Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Jangan bermain dengan Hati


__ADS_3

Happy reading


🍇🍇🍇


Abi sedang melamun di balkon apartemennya, pikiran dan perasaannya terus saja saling beradu argumen akan sebuah kepastian..


Abi jarang merokok bahkan tidak pernah terlihat merokok tapi kali ini dia butuh itu untuk menenangkan pikirannya.


Jangan tanyakan masalah kerjaan yang menumpuk dikantor, dengan tidak ada hatinya ia limpahkan semua ke Teguh yang selalu menjadi sasaran empuk saat ia tidak semangat untuk mengerjakan tugasnya.


"Woi, ngelamun aja loe." Tegur Wira yang langsung masuk aja ke basecamp mereka tanpa ada kata salam yang diekorin Rudi dibelakangnya. Mereka datang menemui Abi yang spam di grup pesan mereka tentang kegalauan hatinya.


"Ngapain kita disuruh kesini iya kan? Kalau hanya untuk nonton orang yang sedang melamun dengan perasaannya yang diambang jurang." Gelak tawa Wira dan Rudi membuat tempat itu kembali penuh dengan suara tidak seperti tadi hanya ada kesunyian yang membentang.


"Lah iya,, udah punya dua istri juga masih nelangsa hidupnya.. Maka nikmat tuhan yang manakah yang akan kau dustakan?" Wira makin mendramatisir keadaan.


"Parah loe,, Kita kesini buat kasih dia solusi bukan membully dia walau seneng lihat mukanya yang kayak kertas lecek." Rudi menimpali perkataan Wira lagi.


" Diam loe berdua, berisik tahu gak?"


Wira dan Rudi langsung mengambil kursi dekat tempat duduk Abi yang sudah mulai merespon ucapan mereka.


"Bro, gue kasih tahu ya, kita sebagai lelaki tuh jangan sampai bermain dengan hati cukup dengan akal." Wira mencoba bijaksana. "Kalau wanita bermain dengan hati dan perasaan mereka itu wajar, karena mereka memang melakukan sesuatu dengan hati tapi kita kaum lelaki menggunakan akal. Jadi saat lelaki sudah berpikir memakai hatinya dia pasti sudah tidak bisa berpikir jernih dan saat yang namanya hati tersakitin maka ia akan terpuruk, beda dengan wanita, dia memang menggunakan perasaan tapi saat disakitin ia masih bisa lebih kuat dan berpikir pakai logika agar tidak disakitin berulang kali."

__ADS_1


"Tapi gue bingung dengan perasaan gue sekarang."


"Gue kan uda bilang dari dulu sama loe, perasaan loe sama Fanny tuh hanya sekedar rasa empati yang besar karena melihat ia selalu disakitin. Tapi loe gak percaya, loe selalu nganggap itu cinta" Jelas Rudi mengingatkan saat masa mereka masih single.


"Jadi gue harus gimana? Gue takut gak bisa adil dengan perasan gue sendiri."


"Kan uda gue bilang jangan main dengan perasaan, loe cukup ingat kewajiban loe untuk menyayangi dan bertanggung jawab atas kehidupan kedua istri loe terutama memberikan mereka kebahagiaan. Udah cukup, Masalah perasaan hanya loe yang tahu jangan sampai mereka tahu, karena gue yakin bakal ada yang tersakitin dan pergi saat loe tidak bisa mengendalikan perasaan loe, cukup dengan akal pikiran loe agar semua tetap baik - baik saja."


Abi tampak memikirkan semua yang dikatakan Wira, terlihat mudah tapi jika saat Fanny kembali apakah ia bisa mengendalikan semuanya? Abi juga baru menyadari dari awal bertemu Zia dia sudah tertarik dan ingin mengenal Zia lebih lagi serta selalu ingin tahu semua tentangnya, berbeda saat waktu ia awal bertemu dengan Fanny dahulu yang berawal dari rasa kasihan atau iba di hati abi.


