Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Bertemu seseorang masa lalu


__ADS_3

Happy reading


🍇🍇🍇


Abi menggerutu pagi hari ini, membuat Zia bingung lagi ada apa dengan suaminya padahal dari kemarin senyum - senyum sendiri, ini wajahnya sangat tidak enak dipandang.


"Abang kenapa sih?"


"Kok abang gak rela ya hari cepat berlalu, udah aja hari minggu dan harus balik kerumah, mana besok kerja lagi gak mau jauh - jauh dari kamu sayang." Sejak kapan suaminya jadi kayak anak kecil yang suka merengek?


"Hah... Abang ngapain juga kita lama - lama disini. Gak kasian apa sama Icha ditinggal lama? Lagian tiap malam juga kita tidur bareng" Zia masih melirik Abi yang enggan ingin kembali..


"Tapi dirumah gak bisa berduaan terus loh dek.."


"Emang mau ngapain berduaan terus,, gerah dan sumpek di lendotin terus abang."


"Adek gak mau gitu dekat terus sama abang gitu iya kan? ngaku aja adek belum sayang sama abangkan?." Loh kok makin jadi ngambek gini sih Abi.membuat Zia bingung tujuh benua, tujuh langit dan tujuh turunan.


"Ya Allah,,, Abang jangan berlebihan deh,, gak baik,, jeda dikit agak jauhan biar ntar waktu dikamar makin kangen." Zia merayu Abi agar berhenti merengek.


"Ah,, adek bener..Ayo kita jemput Saf dan Aif sekarang.."


Nah kan,, Dibilang biar makin - makin baru berhenti merengeknya..Zia benar- benar harus ekstra sekarang menghadapi suaminya yang kelihatannya sudah bucin akut.


Zia mengedarkan pandangan matanya mencari dimana anak - anak berada.


"Dek, abang kesana dulu ya beli minum dan cemilan."


"Iya bang."


"Adek jangan jauh - jauh biar masih dari pandangan abang."


"Iya abang.. Udah beli dulu sana" Zia memasang senyum terlebarnya melihat Abi yang sangat posesive padanya padahal hatinya ingin mencubit - cubit Abi saking gemasnya.


Abi mengambil langkah cepat untuk membeli cemilan dan minuman, ia tidak mau meninggalkan Zia berlama - lama, Kalau istrinya dilirik orang gimana? Atau sampai diculik? Kan Abi jadi was - was sendiri.


"Zia.."


"Bang furqon? Apakabar bang?"

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, Zia gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah khair."


"Bisa kita bicara disana sebentar?" Zia sedikit ragu menerima tawaran Furqon tapi dia juga gak enak hati menolak Abang kelasnya dari sejak SMP yang selalu ada dan melindunginya."Sebentar saja." Pinta Furqon memohon.


"Baiklah bang.." Zia menyerah juga karena tidak enak hati menolaknya, lagian ini tempat yang ramai.


"Ada apa bang?" Mereka duduk berjauhan dikursi plastik yang disedia panitia acara


"Abang dengar kamu sudah menikah lagi ya?"


"Iya bang, Allah memberikan Jodoh buat Zia lagi." Zia tersenyum tipis ke arah Furqon.


"Abang malang sekali ya Zia? Kamu tahu gak dari SMP abang tertarik denganmu, abang pikir itu hanya sekedar cinta monyet anak kecil tapi nyatanya saat SMA abang makin tidak bisa menahan rasa itu..." Furqon terlihat tersenyum miris, Zia hanya diam dan mendengarkan semua yang ingin Furqon katakan.


"Dari situ abang selalu bertekad untuk menjagamu dari siapapun, termasuk dari lelaki yang selalu ingin mendekatimu, abang takut kamu didekatin mereka apalagi sampai disakitin..." Ya Zia tahu itu, Furqon selalu menjadi tameng keduanya selain bapaknya dab selalu ada saat Zia sedih dan membutuhkan tempat curhat. Bagi Zia Furqon adalah abang yang terbaik.


"Abang pernah mencoba dekat dengan perempuan yang menaruh hati ke abang, tapi nyatanya hanya Zia yang selalu abang inginkan, sampai saat abang tamat SMA abang ingin menjadi orang yang bisa dibanggakan untukmu, abang kuliah luar kota untuk menggapai mimpi agar bisa segera melamarmu dan memberikan kehidupan yang layak nantinya..." Wajah Furqon berubah sendu mengingat perjuangan yang ia kejar hingga tak kenal waktu berakhir sia - sia...


"Tapi saat abang kembali, abang mendengar kamu sudah menikah dengan hanya seseorang yang kamu tolong karena bannya bocor dan dengan berani langsung melamarmu tanpa ada acara saling mengenal...." Furqon makin tidak habis pikir ia yang sudah kenal Zia lama kalah dengan orang yang baru bertemu.


Zia juga ingat saat awal ia bertemu dengan Farhan, ban motor Farhan yang kempes dan didorong sendiri membuat Zia merasa kasihan sehingga Zia menolong Farhan untuk membawa ke bengkel dekat rumahnya, Disinilah Farhan, dengan berani meminta Zia kepada Rahmat tanpa ingin mengenal Zia lebih dalam berjanji membawa kedua orang tuanya.


