
Happy reading
🍇🍇🍇
Ternyata lebih memyenangkan mengaduk kue dari pada menunggu suami bekerja. Apa yang bisa Zia lakukan selain duduk lalu berdiri lagi menatap luar dari jendela besar diruang Abi saat pegal menanti ia duduk kembali. Jenuh itu yang Zia rasakan sekarang sambil melirik Abi yang masih sibuk dan fokus dengan laptop di meja kerjanya.
"Bang, adek pulang duluan aja ya?"
"Sebentar lagi sayang,,, dikit lagi abang selesai kok."
Nyatanya sebenarnya Abi mengulur waktu sampai semua yang ia tugaskan ke Teguh selesai tanpa meninggalkan rasa curiga nanti di Zia.
"Bang, adek boleh gak nerima pesana kue lagi?"
"Kalau abang gak ngizinin gimana?" Abi tetap setia didepan laptop tanpa memandang Zia.
"Ya, kalau abang gak setuju adek juga gak akan nerima pesanan lagi, adek hanya mau nyalurin hobi buat kue, kalau gak dikasih ntar adek buat kuenya biar dimakanin semua yang ada dirumah saja." Jawab Zia tanpa merasa keberatan jika Abi menolaknya.
"Itu lebih baik, biar abang yang khususnya makan kue buatin adek, abang juga uda punya tugas buat adek biar gak bosen."
"Tugas apa bang?"
"Mengantarkan setiap hari makan siang abang ke kantor."
"Itu maunya abang.."
"Kalau abang mau dan minta gimana?"
__ADS_1
"Ya adek anterin tiap hari." Abi tersenyum senang, sangat mudah untuknya mengatur Zia tanpa harus banyak berdebat yang berkepanjangan.
"Kenapa adek gak memberikan pendapatan adek atau menolak?"
"Kenapa Zia harus menolak? Kecewa itu ada saat yang kita inginkan tidak terpenuhi, apalagi dalam pernikahan bukan hanya menyatukan dua diri tapi juga menyatukan dua pikiran yang berbeda, kalau semua harus kita perdebatkan dengan ego masing - masing apalagi dengan pikiran yang sudah tidak lagi jernih jatuhnya pasti pertengkaran yang panjang.
Bagi adek selagi itu baik dan suami juga memenuhi semuanya masih banyak yang bisa dilakukan dirumah terutama agar ilmu tidak sia - sia, kita bisa jadi madrasah utama buat anak sambil berdoa agar pintu hati suami dibukakan hingga mau memberikan yang kita inginkan kalau belum terkabul mungkin Allah menundanya atau akan menggantikan dengan yang lebih.
Kalau ada sedikit pertentangan tidak apa mengalah, karena mengalah juga bukan berarti kalah tapi hanya berdiam sejenak hingga kesadaran dalam berpikir kembali."
Kali ini Abi benar - benar berhenti dari kegiatannya menatap dengan wajah yang serius sambil mencerna semua yang Zia katakan.
"Pertanyaan delapan kata ternyata bisa dijawab dengan ratusan kata juga ya?"
"Karena setiap kata memiliki maksud yang tersembunyi, Uda bisa pulang belum bang?"
"Udah, ayo kita pulang."
"Bang, jangan pegangan tangan boleh?" Zia masih takut dengan banyaknya tatapan yang ia terima tadi.
"Boleh, abang memang tidak akan memegang tangan adek tapi..." Abi merangkul pinggang Zia dengan posesivenya, "merangkul adek dengan erat hingga adek tidak akan pernah bisa lari dari abang." Bisik Abi ditelinga Zia.
Zia sudah memasrahkan nasibnya menerima semua yang akan ia dengar dan lihat saat berjalan nanti tapi nyatanya setiap langkahnya, berjalan damai tanpa ada tatapan sinis ataupun perkataan yang menyakitkan lagi, semuanya hanya diam dan sibuk dengan pekerjaan masing - masing.
"Mungkin mereka lagi banyak kerjaan hingga sangat fokus." Batin Zia
Dengan perasaan lega Zia melangkahkan kakinya dengan ringan tanpa ada beban yang diseretnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Fanny.."
"Eh maaf pak.."
"Ngelamun aja kamu dari tadi, ada masalah?"
"Tidak pak, hanya kangen suami dan anak yang jauh."
"Sabar, setelah masa percobaan kamu bisa balik seminggu sekali kesana untuk lepas kangen."
"Iya pak."
Fannypun beranjak dari duduknya setelah membayar semua pesanan makanannya.
"Sebenarnya apa yang aku cari? Semua sekarang terasa hampa.."
Fanny terus melangkahkan kakinya hingga ia terpaksa menghentikan langkahnya melihat seseorang disana yang masih bisa Fanny tangkap dengan pandangannya..
"Dia sekarang disini? Takdir memang membuatku harus menghancurkanmu tanpa susah payah mencari." Fanny tersenyum sinis, hilang sudah rasa kosong dihatinya berganti rasa dendam yang ingin segera ia tuntaskan.
"Aku takkan melepaskanmu Bagas Surya, kau harus merasakan apa yang telah kau torehkan." Kilatan amarah terlihat dimata Fanny sekarang yang tidak sabar menghabisi orang yang sudah merusak hidupnya dari kecil..
Fanny melanjutkan langkahnya kembali, untuk.sekarang ia belum siap bertemu langsung tapi nanti disaat semua sudah ia rencanakan ia akan menemui orang itu yang akan memohon ampun dan bertekuk lutut di kakinya.
"Aku sudah memilih untuk pergi sejenak dan membalas semua rasa yang pernah merobekku begitu kasar, setelah itu aku baru kembali ke sisimu lagi mas,, apapun yang kau mau akan aku turutin nantinya.. Biarlah begini dahulu..."
__ADS_1
#Abi hati hati dengan hati#
#bantu like comment and vote dears#