"Gue akan coba seperti yang loe bilang, gue juga gak mau mereka tersakitin. Gue juga gak tega menyakitin Fanny yang sudah sering disakitin tapi dengan Zia... gue yang gak mau hati gue disakitin saat Zia memilih pergi. Gue tahu gimana sifat Zia dan gue gak mau di pergi dari hidup gue."


"Udah jangan banyak dipikirin jalanin aja yang ada,,, toh sekarang juga Fanny gak mau loe ganggukan? Tapi loe harus siapkan hati dan akal loe saat ia kembali."


Abi membalas perkataan Wira dengan sebuah anggukan. Akhirnya curhatan Abi berubah dengan guyonan yang saling memojokkan diri mereka masing - masing. Begitulah laki - laki saat berkumpul tidak akan ada filter di lidahnya semua lepas untuk diucapkan.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikum salam, abang dari mana aja? Adek antar bekal abang kekantor tapi abang gak ada. Handphone abangpun tidak aktif." Zia memasang wajah yang ia coba disangar - sangarkan walau nyatanya Zia tidak bisa marah lama yang ada rasa khawatir dengan keadaan suaminya.


"Maaf, handphone abang lawbat, abang tadi ada kumpul sebentar dengan Wira dan Rudi." Abi merasa bersalah lupa menghubungi istrinya, ia juga lupa sudah mematikan handphonennya takut urusan kantor memanggilnya untuk kembali.


"Lain kali tuh ngomong, bilang jadi adek gak kepikiran." Kesal Zia sambil mensidekap tangan di dadanya dan bibirnya mengerucut kesal.

__ADS_1


"Oh,, Jadi sekarang udah ada yang khawatir nih? Uda ada yang gelisah ditinggal pergi nih?" Abi mencoba menggoda Zia dengan jari telunjuk menoel - noel pipi Zia." Kayaknya ada bibirnya yang mau minta dicium nih, ngegemesin banget manyunnya." Abi tersenyum dan menaik turunkan sebelah alisnya.


"Au ah gelap, abang mandi sana..." Zia mengendus - ngendus tubuh Abi dan memicingkan matanya" Abang ngerokok kan? Ngaku." Zia menajamkan matanya ke Abi meminta penjelasan, bagai pendakwa yang mengehakimin terdakwanya.


"Namanya kumpul bareng teman dek, coba sebatang aja kan gak apa, menghargai teman." Abi membela dirinya,


"Ya udah lain kali kalau temen suruh nyebur ke got, nyebur aja kan menghargai teman."


"Bau dong, nanti adek gak mau dekat sama abang."


"Ini juga abang bau rokok dan adek gak mau deket abang sampai baunya hilang... Mandi sana..." Zia menarik lengan Abi agar segera melangkah menuju kamar mereka.


"Mau dimandii.." Rengek Abi..


" Gak mau,,abang bau rokok."


"Ya udah abang mandi dulu biar adek mau dekat abang lagi." Abi dengan langkah cepat menuju kekamar mereka tidak lupa mencuri ciuman dipipi Zia.


Abi menarik napas lega Zia tidak tahu akan kegelisahan yang melanda hatinya.


"Abang bisa terlihat tersenyum tapi mata abang gak bisa bohong kalau abang sedang memendam sesuatu,,,," Ya Zia tahu Abi lagi banyak pikiran tapi ia bukan tipe pemaksa yang harus tahu langsung, ia akan menunggu Abi bicara kalau memang Abi mempercayakan itu ke Zia..


"Rumah semewah ini mencari sedikit kebahagiaan saja sulit, terlalu banyak drama kehidupan..." Zia melangkahkan kakinya ke dapur melanjutkan membuat kue untuk dimakan anak - anak nantinya....

__ADS_1


#Abi diingatkan lagi..harus adil ya#


#bantu like,comment and vote dears#


__ADS_2