
happy reading
🍇🍇🍇
Waktu tak pernah mau berhenti berputar selalu meninggalkan masa lalu dan membawa kita ke waktu didepannya, ia tidak peduli dengan apa yang terjadi karena satu yang pasti semua takkan pernah bisa kembali.
Hubungan Zia dan Abi setiap hari makin terlihat dekat, Zia sudah tidak canggung lagi untuk membalas sikap mesra Abi untuknya kalau itu hanya sekedar pelukan atau ciuman.
Suara gemericik air terdengar sangat lama di kamar mandi hingga membangunkan Abi dari kesadarannya mengingatkan waktu fajar yang akan segera hadir.
Tangan Abi merasakan kekosongan disaat guling hangatnya ternyata sudah bangun tanpa ia sadari.
"Dek..."
"Abang udah bangun? Mandi dulu bang biar bisa sholat jamaah" Tanya Zia sesaat setelah keluar kamar mandi dan mengeringkan rambutnya yang basah.
Zia yang sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer tidak melihat senyum Abi yang merekah bak kelopak mawar yang baru menunjukkan mekar indahnya.
Tanpa menjawab Abi langsung beranjak dari tempat tidurnya dan membersihkan diri sesingkat mungkin takut subuh pergi tanpa mau menunggu.
Seluruh keluarga merasakan keanehan hari ini, tidak biasanya Abi tersenyum bahagia sekali hari ini dan melakukan apapun dengan senang hati.
"Zia, Suamimu kamu kasih apa sampek segitunya, silau banget senyumnya."
"Zia juga gak tahu ma, mungkin hatinya lagi senang." Jawab Zia sekenanya sambil melirik Abi dengan keanehannya.
"Kenapa kamu Abi?"
"Kenapa ma? Emang Abi gak boleh senyum gitu? Adek nanti kekantor abangkan antar bekal?"
"Maaf bang, hari ini adek mau ke rumah lama, udah lama adek tinggal mau lihat kesana dan adek juga kangen berada disana. Bolehkan bang? Sekalian Saf dan Aif juga ada acara camping dekat mesjid sana Sabtu dan minggu. Jadi adek mau bermalam disana." Jelas Zia
Seketika wajah yang penuh dengan senyum itu terdiam dan berpikir, haruskah ia memberi izin? Egoiskah jika ia melarangnya?
"Kalau kamu kangen mama izinin kok Zia nginap disana tapi kalau Abi nyusul ikut kesana gak apa kan?" Rani sepertinya tahu isi hati anaknya yang enggan memberi izin untuk Zia pergi kesana.
"Kalau itu..." Zia sebenarnya lagi ingin sendiri dan ia kangen dengan tempat tidurnya bersama Farhan dulu, tapi ia juga sadar suaminya yang tiba - tiba wajahnya berubah datar tanpa terlihat ada senyum lagi disana.
"Bang Abi maukan temenin adek tidur disana? Sepertinya kalau tidur sendiri serem juga, apalagi udah lama rumahnya gak ada yang bermalam disana."
Wajah Abi seketika berubah cerah kembali mendung yang menghadang ternyata hanya singgah sesaat sudah pergi ke tempat lain dan tidak tahu dimana.
__ADS_1
"Adek boleh pergi sendiri nanti sama anak - anak nanti abang susul adek kesana, abang juga gak tega kalau biarkan adek sendiri disana."
"Paling dia yang gak mau pisah dari Zia ma, sok - sokan bilang takut ditinggal sendiri, yang ada dia yang takut gak bisa dapat jatahnya." Celetuk Faiz yang dari tadi hanya diam sambil melirik yang berbicara.
"Ha..ha..ha.. Mama ngerti sekarang kenapa Abi senyum - senyum." Rani tertawa mendapatkan kartu kemenangannya.
Zia hanya tersenyum kikuk dia juga baru sadar sekarang apa yang di mau Abi..Tapi kalau untuk lebih apa Zia udah siap? Zia enggan menjawab kecamuk dihatinya.
"Ma, jam berapa Kita berangkat?" Saf sudah tidak sabar berkumpul dengan teman lamanya.
"Bisakan nanti jaga dek Aif disana?" Walau dekat Zia merasa khawatir anaknya berkemah tanpa ada Zia disana.
"Aif uda besar ma, uda jadi kakak lagi." Aif tidak terima masih dibilang kecil.
"Icha gimana ma? Apa Zia ajak aja ya? Kasian kalau gak ada temennya." Tanya Zia yang gak tega ninggalin Icha sendiri tanpa teman.
"Aduh.." Rintih Rani.
"Kenapa ma?" Tanya Abi sambil memainkan matanya berharap mamanya bisa tahu bahasa tubuhnya.
