Kesetiaan Terabaikan

Kesetiaan Terabaikan
Bukan kelemahan...


__ADS_3

happy reading


🍇🍇🍇


Zia sekarang merasa ragu untuk melangkah kedepan, ia melihat didepannya ada sebuah rumah besar dan mewah sedang berdiri tegak dengan angkuhnya.


Zia merasakan kedua tangan yang menggenggam tangan kanan-kiri Zia semakin erat menggenggam seperti merasakan hal yang sama dengan Zia.


Ia genggam tangan anaknya dengan keyakinan bahwa mereka akan baik-baik saja nantinya.


"Kok diam saja disitu? Ayo masuk." Abi mengajak mereka untuk segera masuk kerumahnya.


"Bismillah." Merekapun melangkahkan kaki untuk menuju pintu rumah mewah yang tertutup rapat seakan enggan menerima orang luar masuk kedalam.


"Assalamualaikum" Salam Zia dan anak-anak saat Abi membuka pintu rumahnya.


Terlihat jelas sketsa rumah mewah bagai lukisan dengan detail yang indah disetiap sudut ruangan sekarang nyata ada dihadapan Zia.


"Duduklah Zia, kak Saf dan Kak Aif ikut om aja ke tempat Icha kita kasih surprise buat dia."


"Tapi aku..." Zia ragu ditinggal sendiri diruang tamu sebesar ini, suaranya saja seakan menggema dengan kesunyian yang ada disana.


"Kamu disini saja sebentar, aku gak lama sekalian manggil papa,mama dan Fanny."


"Baiklah bang." Zia lebih memilih mengalah.


Tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki saling bersahutan semakin dekat menuju Zia.


"Nak Zia akhirnya datang juga ke rumah mama." Rani menghampiri Zia, Zia melihat Rani datang dengan Faiz lamgsung berdiri menyalamin Rani dan menangkupknan kedua tangannya ke Faiz.


"Duduklah Zia." Perintah Faiz


Tapi saat Zia akan duduk ia melihat Fanny datang bersama Abi sambil memeluk lengan Abi dengan mesranya.


"Kak Fanny.." Zia ingin menyalami Fanny tapi tidak disambut oleh Fanny

__ADS_1


"Jangan seformal itu Zia, oh ya, panggil aku Fanny, jangan pakai embel-embel kakak berasa tua banget aku."


"Baiklah Fanny" Ziapun lebih memilih duduk.


Dari sikap Fanny ia tahu bahwa Fanny orang yang mendominasi dan keras karakternya. Ia harus bisa mengambil sikap nanti gimana jika berurusan dengan Fanny.


Zia memiliki sikap sanguin plegmatis dan sedikit koleris. Dengan Sanguinnya ia tidak suka beralut dalam masalah karena sanguin tipe yang suka keceriaan dan kebahagiaan tidak seperti melankolis yang lebih sering meratapi kesedihan, Plegmatisnya, ia tidak suka mencari masalah dengan orang lain lebih mencari aman untuk menenangkan tapi ingat Zia juga ada sisi kolerisnya yang keras jika seseorang sudah mengganggunya diluar batas.


Zia bisa membaca karakter sifat seseorang hanya dengan melihat cara ia bicara dan membaca mimik wajahnya dan ia tahu bagaimana Fanny dari awal pertemuan mereka.


Diruangan itu Rani lebih banyak bercerita dengan Zia hingga membuat rasa iri di hati Fanny karena menurutnya mertuanya sudah memperlihatkan sifat pilih kasihnya dan ini tidak boleh terjadi. Zia harus tahu posisinya nanti.


"Ehm..Zia apakah kamu sudah tahu kamu disuruh Abi kesini untuk apa?" Tanya Fanny to the point.


"Oh, belum sepenuhnya Fanny, hanya tadi dengar dari Bang Abi kalau Fanny ingin mendiskusikan sesuatu."


Fanny merasakan geli melihat suaminya dipanggil abang, gak romantis banget kayak manggil abang tukang bakso dijalanan.


"Oke, gini kurang lebih dua bulan lagi kamu akan menikah dengan suami saya, bagaimanapun nanti semua harus sesuai porsinya. Adil itu bukan harus sama ratakan? Tapi adil sesuai porsi dimana aku istri pertama kedudukan lebih tinggi dari istri kedua, jadi aku berhak mengatur segala sesuatu termasuk pembagian jatah keuangan."


