
Happy reading
🍇🍇🍇
Sudah seminggu sejak Zia dan anak - anak tidak tinggal kembali dirumah Abi. Abi setiap hari menyempatkan ke rumah dimana Zia berada hanya untuk memastikan keadaan Zia dan bayi yang dikandung Zia walau hanya sebentar dan tidak pernah bermalam disana, Abi tetap memegang teguh janjinya demi Fanny agar merasa nyaman kembali.
Sudah berapa malam yang Fanny hitung dan kini ia merasakan bahagia saat Abi mulai kembali menyentuhnya. Fanny memandang raut wajah lelah Abi yang tertidur setelah malam panjang mereka. Senyum bahagia terpatri di wajah Fanny bisa merasakan sentuhan Abi kembali.
"Mas, makasih atas malam ini. Aku tahu masih ada sedikit cinta itu disana, bolehkah aku berharap hati itu penuh dengan aku kembali dan kita jalanin semua dari awal tanpa ada yang kedua?" Fanny berkata dengan lirih dengan mata yang tak pernah putus memandang wajah Abi dengan lelapnya. Ada guratab harapan dan keputusaasaan secara bersamaan diwajah Fanny.
"Aku yakin kita masih bisa memperbaikin segalanya mas,, Radit pasti salah kalau aku hanya mencintai sendiri."
Fanny mengingat kembali kejadian dimana ia bertemu dengan Radit di rumah sakit.
Flashback on
"Radit kamu disini?"
"Fanny? Gimana kabarmu?"
"Aku baik,,bisa kita bicara sebentar?"
"Baiklah,, ini juga udah jam pulangku, aku sedang ada pertemuan dokter disini, tapi jadi keasyikan kumpul hingga malam."
"Oh, kita duduk ditaman sana aja. Tunjuk Fanny ke taman yang sangat terlihat sepi malam hari."
"Kamu mau cerita apa?" Tanya Radit yany sudah mendudukan dirinya dibangku panjang taman.
"Oh ya, bolehkah aku membawa ibuku ke rumah sakit Jiwa kamu bekerja?"
"Apa tidak terlalu jauh?" Fanny menggelengkan kepalanya.
"Bukan yang disana, tapi yang disini."
"Tapi aku jarang disini, kamu tahukan alasanku?"
"Tidak apa, yang penting kamu bisa sesekali melihatnya."
"Baiklah, jadi apa ada yang lain ingin kamu katakan?"
"Aku sudah kembali bersama keluargaku, banyak kejadian diluar apa yang aku sadarin terutama sikap mas Abi yang terlihat berbeda. Dia seperti enggab menyentuhku lagi dan pandangannya tidak seperti dulu lagi."
__ADS_1
"Apakah ada seseorang diantara kalian?"
"Aku memiliki madu.." Radit terdiam sesaat sambil melirik ke arah Fanny.
"Ya aku lupa, kamu pernah menceritakannya. Kalau aku suruh kamu mundur?"
"Aku gak mau, aku yakin mas Abi masih mencintaiku, ia hanya marah dan kecewa dengan perlakuanku." Ucap Fanny dengan tegas.
"Bedakanlah rasa cinta dengan rasa kasihan Fanny. Mungkin dihatinya bukan rasa cinta lagi tapi hanya rasa empati dengan keadaanmu. Merasakan bertepuk sebelah tangan dengan memegang harapan yang setipis udara, hanya akan menyakitinmu karena tidak akan pernah bisa kau genggam."
"Kamu mau menasehatinku atau sedang menyindir dirimu sendiri?"
"Anggap saja begitu... Tapi ingatlah kata - kataku tadi. Jangan sampai karena keegoisanmu kembali akan banyak hati yang tersakitin hanya karena satu hati." Radit beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Fanny yang masih termenung dan mengulang - ngulang kembali apa yang dikatakan Radit.
"Kamu salah Radit, aku kenal mas Abi sejak dulu, ia hanya sedang merasa kecewa." Fanny tetap meyakinkan dirinya walau ada terbesit keraguan disana.
flashback off
Tok..tok..tok
"Ya bi, ada apa?" Tanya Fanny ke Bi Nia yang mengasuh Icha.
"Itu buk,,, Icha badannya panas tinggi dan dari tadi mengigau." Fanny melirik jam kamarnya yang sudah menunjukkan pukul empat subuh, ia baru saja tertidur saat mengingat perkataan Radit.
"Icha bangun sayang..kita minum obat pereda demam" Fanny membangunkan Icha dengan rasa khawatir yang sangat mengemban di hatinya.
