Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Menyambut esok


__ADS_3

Happy reading


Malaikat selalu silih berganti saat hari mulai berganti, selalu malaikat berbeda yang datang dan pergi setiap harinya. Begitu juga dengan semua yang terjadi didunia, tidak akan ada yang bisa meminta mendapatkan hal yang sama seperti hari sebelumnya, selalu kejadian berbeda yang harus siap untuk dihadapin setiap waktu apapun itu.


Zia melihat suaminya masih tertidur pulas setelah mandi besar dan sholat subuh tadi. Hari minggu sudah menyapa, dimana Zia harus menyambut esok hari dengan semangat.


Esok Fanny kembali dan esok juga Saf,Aif dan Icha sudah mulai sekolah. Banyak yang harus Zia persiapkan hari ini agar esok ia tidak dikejar dengan kata kewalahan atau kelupaan.


"Bismillah..." Zia dengan ringan menapakkan kaki secara berganti menuju rumah keduanya terlebih dahulu yaitu dapur.


"Mama uda bangun?" Zia melihat Rani sedang duduk sendiri di meja pantry.


"Iya,habis subuh gak bisa tidur lagi mama. Besok Fanny balik yah Zia?"


"Iya ma, besok mba Fanny udah balik."


"Kenapa mama kayak banyak pikiran gitu ma?" Zia sedikit aneh lihat Rani yang seperti sedang merenung dengan pandangan kosong.


"Kamu tahu aja, duduk sini temenin mama bentar." Zia melangkahkan kakinya dan duduk.disebelah Rani.


"Apa mama masih berat dengan keberadaan mba Fanny?" Tanya Zia selidik.


"Berat sih enggak, hanya saat Fanny ada, rumah terlihat seperti memiliki sekat yang tidak kasat mata, mama takut saat dia kembali rumah ini tidak seramai dan sebahagia kemarin." Jawab Rani dengan helaan napas dan menyeruput teh hangat digenggamannya.


"Mama mungkin ikhlas nerima mba Fanny tapi mama belum lapang menerima sikap mba Fanny. Wajar sih kadang ada perselisihan antara menantu dan mertua apalagi jika berbeda cara menjalanin sesuatu, apalagi jika itu menyangkut anaknya. Tapi gimanapun mama harus bisa nerima itulah mba Fanny, mungkin masa lalu membuat ia masih tidak nyaman dengan keadaan. Jadi bagaimana kita memberikan rasa nyaman itu agar merasakannya."

__ADS_1


"Abi sudah cerita semua ke kamu?"


"Sudah ma..." Jawab Zia sambil menganggukkan kepalanya.


"Apa Zia yakin Fanny bisa sembuh?"


"Kalau itu Zia gak bisa pastii ma, hanya mba Fanny sendiri obat untuk dirinya Kalau dia tidak bisa berdamai dengan masa lalunya sulit untuk ia bisa lepas dengan tekanan yang ia buat sendiri."


"Kadang mama merasa Fanny menganggap mama seperti musuhnya hingga ia terus menjaga jarak dan memberontak."


"Mba Fanny hanya ingin melindungi dirinya ma, coba kita kalau ada diposisi mba Fanny, mungkin tidak sekuat itu juga ma. Cobalah terima mba Fanny dengan dirinya sekarang ma, semoga ada waktu ia sadar dan berubah jadi lebih baik."


"Kamu gak cemburukan kalau Fanny kembali?"


"Mama salut dengan jalan pemikiranmu Zia."


"Karena mas Farhan pernah bilang ke Zia ma, jalanin semuanya dengan menerima semua yang terjadi inshaallah lebih ringan dari pada dengan hati yang ikhlas tapi berat menerima."


"Kamu masih cinta sama Farhan ya?"


"Cinta itu masih Zia simpan ma karena setiap cinta mempunyai rasa yang berbeda, Mas Farhan dan bang Abi tidak sama, jadi Zia tidak mau membandingkan kedua cinta, keduanya ada porsi dan caranya tersendiri dalam mencintai dan dicintai."


"Pagi - pagi uda gosip aja."


"Papa udah bangun? Kok bisa gendong Icha?" Zia terlihat tidak enak karena tidak tahu Icha sudah bangun dan ia tidak tahu.

__ADS_1


"Icha tadi malam tidur sama kami, sibuk cerita besok mau sekolah."


"Bun,bechok Icha chekulah kan?"


"Iya sayang.. Ya udah maka siapin sarapan dulu sebelum semuanya bangun dan nagih perut minta diisi."


Zia akhirnya beranjak kedapur menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Semua sudah selesai dikepak. Apa aku bawa oleh - oleh ya pulang? Sepertinya harus bawa, terutama untuk mama. Aku yakin kali ini maka akan bangga karena tidak akan malu punya menantu yang biasa aja. Aku sekarang sudah kaya, tinggal mengurus semua nanti sama pengacara maka perusahaan papa akan jatuh ketanganku."


Fanny bersenandung bahagia, semua sekarang sudah ia miliki, jabatan, kekayaan, kehormatan serta keluarga. Semua sudah sempurna jadi tidak ada lagi yang harus ia kejar kembali.


"Kalau perlu mas Abi bisa kerja diperusahaanku saja nantinya, tidak perlu kerja dengan orang lain lagi." Ucap Fanny dengan bangganya sambil membayangkan bagaimana sempurnanya hidupnya nanti.


"Zia maaf ya, kalau nanti kamu tarasingkan karena kelemahanmu sendiri yang tidak mau berubah menjadi lebih baik dan sempurna, bukankah lelaki suka melihat wanita sempurna agar ia tidak malu memperkenalkan ke orang - orang? Seperti papaku yang malu menikahi mamaku dan lebih memilih wanita ****** yang bertitle tinggi itu yang menurutnya lebih sempurna."


Mata Fanny berubah dengan tatapan kebencian memgingat masa lalunya, bagaimna Fanny bisa melupakan masa lalu disaat ingin tapi yang mengingatkan selalu ada disekitar.


"Apakah sekarang papa sudah mati? Kuharap papa sudah mati membusuk, sebusuk hati papa yang mengkhianatin mama. Ma, Fanny akan jenguk mama sepulang dari sini nanti."


#Fanny gmana mau sembuh total kalau kebencian tetap ada?#


#Bantu like,comment and vote dears#

__ADS_1


__ADS_2