
Happy reading...
🍇🍇🍇
"Bagaimana? Sudah berapa kali kamu tidur dengannya?"
"Sudah hampir tiap malam Nyonya Fanny."
"Apakah dia sudah menanda tanganin apa yang sudah aku buat?"
"Belum, dia masih belum sepenuhnya percaya sama saya."
"Lakukan secepat mungkin jangan terlalu lama bermain dengannya karena aku tidak sabar melihat dia mati secara berlahan dengan penyakitnya."
"Baiklah,, beri aku waktu sampai nanti malam..."
Fanny langsung mematikan sambungan telpon dari wanita bayarannya. Wanita yang mengidap penyakit HIV/AIDS yang akan segera menular ke Bagas Surya. Fanny tersenyum jahat, Bagas memang pantas mendapatkan karmanya bahkan itu belum cukup kejam, sekejam Bagas yang telah mencabik harga dirinya.
Ia hanya tinggal menunggu Bagas menanda tanganin semua hak milik perusahaan papanya dulu menjadi miliknya. Ia juga anak dari seorang bajhingan bernama Beni Surya dan berhak atas harta itu juga. Sudah terlalu lama Bagas menikmatinya, kini gilirannya yang harus mendapatkan haknya.
"Akhirnya semua tinggal menunggu waktu dan selesai."
Fanny merasa sangat legah usahanya tidak Sia-sia, ia berharap kali ini Bagas tidak akan bisa mengganggunya atau mengusik kehidupannya lagi.
"Sangat mudah ternyata menjebak lelaki yang tidak bisa menahan godaaan, tanpa perlu mengotori tanganku ia sudah masuk kedalam perangkap. Nikmatin bom waktumu Bagas yang akan meledak tanpa kau sadari."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bang bangun, kerja.." Zia paling kesal membangunkan Abi yang selalu tertidur kembali setelah sholat subuh. Zia terus mengguncang tubuh Abi agar segera bangun.
"Dek, gak bisa apa bangunin suaminya tuh manis dikit gak kayak lagi kena gempa bumi gini?"
"Kalau kurang manis tambahin aja gula, jam segini masih bicara manis - manis bakal ngumpet malu tuh waktu karena abang."
"Biarkan aja waktu merekam dengan malu saat - saat manis kita berdua."
__ADS_1
"Dan biarkan juga waktu istirahat sejenak agar ia bisa menguatkan hatinya saat perjalanan didepannya sudah terlihat akan banyak kerikil yang tajam."
Abi terdiam dengan perkataan Zia, ia memilih beranjak dari tidurnya dan memilik mandi.
"Hah..." Zia menghela napasnya yang menyesakkan relung hatinya. "Kenapa mas harus berbohong dan tidak memilih jujur? Padahal memang hak mba Fanny mendapatkan perhatian dan cinta abang. Sedangkan aku..."
Zia memilih tidak melanjutkan kata-katanya karena seonggok daging didalam sana sudah berdenyut nyeri, jika ia lanjutkan bisa-bisa ia tidak bisa menahan luapan air mata yang terus ia tahan.
"Aku masih baik - baik saja. Allah ada bersamaku. Cukup Allah yang bersamaku." Zia menguatkan hatinya sendiri.
flash back on
Zia yang telah selesai dalam ritual saling memandikan, memilih turun kebawah meninggalkan Abi yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Rumah terlihat sangat sepi hingga sedikit saja ada suara langsung menggema di tiap sudut ruang.
Zia memilih mengistirahatkan dirinya di gazebo taman belakang sambil melihat - lihat resep kue apa yang akan ia uji coba.
Ting
"Siapa ya?" Terlihat nomor yang tidak pernah ada dikontak Zia terpampanh disana.
"Zia, tolong siapkan semua keperluan mas Abi ya, mas abi bakal ke kota Y menemani mba untuk pengangkatan resmi mba minggu depan. Kamu pasti tidak tahukan apa saja yang penting dan biasa yang dibawa mas Abi? Nanti mba kirim listnya ke kamu. Terima kasih sudah menjaga mas Abi disana.
Mba gak lama lagi bakal balik kesana. Maaf jika selama dengan mas Abi, dia tidak menunjukkan rasa cintanya ke kamu. Kamu tahukan istri pertama adalah pemilik tahta tertinggi dihati suaminya? Jadi sabar aja, mas Abi juga gakkan mengabaikan kamu kok sebagai istri kedua.
Jangan lupa disiapin segalanya ya, Terima kasih. miss you all."
"Mba Fanny..?"
Tanpa terasa ada satu tetesan air mata keluar dari sudut mata Zia.
Kenapa Abi memilih berbohong? Dan kenapa Fanny mengirim pesan seakan Abi hanya mencintai Fanny. Inikah yang terus mengganjal dihatinya? Ada satu hati yang belum mengikhlaskan pernikahan ini terbagi secara adil, ada satu jiwa yang ingin menunjukkan kepemilikannya, ada satu raga yang tanpa tahu perkataannya bisa melukai seseorang.
Flashback off
__ADS_1
Tidak tahu karena apa kini terjadi kecanggungan antara Abi dan Zia...
Zia dari tadi terlihat seperti tidak terjadi apa - apa. Sedangkan Abi dengan perasaan bersalahnya yang seperti kian menumpuk...
"Abang mau pergi sekarang?:
"Iya, abang pergi dulu ya." Tanpa menunggu Zia mengulurkan tangan menyambut tangan Abi, Abi mengecup kening Zia duluan.
"Hati - hati ya bang."
Abi hanya diam dam memperhatikan raut wajah Zia seluruhnya tanpa ada yang terlewatin.
" Dek..."
"Ya bang, ada apa?" Zia menanyakan sambil mengukir senyum diwajahnya.
"Gak apa-apa. Abang pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Zia memperhatikan kepergian Abi hingga hilang dari jarak pandangnya.
"Apakah abang tidak tahu? Satu hal yang paling menyakitkan adalah kebohongan?."
Zia memutar balik badannya melangkah menuju tempat kebahagiaan yang selalu apa adanya tanpa ditutupin topeng kepura-puraan. Yaitu anak - anaknya...
Zia memasang wajah cerianya disaat melihat ada Rani,Faiz dan anak - anak yang sedang libur sekolah sedang menonton tv bersama di ruang keluarga.
Pergi sejenak menyegarkan pikiran sepertinya menyenangkan.
"Bagaimana kalau hari ini kita semua pergi piknik?"
#Abi masih menutup mulutnya,,#
#Bantu like comment and vote dears#
__ADS_1