
Happy reading
🍇🍇🍇
Suasana yang biasa ramai dengan suara oma dan Icha kini yang ada hanyalah kesunyian, tiada yang berani membuka suara, semua terdiam dengan pikiran masing - masing hanya Icha yang sibuk bermain dengan Bik Nia.
Sedangkan Rani dan Faiz memilih masuk ke kamarnya saat melihat Fanny keluar dari kamar anaknya.
"Mau kemana mas?" Tanya fanny yang melihat Abi beranjak dari tempat duduknya.
"Aku mau keluar sebentar bertemu Zia mengambil berkas - berkas yang diperlukan." Jawab Abi dengan jujurnya, Abi hanya ingin melihat reaksi Fanny apakah akan cemburu atau menghalangi?
"Oh,,apa aku boleh ikut?"
"Mau ngapain kamu ikut?"
"Gak ada, aku hanya mau lebih dekat dengan calon maduku bukankah sebentar lagi kami harus bekerja sama untuk bisa membahagiakanmu?"
"Apa maksudmu Fanny?" Ada gemuruh panas ingin meluap dihati Abi, ntah kenapa saat bicara dengan Fanny ia sekarang mudah tersulut emosi.
"Kan benar, aku dan dia harus bisa bekerja sama membahagiakanmu. Itukan yang mas mau? Ingin merasakan tetap bahagia walau aku sedang tidak dirumah, jadi kami harus membuat kesepakatan dan pembagian tugas termasuk pembagian waktu mas nanti untuk kami." Jelas Fanny dengan santainya tanpa peduli dengan reaksi Abi mendengar kata - kata yang ia lontarkan.
"Bukankah kau yang memintanya? Bukankah kau juga yang membuat kami bisa terjebak seperti ini?"
"Ini memang inginku karena aku tidak mau mas terus - terusan keberatan dengan semua yang sudah aku kerjakan dengan susah payah, apa mas pikir semua begitu mudah, ketika kita sudah berusaha keras tapi harus dilepaskan begitu saja?"
"Apa kata-kataku tadi malam tidak bisa sedikit saja meluluhkan hati mu?"
"Ini perasaanku mas dan aku sudah mengatakannya."
"Apa kamu gak bisa membedakan mana yang dinamakan pemikiran perasaan dengan pemikiran pikiranmu yang penuh dengan ambisi?"
"Sudahlah mas, aku kan gak mempermasalahkan masalah mas mau nikah lagi. Aku hanya ingin mengenal calon maduku dan memang semua harus dibicarakankan? Agar tidak ada kesalahpahaman atau keirian nantinya. Kenapa mas harus sesensitive itu?"
__ADS_1
Aku juga melakukan ini karena setelah aku lulus seleksi, aku melakukan masa percobaan sekitar enam bulanan, bisa kurang atau lebih tergantung kinerjaku nantinya yang pasti membuatku nanti sulit untuk pulang jadi aku ingin saat libur nanti mas bersamaku."
"Kau dirumah saja, biar aku yang membawa mereka kemari, jadi semua yang ingin kamu katakan bisa kamu katakan dengan jelas hingga papa dan mama juga tahu semua yang kita sepakatin."
"Mas, ini masalah keluarga kita. Kenapa papa dan mama harus ikut masuk kedalam? Cukup kita saja yang tahu."
"Aku hanya menjaga sesuatu dari hal yang tidak diinginkan nantinya dan perlu aku ingatkan juga mereka orang tuaku dan mereka juga berhak tahu apa yang yang akan menjadi kesepakatan kita."
"Mas..! " Abi pergi begitu saja meninggalkan Fanny.
"Ahhh..! Apa susahnya menurut denganku? Akhirnya juga dia yang senang bisa nikah lagi.
Gimanapun semua harus sesuai dengan jalan yang aku mau dan aku akan buat Zia setuju dengan semuanya, gimanapun ia hanya penggantiku saat aku tidak ada, bukan menjadi nyonya dirumah ini dan bagaimanapun Aku harus tetap menjadi yang utama di hati Abi sedangkan Zia hanyalah cadangan saat Abi kesepian. Semua harus sesuai inginku..."
"Jika kau berani menentangku mas, kau lihat saja nanti bagaimana peran istri pertama yang bisa menghancurkan istri kedua sehancur-hancurnya. Bukankah istri pertama selalu jadi pihak tertindas?" Fanny tersenyum licik, ia sudah merencanakan semuanya termasuk jika sesuatu akan terjadi diluar inginnya karena impiannya dan Abi hanya milik Fanny bukan orang lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak lama Abi sudah sampai di halaman rumah Zia, ia bingung melihat Zia dan anak-anaknya sedang berjongkok sambil memegang rumput dihalama kecil rumah Zia.
"Waalaikumsalam." Zia mendongakkan wajahnya dan melihat Abi ada didepannya berdiri tegak.
"Apa kalian sedang menghitung rumput?" Tanya Abi.
"Ya om, kami menghitung berapa banyak rumput yang bisa kami kasih untuk makanan kambing kakek."Jawab Saf
"Ish om gini aja gak tahu, kami lagi membantu ibu mencabut rumput.hi..hi..hi.." Jawab Aif sambil menyanyikan lirik lagu yang diubahnya sambil terkekeh geli sendiri.
"Ngapai abang pagi-pagi disini? Hobi banget pagi-pagi udah bertandang kerumah orang. pa..ma..li"
"Hanya mau ambil berkasmu."
"Kan gak harus pagi juga, lagian belum sempat aku foto copy."
__ADS_1
"Gak perlu foto copy, kamu bawa aja aslinya sekalian ajak anak-anak, aku mau bawa kamu kerumah."
"Mas ada izin aku mau ajak pergi?"
"Ini sekalian izin dan langsung ajak pergi."
"Ya Allah mas, harus pakek jatah sabar ya ngomong sama kamu." Zia menahan kesalnya sambil mencabutin rumput dengan kasar.
"Bisakah berhenti mencabut rumput itu dulu?Aku kasian melihat nyawa rumput itu dicabut secara paksa. Apa perlu aku panggil tukang kebun untuk membersihkannya?"
"Maaf tidak perlu dan tidak butuh, Saf Aif mandi dulu sana kita mau keluar sama om Abi."
"Baik ma.." Mereka berlari menuju kedalam rumah sebelum mamanya berubah pikiran, mencabut rumput adalah hal yang sangat membosankan bagi mereka.
"Tunggulah di mobil bang, kami akan bersiap sebentar." Zia ingin meninggalkan Abi..
"Tunggu.."
"Ada apa lagi?"
"Ada Fanny dirumah.."
"Lalu..."
"Ia ingin membicarakan bagaimana pembagian waktu kedepannya."
"Aku setuju itu memang harus dibicarakan agar kaki abang nanti tidak pincang sebelah di akhirat." Sambil menunjukkan kaki Abi dengan lirikan matanya.
Zia langsung menyusul anaknya masuk ke dalam rumah untuk segera bersiap...
"Apa hubungan kesepakatan dengan kaki pincang?" Abi mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti...
#Abi sama nyawa rumput aja kasian gimana dengan nyawa yang disayang##
__ADS_1
#bantu like,comment and vote ya dears...#