
Sudah empat hari Zia melewati hari tanpa Farhan. Zia sudah mulai menguatkan hati walau kadang air mata menetes tanpa permisi disaat bayang - bayang Farhan silih berganti menyapa di setiap ruang.
"Ma, mama uda buka orderan kue lagi?" Saf mulai bertanya ke Zia
"Sudah nak, kenapa?" Tumben anaknya nanyai jualan mamanya.
"Iya temen Saf, Mamanya pada nanyak mau order." Jawab Saf duduk dilantai sambil mengikat tali sepatunya diujung pintu.
"Aif juga uda kangen sama kue mama. Apalagi bakpaonya."
"Ya udah ntar mama buat bakpao untuk Aif. Saf bilang aja ke temen kalau mama uda buka orderan."
"Siap mama"
"Ya udah yuk berangkat." Ajak Zia ..
Sebenarnya Zia bingung belakangan ini dia merasa ada yang mengintip atau mengikuti kemana Zia pergi tapi saat dilirik kebelakang tidak ada siapapun.
Zia menutup pintunya disaat ternyata Bu camat dan yang lain sedang belanja sayuran.
"Assalamualaikum ibu - ibu " Sapa Zia, anak - anaknyapun tidak lupa salim kepada empat emak paruh baya yang masih sibuk memilah sayuran yang dibeli.
"Waalaikumsalam" Jawab mereka serentak.
"Uda pada rapi mau berangkat sekolah ya?" Tanya Bu dimas
"Iya Nek mau sekolah ini menuntut ilmu tiada jenuh." jawab Aif sambil terkikik.
Ibu-ibu yang lain juga ikut tertawa lihat jawaban Aif. Akhirnya candaan mereka terdengar lagi, Aif ya gitu suka becanda tapi gak bisa dibecandai langsung nangis.
"Ya udah hati-hati dijalan ya." Bu Camatpun ikut bicara.
"Assalamualaikun nenek - nenek kece." Sapa Saf
"Waalaikumsalam gadis-gadis cantik yang satu uda gak gadis lagi." Semuanyapun tertawa lagi saat gurauan terdengar dari bu Karti.
__ADS_1
Zia dan anak -anakpun pergi menggunakan motor peninggalan suaminya. Masih syukur motor Farhan kemarin ditinggal dikantornya jadi Zia masih ada kendaraan yang kemarin sore baru diantar sama teman Farhan dikantor dulu.
"Bu Camat, sadar gak sih kalau mobil seberang sana selalu ada disitu?" Jiwa kepo bu karti mulai keluar.
"Lah iya bener Bu, kadang ku lihat pagi,sore atau siang gitu selalu ada." Bu Dimas juga ikut nambahin garemnya biar asin.
"Bener juga ya, ku kira saudara-saudara komplek sini." Jawab Bu camat
"Saudara dari mana? mobilnya aja bukan mobil sejuta umat kayak kita, emang disini ada gitu punya saudara yang sultan?" Imbuh Bu Cici nambahin gulanya biar manis.
Mereka yang sudah selesai belanjapun berinisiatif mendekat ke mobil itu.
" Tok..tok.." Suara pintu mobil diketuk sama bu karti yang tingkat kepo bak detektif sudah terkenal seantreo komplek.
Seseorang yang didalam mobil pun tersentak, terkejut bakal didatangi ibu-ibh komplek itu.
"Maaf bu ada apa ya?" Tanyanya
"Ngapai kamu disini? Seharusnya kami yang tanya kamu ada apa disini setiap hari" Bu Camat yang mengenal wajahnya langsung to the point.
"Selingkuhannya kali." Kompor bu Cici memanas
"Eh, enak aja." Sahut bu camat sambil memukul pundak bu cici. tidak sakit tapi terkejut juga dipukul gitu.
"Maaf bu, saya Abi Zidan." Abi mulai pening melihat kehebohan ibu - ibu didepannya.
"Ngapai kamu kesini?!" Bu camat sudah mulai garang mencoba mengeluarkan tanduknya jika lelaki didepannya ini punya niat gak baik. Ibu-ibu disana hanya bingung melihat bu camat marah.
" Saya hanya mau lihat kondisi Zia dan anaknya bu. Saya masih merasa bersalah setelah kecelakaan itu belum meminta maaf secara benar tapi mau menemuinya saya belum berani secara langsung."
Saat Abi mengatakan itu pukulan bertubi - tubi menghantam tubuhnya, ada dari pukulan sandal bu dimas yang terlihat ditelapaknya bekas keinjak taik ayam, pukulan sayuran dari bu cici hingga daunnya rontok dijalanan, ada juga cubitan maut dari bu karti. Sungguh malang nasib Farhan kena amuk ibu - ibu.
" Eh, udah - udah. kok jadi main hakim sendiri." Lerai Bu camat.
"Habis saya jadi kesel lihatnya." Sungut bu dimas yang sangat beruntung telapak sandal jadi bersih seketika tiada lagi yang menempel disana.
__ADS_1
" Iya saya juga gerem banget jadi pengen saya picek - picek." Sahut Bu cici sambil memeras batang sayur yang daunnya sudah entah kemana, belum dimasak sudah jadi korban kesadisan.
"Lah ganteng gini kok tega nabrak orang sampek isdet, mau tak cubitin sampai gugur tuh gantengnya." Tambah bu karti
"Ehm.,, kalau kamu mau minta maaf datang aja sore nanti. tadi kami lihat mereka sudah bisa bercanda kayak dulu. tapi awas kalau macam-macam." Bu Camat sudah siap pasang benteng pertahanan.
"Baik bu makasih. Kalau gitu saya permisi pulang dulu. Nani sore saya kemari lagi. Assalamualaikum."
Abipun langsung masuk mobil dan hendak mau pergi tapi kehalang sama ibu - ibu yang masih ngeggosip didekat mobilnya.
"Yah gak jadi masak sayur aku." Keluh bu cici.
"Lah bu dimas juga mukul pakek sayur, kayak aku pakek sandal ada taik lincungnya biar bau tuh baju." ketawa kejam keluar dari mulut bu dimas.
"Iya,kirai ganteng ganteng bisa jadi kata pepatah." Sahut bu Karti.
"Pepatah apa?" Tanya Bu camat
"Iya, mati satu tumbuh seribu.. Mana tahu bisa jadi jodoh Zia, dari kemarinkan uda banyak yang antri tuh siap nunggu Zia habis masa iddah tapi Zia no responding." Kata bu karti yang bahasa inggrisnya bisa dihitung dulu.
"Tau ah.. bubar gerak." Suruh Bu camat. semuanyapun akhirnya bubar kerumah masing - masing.
Abipun mulai menghidupkan mobilnya dan segera pergi dari komplek itu...
" Bau apa ini..." Abi mengendus - endus bau menyengat yang mulai terasa ditubuhnya yang akhirnya terlihat dibagian pundak Abi bertengger seteplek taik ayam yang tertempel manja menyebarkan aroma syhadunya tanpa merasa bersalah.
Abipun dengan segera membuka bajunya dan melemparkannya ke bagian belakang.
"Ahh!!! Ganas kali mereka ,,," Kayaknya Abi jadi mulai ada trauma sama ibu - ibu komplek itu.
#kasian banget Abi dikeroyok#
#abizia#
#like,vote and comment yess#
__ADS_1