"Ada semut gak takut dosa gigit mama, Icha biar sama mama aja, mama mau ajak Icha jalan - jalan, uda lama gak ajak Icha ke puncak disana lebih dingin dan mantab." Rani secara tidak langsung menyindir Abi yang tidak tahu mencari tempat yang sangat bagus untuk bermesraan.
Abi hanya memutar bola malasnya, siapa juga yang gak tahu tempat kalau perlu Abi gotong bawa ke benua antartika sekalian biar Zia gak mau lepas dari pelukannya tapi ini kan kondisi darurat yang harus memanfaatkan kondisi yang ada biar tidak terlewati begitu saja.
"Iya bang, hati - hati." Zia mencium punggung tangan Abi dan dibalas Abi dengan kecupan sayang di kening Zia.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam"
Setelah kepergian Abi, Zia mulai berkemas membawa seperlunya yang ia dan anak butuhkan, tidak lupa juga kebutuhan suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zia sangat bahagia sudah berada dirumah yang dulu penuh kebahagiaan dan canda tawa, ia masih mengingat semua yang terjadi disana walau tidak bisa kembali tapi masih bisa di kenang dengan indah.
Apalagi tadi ibu - ibu yang biasa selalu menjadi ibu kedua untuk Zia datang ramai - ramai bertanya kabar Zia dan senda gurau yang tidak pernah terlewatkan disetiap selingan kata membawa kehangatan hati yang dirindukan Zia.
Abi benar - benar menjaga ucapannya, walau rumah ditinggal lama tapi debu seakan enggan menyentuh Benda - benda yang masih setia menghiasi rumah tersebut.
Zia sekarang sudah didapur mempersiapkan makan malam untuk suaminya,,,
__ADS_1
Tok..Tok..
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam"
"Abang cepat banget sampeknya?" Zia langsung menyalim Abi yang selalu tanpa diberitahu Abi akan mencium keningnya.
"Iya, gak banyak kerjaan kantor tadi." Padahal Abi melimpahkan semua perkerjaannya ke Teguh karena ia tidak sabar untuk bersama Zia berdua tanpa ada yang mengganggu.
"Ya udah, abang mandi dulu, bajunya ada dilemari uda adek rapikan. Adek mau selesaikan masak sebentar lagi siap."
Abi menurutin maunya Zia selain ia merasa risih dan gerah, Abi juga mau terlihat wangi untuk mengeksekusi Zia nanti malam. Itu rencana yang sudah ia siapkan dengan matang.
Abi mencari - cari baju yang akan ia pakai hingga tanpa sadar mata Abi melihat banyak tumpukan baju berbahan tipis di sekat lemari baju yang lain.
Abi penasaran dengan baju tersebut, ia mengambil satu helai paling atas. Mata Abi langsung membola melihat betapa tipis kain itu hingga yang memakainya pasti akan memperlihatkan apa yang ada disana.
Seketika wajah Abi memanas, Abi tahu ia salah tapi rasa cemburu itu datang tanpa mau kompromi membayangkan Zia memakai baju - baju tipis ini untuk suaminya dulu. Sedangkan saat bersamanya Zia selalu berpakaian tertutup.
Abi dengan segera memakai bajunya dan menghampiri Zia. tapi ia hanya diam saja tanpa mau mengatakan apapun ke Zia, hingga selesai sholat maghrib dan makan malampun tiba Abi masih setia dengan diamnya.
Zia sudah menyiapkan berbagai makanan untuk mereka berdua tapi kenapa wajah suaminya yang tadi senang berubah datar lagi? Apa ada yang salah?
"Abang kenapa?"
"Kenapa dengan abang, abang tidak apa - apa. " Padahal hati Abi masih merasakan panas kecemburuan.
"Ohw.."
Jawaban singkat Zia membuat Abi makin panas, kenapa dia tidak merayu? Kenapa ia tidak mencari perhatian atau membujukku. Banyak sekali kata - kata yang jadi kompor api di hati Abi.
"Abang kayaknya gak jadi nginap, abang lupa masih ada kerjaan yang tertinggal dirumah tadi."
"Ya udah gak apa bang, adek berani kok tidur sendiri, abang kerjakan aja tugas abang, itu tanggung jawab abang."
Hati Abi makin uring - uringan mendapatkan Zia tidak menahannya untuk tidur bersamanya.
Abi dengan segera menyelesaikan makannya dan pergi begitu saja dari hadapan Zia, hingga membuat Zia bingung ada apa sebenarnya?
#Zia, Abi lagi cemburu buta loh#
__ADS_1
#bantu like,comment and vote dears#