
Happy reading
🍇🍇🍇
"Abang pergi kerja dulu ya dek, nanti jangan antar bekalnya. Abang ada pertemuan diluar sekalian makan siang."
"Iya bang. Hati - hati dijalan, ingat selalu baca bismillah saat memulai sesuatu."
"Pasti sayang.." Zia menyalim Abi dan Abi mencium kening Zia, tapi bibir Abi yang tidak bisa dikondisikan hendak beralih ke Bibir Zia yang tampak seperti buah segar yang baru dipetik.
"Ehm... Kalau mau yang lebih itu dikamar jangan diruang tamu, Gak malu apa kalau ke grep orang?"
"Huh, ke grep juga gak apa ma, udah halal juga, gak mungkin dinikahin lagikan?" Abi lupa tengah malam tadi terjadi keributan saat Rani dan Faiz tiba - tiba pulang ke rumah yang biasanya mereka akan berlama - lama berada di luar negeri.
Ditanya kenapa pulang cepat? Malah dijawab kami hanya berbulan madu sebentar lalu beristirahat karena badan sudah pada pegal semua. Emang kamu yang tidak pernah berbulan madu dengan Zia.
Mamanya benar - benar menguji Abi, Ia juga sering berbulan madu, tapi tidak jauh - jauh hanya dikamar saja.
"Abang." Zia kesal melihat Abi, ia sebenarnya sangat tidak suka terlihat bermesraan diluar tapi Abi terkadang suka tidak tahu kondisi waktu dan tempat selalu nyosor tanpa permisi.
Abi yang ditegur hanya tersenyum tanpa dosa, wajarkan istri sendiri halal dicicipin dimanapun, buat nambah semangat sebelum kerja. Itu yang selalu dipikiran Abi.
"Tuan."
"Tumben kamu kesini Teguh?"
Abi sekarang sudah berada dikantor setelah mendapat tatapan tajam istrinya, ia tidak bisa kalau sampai tidak mengadonin favoritenya nanti malam karena pabrik ditutup.
"Saya hanya mau menyampaikan, saya dapat kabar dari teman yang sekantor dengan Nyonya Fanny disana bahwa ia akan diangkat jadi manager secara resmi kurang lebjh seminggu ini dan dalam waktu sebulan Nyonya akan kembali kesini untuk mengisi kekosongan manager dikantornya yang lama."
Abi terdiam, untuk itukah Fanny menghubunginya tadi malam?
"Baiklah, terima kasih infonya."
__ADS_1
Abi mencoba menghubungi Fanny, ia berharap telponnya kali ini diangkat Fanny.
"Halo mas."
"Gimana kabarmu disana sayang? Apa semua baik - baik saja."
Hati Abi terasa nyeri saat mengatakan sayang ke Fanny, ntah kenapa ia jadi merasa telah menjadi seorang pengkhianat, Ia seperti telah mengkhianati dua hati. bukankah keduanya istri Abi? Kenapa jadi seperti ini?.
"Baik mas, Mas apakah kau tidak merindukanku?"
"Mas merindukanmu sangat." Suara Abi tercekat menahan gemuruh di dadanya.
Abi meneteskan air matanya, ia memang sangat merindukan Fanny, ia tidak berbohong akan hal itu, bagaimanapun selama ini Fanny yang ada bersamanya. Fanny adalah wanita yang pertama kali bisa dekat dengannya. Fanny adalah wanita yang selalu ingin ia jaga setiap waktu.
"Maukah mas datang kemari? Aku diterima jadi manager resmi sekarang dan apakah mas tahu? Aku akan kembali mas, aku bakal diletakin di kantor lamaku kembali." Jelas Fanny dengan hati yang bahagia seakan ia sudah melupakan apa yang terjadi tadi malam.
"... Ya mas bahagia. Mas akan datang nanti." Kali ini Abi mungkin berbohong dengan kata bahagia, yang ada Abi takut saat Fanny kembali ia tidak bisa berlaku adil. Bisakah Abi saat bersama kedua istrinya nanti hanya berlaku dengan akal tidak dengan hati?
"Makasih mas, Minggu depan hari sabtu tujuh hari lagi, Aku tunggu mas datang. Aku juga sangat merindukan mas dan tidak sabar untuk bertemu,.."
"Iy mas,, love you.." Abi tampak terdiam sesaat "Mas.."
"Love you too." Abi tidak mengerti,.lidahnya terasa keluh menjawab ungkapan cinta dari Fanny, sambungan telpon itu berakhir sudah..
Membawa sisa - sisa hati yang tersiksa dengan sebuah yang bernama perasaan yang membelenggu.
"Aku sangat merindukanmu, tapi kenapa rasa ini semakin hambar?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Fanny berjalan di koridor sebuah rumah sakit..
"
__ADS_1
Tok..tokk
"Masuk.." Jawab seseorang yang didalam.
"Hei, Mas Radit.." Di atas meja kerja itu terlihat sebuah papan nama yang bertulir Radit Mahendra.
"Cepat juga kamu datang, biasanya lelet dari jam konsultasi" Radit adalah dokter specialis yang menggantikan Dena selama Fanny di kota lain. Bersama Radit Fanny banyak belajar sabar dan menahan emosinya. Berbeda denhan bersama Dena, ia hanya banyak mengiyakan tanpa mau melakukan. Tapu dengan Radit ia bisa menurut hingga sekarang ia hampir sembuh berkat Radit.
"Aku bahagia pagi ini." Fanny mengambil posisi duduk di kurs depan Radit yang terpisah dengan meja kerja.
"Apa yang akan kamu cerita kan hari ini?"
Fanny tanpa segan menceritakan kejadian tadi malam sampai tadi pagi...
"Kamu tahu penyakit DID terkadang bisa melupakan suatu kejadian yang tidak disukainya? Mungkin itu terjadi pada dirimu yang lain hingga kamu melupakan kalau suamimu sudah menikah lagi."
"Jadi saya harus gimana? Saya tidak mau berbagi Dit."
"Itu pilihanmu dulu Fanny, berusahalah menerimanya, berlapanglah itu akan lebih menenangkan dari pada tidak menerima keadaan yang terjadi."
"Apakah aku bisa?"
"Aku yakin kamu bisa, aku akan selalu membantumu." Radit berusaha meyakinkan Fanny.
"Bagaimana jika suatu hari sifat itu kembali?"
"Dirimu yang bisa memilih nanti, membiarkan ia datang kembali atau menekannya agar terus terkubur jauh."
Fanny tampak berpikir apakah ia sanggup nanti? Tapi ia harus berusaha dan mencobanya, bagaimanapun semua terjadi karenanya.
Walau di hatinya terdalam ia belum bisa melepas sebagian cinta Abi untuk yang lain. Tapi bukankah tidak ada kata ikhlas yang benar - benar ikhlas ?
"Sudah jangan banyak dipikirkan, ayo kita mulai terapinya lagi..."
__ADS_1
#Abi, bersiap tata hatimu ya agar bisa adill.. tidak lama lagi#
#Bantu like comment and vote dears#