
happy reading
🍇🍇🍇
"Zia..."
"Ya ma..."
"Apakah Abi tidak kabarin kamu dia sedang dimana?"
"Tidak ma, Zia juga khawatir dengan mba Fanny, sebenarnya ada apa dengan dia?"
"Mama juga gak ngerti, terlihat dari dulu banyak yang Abi sembunyikan dari mama, tapi tidak sedikitpun ia mau berbagi dengan mama."
"Husnuzon aja ma, mungkin bang Abi berpikir itu aib keluarganya yang tidak ingin dia umbar, dan bang Abi masih merasa sanggup menghadapinya, bukan bang Abi tidak percaya dengan mamanya malah kalau gini Zia mikir bang Abi nutupin semua karena dia percaya kalau mama percaya dengan semua yang dilakukan bang Abi untuk kebaikan...
Memang kadang pikiran kita cepat sekali berpikir negatif tanpa mau menelaah dimana penyebabnya karena sejatinya manusia melakukan kesalahan disebabkan oleh sesuatu." Jelas Zia
"Mama selalu percaya dengan Abi, tapi setiap melihat matanya itu, sepertinya penyakit tidak bisa tidur sebelum tengah malam lewat kambuh lagi."
"Maksud mama insomnia gitu, perasaan kemarin Zia lihat abang tidur."
"Apa kamu yakin? Apakah keningnya berkerut?"
"Iya, Zia lihat abang tertidur dengan kening berkerut kayak banyak pikiran."
"Itu dia tidak tidur Zia, tapi berusaha tidur dengan memejamkan matanya."
"Astaghfirullah, jadi itu gak tidur?" Zia terkejut dan seketika wajahnya merona malu teringat ia berbicara sendiri saat ia mengira Abi tertidur.
"Apakah berarti bang Abi mendengar semua yang aku katakan? Aku jadi merasa bersalah dengannya."
"Kok malah jadi melamun? Kenapa wajah kamu jadi memerah gitu?"
"Ah.. Gak kenapa-napa ma... Hanya terkejut aja dikira abang itu sudah tertidur."
"Mama berharap ia bisa lepas dari bebannya dan merasakan kenyamanan kembali..."
Zia hanya diam, apakah bisa ia membuat Abi nyaman? Zia gak habis pikir kekayaan sebanyak ini menyimpan banyak kesedihan...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dimana dia?"
"Dikamar tuan, tadi juga uda di periksa dokter bagian saraf."
"Lalu apa katanya?"
"Bapak itu harus diberi beberapa obat dan melakukan terapi agar bisa kembali normal, karena struknya masih tergolong ringan masih bisa disembuhkan.."
__ADS_1
"Apa dia bisa diajak bicara?"
"Masih kesusahan Tuan, bibirnya miring gitu dan tubuhnya agak kaku, kata dokter itu karena dia jarang bergerak"
"Pastikan dokter itu melakukan terapi disini, jangan bawa ia keluar lalu kalau bisa dimulai dengan agar dia bisa secepatnya bicara."
"Baik tuan"
"Ayo kita kekamarnya sekarang."
Abi melihat seorang paruh baya yang kondisinya sangat memprihatikan. Apakah keluarganya tidak mencarinya..?
"Apakah dia merespon kalau kita ajak bicara?"
"Bisa tuan."
"Om,,, saya Abi, Saya tidak tahu om siapa tapi om jangan khawatir disini aman dan saya akan melakukan pengobatan untuk om."
Seketika Wajah paruh baya itu terlihat terkejut dan berubah sendu. Abi tidak tahu apa yang ada dipikirannya.
"Om, saya harap om bisa segera sembuh karena saya sangat butuh bantuan om untuk kesembuhan istri saya..Apakah om mengenal istri saya...? Dia bernama Fanny."
Lelaki paruh baya itu menangis tiba- tiba dan menangguk secara berlahan.
"Om maukan bantu saya?" Iapun mengangguk lagi menjawab pertanyaan Abi dengan air mata tetap mengalir dipipinya yang sudah dipenuhi keriput.
"Makasih om..Om nanti disini akan di temanin seseorang yang juga menjaga om. Kalau ada waktu saya juga akan kesini lihat keadaan om. Saya permisi pulang dulu ya om."
"Fanny bagaimana kamu disana? Maaf aku meninggalkanmu tadi, semoga Dena bisa menenangkanmu hingga kita bisa bicara baik-baik..."
Hari sudah larut malam, Abi melajukan mobilnya dengan hati - hati karena tubuhnya sangat lelah dan pikirannya juga tidak bersahabat.