Terlihat Rani ingin angkat bicara tapi tangan Zia yang menggenggam tangan Rani seperti mengisyaratkan agar Rani tidak membantah kata - kata Fanny.


Faiz dan Abi hanya diam menyimak apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Lalu.." Zia ingin Fanny melanjutkan bicaranya,


"Aku ingin setiap jatah libur aku dan Abi untukku, mau Abi yang datang menyusulku atau aku yang sedang kembali kerumah."


"Ternyata ia lemah dan mudah diatur." Batin Fanny


"Lalu.."


"Jadi jangan pernah merasa kamu bisa mengatur segalanya dirumah ini." Ucap Fanny akhirnya.


Faiz dan Abi dari tadi sudah merasa geram dengan sifat Fanny tapi mereka tidak mau membuat keributan dan akhirnya Zia tidak nyaman.

__ADS_1


"Aku kira tadi apa Fanny, kenapa tidak to the point aja kalau kamu ingin semua tetap seperti inginmu. Terserah kamu maunya apa, toh kalau kamu kerja luar kota waktu bang Abi lebih banyak denganku, Libur bang Abi hanya hari minggu, itukan adil porsimu." Zia sengaja ingin membuat Fanny panas, ia diam bukan berarti lemah tapi ingin mencari titik kelemahan lawan.


"Tapi satu hal yang sangat penting, aku menghormatimu sebagai nanti istri pertama suamimu tapi tidak dengan perintahmu. Semua aku serahkan ke mas Abi bagaimana ia akan membagi semuanya karena kelak dia adalah imamku yang harus aku patuhi perintahnya walau harus menggenggam bara api sekalipun selama itu untuk kebaikan." Jelas Zia dengan tekanan disetiap katanya.


Lalu Zia memandang Abi..


"Abang nanti adalah pemimpin dua makmum, jadi kalau menurut abang kata-kata Fanny tadi adil, saya terima dengan ikhlas tapi jika itu ternyata tidak adil dimata Allah bersiaplah nanti, Abang tidak maukan kaki abang pincang diakhirat karena ketidak adilan?" Mata Zia sambil melirik Fanny sekilas ingin melihat reaksi Fanny


Terlihat wajah Fanny sudah menahan amarah karena Zia tidak mau mendengar kata-katanya.


Abi meneguk ludahnya sendiri ia tidak menyangka akan mendapat ancaman oleh Zia, sedangkan Rani dan Faiz merasa kagum dengan ucapan Zia yang mematahkan Fanny.


"Jadi kalau Fanny menginginkan itu, tanya ke bang Abi karena harta,tahta ataupun dunia bukan kelemahan yang membuat aku harus membantah suamiku kelak." Perkataan Zia memukul telak Fanny hingga Fanny meninggalkan ruangan itu dengan penuh amarah.


"Aku pikir kau lemah dan bisa aku jadikan boneka, tapi nyatanya...." Fanny mengumpat didalam hatinya, ia tidak akan membiarkan Zia berkuasa, kalau Zia tidak bisa ia atur masih ada Abi yang akan dia atur nanti.


"Nak Zia maafkan sikap Fanny ya."


"Tidak apa ma, Fanny hanya lagi salah jalan apalagi pengarah jalannya tidak tegas menentukan arah jalannya." Zia sengaja secara tidak langsung menyindir Abi


"Kenapa semua melirikku?" Abi terlihat kesal karena Zia terus menyindirnya apalagi tatapan kedua orang tuanya.


"Nanti makan disini dulu ya, baru pulang diantar abi? "


"Baiklah ma."


Di lantai bawah ruang tamu itu sekarang terdengar suara tawa dan kebahagiaan, gema kesu yian sirna seketika...


Tapi lain dengan dilantai atas kamar utama, disana Fanny masuk ke ruang walk in closetnya mengambil sesuatu yang tersembunyi disana.


Ia menusuk - nusuk benda itu dengan pisau secara brutal..


"Awas saja kalian jika berani melawanku...!"


#kenapa dengan fanny ya?#

__ADS_1


#Bantu like,comment and vote ya#


__ADS_2