti langkah Abi.
Icha yang melihat omanya di meja makan langsung melompat turun dari gendongan Abi tidak sabar ingin kepelukan omanya dengan wajah yang gembira
"Oma...Itha au una adek ayi.."
"Apa?!"
#Ayo abi pepet Zia terus biar gak lepas#
__ADS_1
#Bantu like,comment and vote dears#