Banyaknya pikiran yang datang silih berganti menemanin perjalanan Abi hingga tanpa sadar ia sudah sampai dirumahnya.
Abi membuka pintu rumahnya, terlihat disana ruang keluarga yang masih terang,
"Siapa yang belum tidur di jam selarut malam ini?" Abi melihat jam ditangannya yang beberapa menit lagi mengarah ke jam dua belas.
Abi terus melangkahkan kakinya..
"Zia.." Abi melihat Zia tertidur di sofa santai ruang tv.
Abi mendekatin Zia secara berlahan, Abi berjongkok menghadap wajah Zia, ia pandang wajah polos istrinya saat tertidur.
"Melihatmu tidur sungguh banyak kedamaian dan ketenangan disana yang sudah lama tidak aku rasakan." Ucap Abi lirih, ia mengelus rambut Zia yang ada dibalik hijabnya.
"Aku gakkan biarkan itu hilang, maaf aku sudah membawamu masuk kedalam masalah." Ucap Abi senduh, Abi membawa bibirnya mendekati kening Zia, ia sentuh kening itu dengam bibirnya, seakan disana ada sebuah keteduhan yang membuat bibir Abi betah berlama disana.
Zia yang merasakan sedikit kelembapan di keninganya mengerjapkan matanya, mengumpulkan seluruh kesadaran yang tadi pergi berhamburan.
__ADS_1
"Abang..." Abi terkejut Zia terbangun saat ia sedang menikmatin ciuman dikening Zia dengan segera Abi melepas ciumannya.
"Abang uda pulang? Kok gak bangunin Zia? malah curi-curi cium kayak maling." Sungut Zia kesal karena Abi suka mencuri cium darinya.
"Maaf, abang lihat adek tidurnya nyenyak sekali, gak tega banguninnya."
"Karena abang udah pulang, ayo kita tidur." Zia beranjak dari sofa yang nyaman itu,menarik Abi agar ikut bersamanya.
"Adek gak mau tanya gitu abang dari mana?" Abi sudah biasa ditarik Zia juga ikut melangkahkan kaki kemana Zia melangkah.
"Masih ada hari esok untuk bercerita, pikiran juga butuh istirahat dan sekarang waktunya tidur."
Zia mengajak Abi ke kamarnya, Abi segera membersihkan diri dan memakai pakaian tidur yang sudah disediai Zia.
"Adek kok belum tidur?"
Abi melihat Zia yang masih setia duduk ditengan kasus king sizenya.
"Abang sini.." Zia memanggil Abi dengan lambaian tangan, Abipun menurut mendekatin Zia dan duduk bersebelahan dengan Zia.
Tanpa permisi, Zia menarik kepala Abi hingga tertidur di atas pahanya. Ia hadapkan kepala Abi ke bagian perutnya dan menaruh tangan Abi seperti sedang memeluknya. Abi hanya menurut apa yang dilakukan Zia kepadanya karena ia juga senang diperlakukan seperti itu.
Saat Zia sudah merasakan nyaman dengan posisinya, tangan kiri Zia mengelus rambut Abi dengan berlahan dan tangan satunya lagi mengelus punggung Abi,
"Tidurlah bang, pinggirkan dulu semua yang ada di pikiran abang, biar ketenangan datang dan abang bisa tertidur.."
"Adek.."
"Udah, jangan bicara lagi... pejamkan mata abang sekarang." Zia terus melakukan kegiatannya seperti sedang menidurkan anak kecil.
Abi yang merasakan elusan Zia ditambah aroma manis yang menyebar dari tubuh Zia yang didekat hidungnya, ntah karena kelelahan atau Abi merasakan buaian kenyamanan dari elusan Zia...tidak perlu waktu yang lama Abi sudah terlelap.
Zia yang merasakan sudah tidak ada pergerakan dari Abi dan hembusan napas Abi yang beraturan menyentuh kulit perutnya yang ada dibalik pakaian, melihat wajah Abi secara berlahan.
"Sudah tidur..." Zia memindahkan pelan-pelan kepala Abi ke bantal disebelahnya.
"Ini baru wajah yang benar saat tidur, tidak ada pikiran didalamnya..
"Tidurlah bang, masalah tidak akan pernah berhenti sebelum kematian menanti...
Tapi kita juga butuh jeda mengistirahatkan segalanya agar esok bisa kita hadapin dengan pikiran yang sudah tenang..
Selamat tidur abang.."
Zia yang sudah lelah mengikutin Abi yang sudah berlayar ke alam mimpinya..
"Hiks..Bantu aku Dena...""
#Semoga masalah yang datang tidak terlalu berat#
__ADS_1
#Bantu like,comment and vote dears#