
Happy reading
🍇🍇🍇
Sapaan sinar matahari pagi menelusup malu - malu di kamar utama, Abi dari malam tidak bisa tidur tenang langsung terbangun dan pergi membersihkan diri.
Banyak pekerjaan yang tertunda karena semalam membuat Abi terpaksa menyelesaikannha pada hari sabtu ini.
"Sepertinya ia kelelahan." Abi enggan membangunkan Fanny , ia langsung saja sarapan dan pergi ke ruang kerjanya.
"Mas kok gak bangunin aku? Ucap Fanny manja,
Fanny datang masih dengan muka bantalnya bajunya sudah berganti dengan piyama pendek segera duduk di sofa ruang kerja Abi.
"Kelihatannya kamu capek banget jadi mas gak bangunin lagian mas masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan tadi."
"Tapi mas aku mau ajak kamu tempat Zia mas. Oh ya kira - kira Zia umurnya berapa ya? wajahnya kan masih muda gitu tapi anaknya paling besar uda 7 tahun. Apa dia lebih muda dari kita? Atau dia lebih tua dari kita? kalau mas dan akukan seumuran sama sama 31 tahun.
"Kenapa kamu sudah bahas itu pagi-pagi?" Jujur Abi enggan mengingatnya dan ia juga belum yakin bisa melakukannya
"Mas dengar dulu, mas juga pasti seneng dengarnya. Aku di promosii jadi manager mas dikota X, Akhirnya aku bisa mendapatkan jabatan sesuai impianku mas. Selesksinya hari senin mas. Jadi aku mau yakinin Zia buat nerima mas." Fanny menjelaskan dengan raut yang bahagia tapi dia tidak melihat perubahan raut wajah abi yang menandakan ketidaksukaannya.
"Fanny kalau dirimu kerja ke kota x itu tandanya kita makin jauh Fanny, seperti ini aja kamu jarang ada waktu gimana kalau beda kota?" Abi berusaha menahan kecamuk di dadanya mencoba memberikan penjelasan ke Fanny.
"Mas ini bukan zaman dulu yang serba susah mas, kalau kangen bisa video call, kalau mau bertemu naik pesawat bentar juga sampek mas, jangan memperumit keadaan mas. lagian weekend aku pasti balik kok mas."
"Fanny apa gak ada sedikitpun kamu mikir kami?."
"Karena aku mikirin mas dan icha makanya aku nyuruh mas nikah sama Zia. Jadi mas dapat pembantu mas dan pengurus Icha dan aku bisa nejar impianku mas. Aku gak mau nyesal mas kehilangan kesempatan ini."
"Mudah banget ya ngomongnya? Pernikahan kita ibarat taruhan ambisi diri."
" Mas kok ngomongnya gitu si,, kalau bisa kita buat surat perjanjian biar gak ada yang tersakiti." tawar Fanny dengan mudahnya.
"Kau kira pernikahan itu permainan? Nyuruh aku nikah dengan mudahnya dan mengatur kehidupan seseorang seenaknya dengan surat perjanjian. Egois kamu Fanny,kamu hanya mikir baik di kamu tanpa mikir penderitaan orang."
"Gak ada surat perjanjian juga gak masalah mas karena aku tahu kita sampai kapanpun saling mencintai, kemanapun kamu akan kembali ke aku lagi." Kata Fanny dengan kepercayaab tinggi sambil mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Terserah kamu ajalah."
"Oke, kalau gitu sore kita ke rumah Zia."
Fannypun keluar dari ruangan Abi untuk beristirhat lagi. Sudah lama dia gak libur seperti ini, senin sudah harus semangat mengejar tangga promosinya.
"Untung Icha anteng sama bibiknya, aku bisa istirahat. Capek banget tadi malam" Sambil merenggangkan otot lehernya kekanan kekiri.
Langkah Fanny sempat terhenti dari lantai 2 dia bisa melihat Icha sedang bermain dengan bibi asuhnya.
Diruangan kerjanya Abi sudah tidak bisa berfikir lagi bagaimana nasib rumah tangganya kelak..
