
Abi pulang ke rumahnya dengan perasaan lapang dan bahagia, bagaimana tidak baru kali ini dia merasakan kehangatan dalam keluarga, saling bertukar cerita dan bersenda gurau.
"Papa, bechok tihta ke khumah aak aik agi ya?"
Karena hati lagi seneng tanpa sadar dia mengangguki kata - kata Icha.
Panas di hatinya sudah mereda, Abi merencanakan sesampainya dirumah akan mwnghubungi Fanny, sudah cukup lama dia mendiamkan istrinya. Dia juga mau berbagi kehangatan dan kebahagiaan bersama Fanny walau hanya dari video call.
"Ntar malam kita video call sama mama ya." Sambil tersenyum merekah ntah sudah berapa lama Abi tidak pernah senyum selebar itu.
"Api ntakh mama chibuk ndak au omong ama itha." Keluh Icha dengan mimik yang sedih.
"Pasti mau dong, kan icha anak kesayangan mama." Abi berusaha membujuk agar anaknya tidak sedih, karena hatinya teriris melihat wajah icha yang memancarkan kesepian kasih sayang seorang ibu.
"Uktina mama ndak au ain ma itha, itha chekhakhu ama bibik."
"Karena mama lagi cari uang buat icha, biar icha bisa sekolah dan beli mainan yang banyak."
"Itha ndak au ainan anyak, itha au mama."
"Iya, ntar kita telpon mama bujuk mama main sama icha di rumah, gimana?"
"Benekh ya pa, biakh ayak ak Aif mamana dikhumah. Itha cheneng di angku ayak adhi pa ama bunbun."
Semoga Fanny mau dibujuk untuk selalu ada di rumah minimal ada waktu buat anaknya kalau tidak apa yang akan aku katakan ke icha saat menagih janjinya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak terasa malam sudah menghampiri, Abi dan icha sudah berada di kamar utama ingin menelpon Fanny, Abi memperkirakan Fanny sudah selesai bekerja karena sudah pukul jam delapan malam.
"Tut..tut.." Suara bunyi telpon menyambung ke Fanny terdengar karena Aby loudspeaker.
"Hallo mas,, mas bentar ya aku belum selesai meeting. Aku tutup dulu." Belum juga Abi berbicara telpon sudah diputus sepihak oleh Fanny.
"Ting" Sebuah pesan di WA masuk.
"Mas ntar selesai Meeting aku telpon. miss you."
Rasanya Abi ingin marah, mengamuk dan membanting handphonenya tapi ada Icha disampingnya, abi tidak mau memberikan contoh buruk sama Icha.
"Pa ana mama? Athana au omong ok athi ndak ada mama gi dichini." Tunjuk Icha pada handphone Abi yang tidak menampilkan wajah ibunya lagi.
"O..e pa, chambikh puk-puk ya pa." Tanpa terasa karena keheningan disertai udara sejuk Icha tertidur pulas dengan wajah polosnya.
" Kasian kamu nak, sebegitu sulit mendapatkan perhatian seorang ibu walau hanya dari video call. Andai waktu bisa berulang papa gak akan berjanji memberikan izin mama bekerja jika tahu dia mengabaikan kita." Sambil menengelus rambut Icha dengan sayang dan memberikan satu kecupan dikening Icha.
Abi langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju ke ruang kerjanya. Menunggu telpon dari Fanny disana.
Sudah dipastikan Abi akan terbawa emosi karena hatinya sudah mulai memanas dan dia tidak mau Icha mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.
" Sudah jam 10 malam tapi dia belum ada nelpon, sesibuk itukah hingga waktu luang buat nelpon aja gak bisa?" Keluh Abi sendiri
__ADS_1
"Bip..bip.." Handphone Abipun berbunyi Abi langsung mengangkatnya.
"Hallo mas.."
"Kamu kemana aja si Fanny? jam segini baru nelpon? coba kamu lihat sudah hampir jam 12 malam." Abi langsung mencecar Fanny dengan pertanyaan.
"Mas aku tuh capek, aku kerja mas. Mas kan tahu bidang aku apa, kami gak kenal waktu mas."
"Iya, gak kenal waktu sampai Icha mau ngomong sama kamu aja susah, ibu macam apa kamu!." Bentak Abi
"Mau gimana lagi mas ini resiko kerjaku, aku harus terima mas harus ngerti."
"Kamu yang harusnya mengerti, mengertilah Fanny kami juga butuh dirimu bukan hanya kerjaanmu ..!!. "
"Aku kira mas nelpon mau kita baikan tapi ternyata marah-marah lagi. Udah ah mas aku capek. ntar dirumah aja kita bicarai lagi."
"Fanny..!!" Teriak Abi tapi sambungan vicall keburu dimatikan lagi oleh Fanny.
"Sh**** !!." Abi langsung melampiaskan marahnya dengan membanting handphonenya hingga berbunyi nyaring dan hancur berserakan.
"Selalu seperti ini, mau sampai kapan Fanny!! Mengertilah.. Mengertilah Fanny...." Teriak Abi dari tubuhnya tadi yang berdiri sambil bersandar di dinding setelah membanting handphonenya di ruang kerjanm kini luruh jatuh kelantai dengan suara makin memelan frustasi, kaki yang ditekuk serta kepala yang disembunyikan dibalik tekukan kakinya, tangannya dengan kuat menggenggam rambutnya.
#Egois gak sih fanny? inikan impiannya#
#Abizia#
__ADS_1
#like,comment and vote ya dearss*."