Zia cukup terkejut dengan keberanian dan keseriusan Farhan, melihat CV Farhan Zia meyakinkan diri menerima Farhan, karena Zia yakin cinta yang tumbuh secara halal akan lebih indah dan berbuah manis.


"Disitu abang merutuki diri abang sendiri, kenapa abang tidak berani mengikatmu dahulu agar tidak ada yang bisa mendekatinmu, kenapa abang tidak menyatakan ingin serius denganmu terlebih dahulu agar tiada yang lain bisa mendahului ternyata semua sudah berlalu dan abang terlambat untuk menjadikanmu milik abang,.." Furqon terus menyesali sikapnya yang pengecut hingga kehilangan Zia.


"Abang juga pindah kesini ingin memastikan kamu baik - baik saja dan bahagia dengan pilihanmu. Melihat kamu bahagia abang juga bahagia walau abang belum bisa melupakanmu.." Sedalam itu kah Furqon mencintainya? Zia jadi merasa bersalah menganggap semua perhatian itu sekedar rasa Abang dan Adek saja.


"Saat mendengar suamimu meninggal, abang seperti mendapat harapan kembali untuk mendapatkanmu, ternyata langkah yang abang ambil kembali salah, abang berpikir akan melamarmu setelah masa iddahmu selesai tapi saat bertemu abah kemarin, ia mengatakan kamu sudah menikah lagi. Kenapa abang selalu terlambat untuk menggapaimu Zia?" Furqon menatap Zia dengan sendu...


"Bang maaf, Zia gak pernah tahu itu, terima kasih atas perasaan Abang ke Zia selama ini, tapi alangkah baiknya perasaan itu abang beri ke istri abang kelak, karena ia lebih berhak abang cintai dengan cinta yang halal. Mungkin ini jalan Allah untuk memberitahukan kalau kita memang tidak berjodoh."


"Iya, abang sudah sadar itu. Mungkin kita tidak berjodoh. Abang hanya ingin mengatakan semua yang abang pendam agar lega dan bisa membuka hati yang baru.."


"Kamu bahagiakan sekarang?"


"Inshaallah Zia bahagia, abang juga harus bahagia dan mencari tulang rusuk abang."

__ADS_1


"Iya, makasih sudah mendengarkan abang. Assalamualaikum.".


"Waalaikumsalam"


Furqon meninggal Zia sendiri sekarang, Zia menarik napasnya dalam yang merasa dari tadi terhimpit mendengar perasaan Furqon.


"Dek.."


"Eh abang uda balik?" Zia terkejut Abi sudah ada di Belakang Zia. Apa Abi tadi melihat dan mendengar saat Zia bersama Furqon tadi? Tapi melihat Abi datang dengan senyum pasti Abi tidak tahu, itu yang ada dipikiran Zia.


"Uda ini abang beli banyak cemulan dan minuman, Anak- anak uda ketemu?"


"Eh,,belum.." Zia menjadi kikuk karena dari tadi ia hanya berbicara dengan Furqon.


"Ayo kita cari bisa makan bersama."


Abi dan Zia melangkah pergi mencari anak mereka. Abi memasang wajah senyum tapi ia banyak terdiam, ntah apa yang sedang ia pikirkan sekarang..


Hingga mereka sampai kerumah Abi masih terlihat biasa saja tapi tidak banyak bicara..membuat Zia curiga suaminya menutupin sesuatu darinya..


Zia dan Abipun menuju kekamar mereka untuk beristirahat, Zia melihat suaminya sedang melamun di tepi tempat tidur..


Mungkinkah apa yang ada didalam pikiran Zia? Kalau benar semua harus segera diselesaikan..


Zia yang sudah selesai membersihkan diri naik ketempat tidur. Memeluk Abi dari belakang dan mengelus dada Abi.


"Tadi itu bang Furqon ,yang sudah adek anggap seperti abang adek sendiri bang.."


Abi memegang tangan Zia dan membalikkan tubuhnya menghadap Zia.


"Tidak salahkahmn abang merasa cemburu? Disaat banyak lelaki yang menginginkan adek? Sedangkan abang hanya menjadikan adek yang kedua? Adek gakkan meninggalkan abangkan?" Kali ini terlihat kesedihan dan keputusasaan dimata Abi. Baru saja Zia ditinggal sebentar sudah ada yang mendekatinya membuat Abi takut Zia berlalu pergi darinya.


Zia menggelengkan kepalanya pelan, memeluk tubuh Abi dengan erat. Menghirup aroma tubuh yang sudah menjadi ketenangan untuknya.


"Gak bang,, Zia gakkan meninggalkan abang, percaya sama Adek,, Saat abang sudah berani menyebut nama adek dalam perjanjian bersama Allah sejak saat itu nama abang sudah tertulis dihati adek dan tidak akan terganti.."


Abi membalas pelukan Zia dan memberikan kecupan bertubi di ubun - ubun Zia..


"Maafkan abang sayang, yang sudah mulai egois ingin memilikimu seorang diri dan tidak rela ada yang lain memikirkanmu dan memilikimu walau hanya sekedar dalam khayalan."

__ADS_1


#Bang abi jangan suka cemburu donk..#


#bantu like comment and vote dears#


__ADS_2