"Saling mencintai tapi menyakiti? Tetap saling cinta? bahkan aku sudah ragu akan cintanya. Kemanapun aku akan kembali padanya? Apa dia gak tahu ada yang maha membolak balikkan hati? Apakah dia sudah siap akan itu?"
Pertanyaan banyak keluar dipikiran Abi tapi siapa yang bisa menjawabnya selain waktu yang akan memberi tahu apa yang akan terjadi kedepannya kelak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak terasa waktu sudah beranjak sore..
"Icha ayo sini kita ketempat kakak baik." Kata Fanny ke anaknya.
"okhee e khkhumah aak aik." Icha sangat senang akan berjumpa dengan Saf dan Aif.
Diperjalanan Abi dan Fanny hanya diam dan sesekali menjawab celotehan Icha jika sedang menanyakan sesuatu hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di dean rumah Zia.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Sahut sessorang di dalam
" Aak Saf." Panggil Icha sambil merentangkan tanganya minta di gendong Saf. Safpun langsung menggendong Icha setelah menyalami Abi dan Fanny.
"Silahkan masuk om dan tante, kalau mau jumpa mama bentar lagi mama balik lagi antar pesanan tadi."
"Iya gak apa - apa." Sahut Fanny
"Saf kebelakang dulu ya tante, gak apa - apakan bawa Icha ? " Tanya Saf yang dibalas anggukan Fanny.
__ADS_1
Mata Fanny menelusuri rumah zia, rumah yang menurut Fanny kecil tapi seperti da sesuatu yang lain tidak hambar seperti dirumahnya tapi dia gak tahu apa yang membedakannya.
"Siapa yang datang? mobilnya? Gak mungkin , ngapai lagi dia kemari?"
Zia bergegas masuk kedalam rumahnya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam." jawab Abi dan Fanny
Abi sempat terpaku melihat Zia walau ia berhijab tapi auranya sangat memikat apalagi dengan kerudung jingga yang ia pakai langsung menghangatka hati yang memandangnya.
"Mama uda pulang? Om tante silahkan diminum."
"Makasih." Jawab Abi
Safpun berlalu kebelakang lagi, ia diajarkan tidak boleh mendengar atau melihat ketika orang tua sedang berbicara.
"Kalau boleh tahu ada apa ya mba dan pak Abi berkunjung kemari."
"Kedatangan kami kemari untuk membahas masalah kemarin, Aku ingin kamu menikah dengan mas Abi untuk mempertanggung jawabkan kesalahan yang telah mas Abi lakukan."
"Apakah tidak ada cara lain untuk mempertanggung jawabkan selain pernikahan? kalian berdua benar - benr udah gila ya.. suamiku belum meninggal 1 bulan tapi apa yang kalian bahas?" Zia tersenyun miris
"Tapi ini untuk kehidupan mu juga Zia."
"Tahu apa mba dengan kehidupanku? Biasa orang waras disuruh ngalah. Aku yang masih waras disini sekarang tidak mau mengalah. Lebih baik mba merenungkan kesalahan mba sendiri dan buat anda pak Abi,lelaki itu pemimpin harus bisa memberikan arahan dan menjaga rumah tangganya,
Pak Abi mengatur istri satu aja sulit mau cari 2 istri karena ambisi istri anda sendiri. kebalik banget dunia sekarang. Mba, jangan sampai mba melewati batas fitrah mba demi ambisi mba. Saya rasa pembahasan ini sudah cukup." Usir Zia secara halus..
"Kalau begitu kami permisi lain kali aku akan datang lagi. Icha ayo pulang nak" panggil Fanny agar icha datang menghampirinya..
Saat Abi dan Fanny keluar dari pintu rumahnya, Zia langsung menutupnya.
"Menikah lagi? Hatiku saja sudah dibawah penuh olehmu mas Farhan." Ucap Zia sambil menghusap air mata yang terlanjur mengalir agar tidak diketahui anaknya.
#Saya juga masih waras zia#
__ADS_1
like comment vote dears