Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Dissociative identity disorder (DID)


__ADS_3

happy reading


🍇🍇🍇


Seluruh keluarga sedang berkumpul diruang tamu kecuali Abi yang masih menemanin Fanny dikamar bersama dokter pribadi mereka, tiada satu orangpun boleh masuk kesana.


Banyak pertanyaan di benak mereka kenpa Fanny bisa pingsan? Tapi tidak satu orangpun berani bersuara, semua hanya terdiam dengan pikiran masing - masing.


"Bagaimana keadaannya dok?"


"Sepertinya istri anda dalam keadaan tekanan yang sangat berat hingga saat emosi memuncak ia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi dan saat anda menamparnya tadi emosi yang memuncak diotaknya membuat ia kehilangan kesadaran"


"Saya boleh minta tolong dok? Jangan kasih tahu masalah ini pada siapapun dan tolong berikan obat bius ringan untuk Fanny, saya ingin membawanya ke tempat temannya yang ahli kejiwaan."


Dokter mengikutin perintah Abi, Seteah semua di rasa aman, Abi menggendong Fanny ala bridal style untuk membawanya ke tempat praktik Dena,


"Abi, gimana Fanny? Kalian mau kemana?" Guratan khawatir sangat tampak diwajah Rani, bagaimanapun Fanny ia tetap menyayangi Fanny sebagai menantunya.


"Semua disini dulu, Abi mau periksa Fanny sebentar. Jangan berpikir macam-macam, Fanny baik-baik saja."


Abi mengalihkan pandangannya ke Zia.


"Dek, istirahatlah,,,abang keluar bentar."


"Iya bang, hati - hati ya dijalan."


Abi tidak mau lama-lama di rumah dengan segera ia membawa Fanny kedalam mobilnya, mobilpun melaju meninggalkan rumah Abi menuju ke tempat Dena sekarang.


Sesekali Abi melirik ke kaca spion dimana Fanny ditidurkan dibangku tengah mobilnya, memastikan kondisi Fanny yang masih baik - baik saja.


"Maafkan aku yang harus melakukan ini, kamu harus segera diobatin, aku gakkan membiarkan ambisimu mengalahkan logikamu hingga kamu hilang arah.


Aku merasa gagal menjadi suamimu Fanny, aku tidak bisa membuatmu jadi lebih baik...Mungkin dengan cara ini kau akan kembali normal kembali...."

__ADS_1


Cukup tadi terakhir aku berlaku kasar padamu sayang...."


Hati Abi terasa di hantam bebatuan besar saat mengingat ia memukul Fanny, kenapa semuanya jadi seperti ini? Ia telah memukul orang yang ia sayangi, masih pantaskah ia menyayangi Fanny disaat ia sudah berani melukainya...


Di pinggir jalan terlihat Dena yang sudah menunggu Abi disana, ia bergerak cepat saat mengetahui kondisi Fanny sekarang. Dua perawar juga disana untuk membantu Dena membawa Fanny kedalam kamar yang sudah ia persiapkan.


Abi segera turun menghampiri Dena..


"Bagaimana?"


"Kita harus melakukan sesuatu kepada Fanny, gue ngerasain ada hal lain sama dia."


Para perawat membawa Fanny kedalam kamar khususnya, Abi dan Dena mengikutin dari belakang.


"Kenapa harus diikat? Kenapa kita meberlakukannya seperti layaknya orang gila?" Tanya Abi bingung saat Fanny sudah diletakkan di tempat tidur yang hanya cukup untuk satu orang dengan kaki dan tangannya diikat disetiap ujung tempat tidur.


"Ayo keruangan gue, biar gue jelasin disana."


"Jelaskan sekarang." Pinta Abi yang sudah duduk di sofa Dena dengan merebahkan punggungnya disandaran untuk sekedar menghilangkan penat dan lelat dipikirannya.


"Gue ngerasa Fanny terkena Dissociative identity disorder atau bisa disebut DID."


"Apa itu?"


"Itu penyakit kejiiwaan seseorang yang bisa memiliki dua kepribadian atau lebih, tapi sifat yang bersama Fanny tidak ada satupun yang mendukung kebaikan untuknya,


"Sifat pertama memiliki defence atau pertahanan untuk menghindari setiap masalah. Ini kemungkinan sifat dia yang asli, karena seperti kita tahu dari dulu, Fanny lebih suka menghindari apa yang menurutnya tidak ia sukai atau merugikannya.


Sifat yang kedua sifat melawan,memberontak dan mendominan mungkin sifat ini sekarang yang sedang menguasai Fanny,


Gue juga tidak tahu penyebab kenapa dia bisa kayak gini tapi kemungkinan besar trauma masa kecilnya yang membuat ia membentuk kedua sifat itu...


"Jadi apa yang harus gue lakukan sekarang Dena?"

__ADS_1


"Biar Fanny disini dulu, besok loe datang semoga Fanny uda tenang."


"Oh ya,, suruhan gue yang mengikutin Fanny kemarin sedang bersama seseorang paruh baya, gue habis dari sini mau ketemu dengan dia. Dari yang dia cerita ini semua ada hubungannya dengan Fanny dan dia juga nemui lelaki itu di sekitar gubuk yang sering Fanny datangin."


"Gue uda tahu daerah itu,,,itu tempat papa gue nemui Fanny dua puluh tiga tahun yang lalu kalau tidak salah."


"Maksud loe, kemungkinan mamanya Fanny yang dikabarkan hilang dari rumah sakit jiwa ada disana?"


"Kemungkinan besar seperti itu...dan yang lebih parah lagi kemungkinan Zia akan menjadi tumbal dendamnya..."


"Gimana,? ,Gimana? Gue gak ngerti sumpah.."


"Ini baru gambaran gue yang terlalu biasa ngadepin orang gangguan jiwa, banyak kemungkinan yang akan terjadi tapi lebih dominan ke dua ini untuk antisipasi.


Pertama, Fanny bermaksud membuat Zia merasakan bagaimana jika istri kedua diabaikan oleh suaminya,, karena biasanya istri pertama selalu menderita dan dia ingin membalik keadaan agar ia tidak merasakan sakit seperti ibunya yang lemah saat jadi istri pertama.


kedua, kemungkinan ada yang sedang ingin ia rencanakan, Zia hanya sebagai pengganti saat ia tidak ada agar loe sebagai orang yang di cinta gak kesepian, saat semua selesai kemungkinan besar dia akan minta loe pisah dari Zia..


Karena orang yang sudah dikendalikan emosinya dan fatalnya ia gak bisa kendalii yang dipikirannya jadi dia hanya untuk menyelamatkan diri dia aja. dan orang yang memiliki dua kepribadian bisa sewaktu-waktu berubah sifat tanpa kita ketahui disaat ia merasa perlu menjaga dirinya dari bahaya.


"Jadi sekarang harus gimana? Dan gue rasa ini lebih cocok untuk yang kedua."


"Gimana kalau kita ikutin alur dia aja? Sampai orang yang loe bilang tadi bisa bicara dan kita tahu letak kesalahannya dimana."


"Dan gue secara tidak langsung akan mencoba mengubah alur itu tanpa disadarinya."


"Terserah loe aja, intinya gue gak mau nyakitin Zia kalau bisa tidak ada yang tersakitin akhirnya.. karena jika harus memilih...gue gak sanggup." Ucap Abi dengan lemah memijat pelipis matanya dengan kepala yang bersandar di sofa seakan sesuatu yang berat menimpa kepalanya.


"Lepaskan aku!!!!"


#sabar ya abang Abi#


#bantu like comment and vote dears#

__ADS_1


__ADS_2