"Ma,,, bunbun mana..Icha kangen bun-bun, kak Saf dan kak Aif." Ucap Icha dengan suara yang sangat lirih ditengah kesadaran yang menipis.
"Disinikan ada mama, yang nemenein Icha." Baru saja Fanny ingin berharap tapi kini anaknya menghempaskan harapannya dengan keras. Kenapa semua jadi bergantung dengan Zia? Icha bercadar sekarang juga karena Zia. Fanny mencoba mendiamkannya karena ia yakin Anak - anak hanya ingin mencoba dan akan ia lepas dan lupa begitu saja, tapi nyatanya sampai sekarang Icha tetap memakainya dan selalu mengingat semua pesan Zia hingga Fanny merasakan Zia sudah mengambil hati Icha juga.
"Bunbun...kak Saf...kak Aif..Icha kangen.. jangan pekhgi.. Icha baik..Icha gak nakal kak" Igau Icha kembali dengan mata terpejam menahan hawa panas ditubuhnya yang sudah menjalar ke mata.
Fanny terlihat kebingungan dengan keadaan Icha,,
"Icha bangun sayang,,buka matanya dulu kita minum obat." Tapi kata - kata Fanny yang penuh ke khawatiran tidak direspon Icha..
"Mama bangunin papa dulu.."
"Kenapa dengan Icha?" Abi yang merasakan tempat tidurnya kosong berpikir Fanny sedang dikamar mandi tapi dilihat pintu kamarnya terbuka dan ada suara keributan diluar membuat Abi enggan melanjutkan tidurnya.
"Icha panas mas, dari tadi Fanny bangunin buat minum obat gak mau." Jelas Fanny
__ADS_1
"Kenapa gak bangunin mas?"
"Mas terlihat capek, Fanny gak mau mas kuramg tidur."
"Tapi kamukan bisa bedakan saat darurat gaknya!." Abi tiba - tjba menaikkan nada suaranya membuat Fanny tersentak dan terdiam.
"Bunbun...Kak Saf..Kak Aif..."
"Icha, bangun sayang..minum obat dulu ya nak, " Abi mencoba membangunkan Icha tapi tetap tidak membuka matanya..
"Kenapa kamu hanya diam? Panggil dokter sekarang?!" Bentak Abi kembali ke Fanny membuat Fanny gelagapan dan segera bangkit untuk menelpon dokter.
Tidak berapa lama dokter datang dan memeriksa keadaan Icha, Icha yang dikompres untuk menurunkan panasnya bisa membuka matanya berlahan dan ia hanya memandang ada Abi disana.
"Mama mana pa?"
"Mama tadi papa suruh tidur dikamar, papa yang akan jaga Icha. Icha,.minum obatnya sayang..."
"Pa,,Icha mimpi bunbun dan kakak tadi, mekheka main sama adek kecil lupa sama Icha. Icha kangen pa..Bunbun jahat gak ajak Icha pekhgi juga."
"Minum obatnya dulu papa janji nanti bawa bunbun dan kakak kemari biar bisa main sama Icha lagi."
"Benekh pa? Pokhmaise?"
"Promise, sekarang setelah minum obat tidur ya, nanti bunbun sedih lihat Icha sakit."
"Iya pa,,"
Icha mulai menutup kembali matanya dan dengan cepat ia tertidur dengan belaian lembut Abi di helaian rambutnya.
Abi melihat Icha sudah tertidur, ia merasakan luapan kerinduan Icha karena ia juga merindukan kebersamaan itu.
"Maafkan papa nak, menjauhkanmu dengan orang yang sudah sangat berarti untukmu. Papa juga merindukan itu sayang,, maaf karena perasaan kamu menjadi korban perasaan itu. Papa juga merindukan Bunbun sayang, papa juga sangat mencintainya melebihin apapun, tapi papa tidak bisa menjauh dari mamamu, gimanapun mamamu tanggung jawab papa. Papa tidak mau mama kembali terluka hanya karena papa egois dengan perasaan papa"
Abi menuangkan segala rasa yang membeban dihatinya kepada Icha yang sudah larut di alam mimpi..
"Mas..." Lirih Fanny meluruhkan tubuhnya yang terasa sangat lemas saat bersandar kedinding mencuri dengar perkataan Abi ke Icha, ia mengatup bibirnya dengan erat menahan suara isakan yang akan keluar bersamaan dengan air mata yang sudah menderai deras..
#kalau gini siapa yang barus disalahkan lagi ya?#
#Bantu like comment and vote dears#
__ADS_1
#Maaf ya semalam gak update qadarullah tabrakan pas lagi naik motor kemarin, ini juga kaki masih sakit.#