
Happy reading
🍇🍇🍇
"Kenapa abang lakuin itu ke mba Fanny?!" Zia merasa dirinyalah penyebab semua terjadi hingga Abi menceraikan Fanny didepan matanya.
"Dek,, jangan seperti itu..Ini tidak ada sangkut pautnya sama adek. Abang yang salah, abang yang udah nyerah. Abang yang gak bisa membuat Fanny berubah. Abang yang gak bisa membawa Fanny menjadi lebih baik. Abang yang gagal berbuat adil dan mencintainya. Abang yang salah. Jangan limpahkan ke diri adek,,,,semua salah abang."
"Hiks..hikss... Kasian mba Fanny bang,,, ia pasti terluka."
"Tapi abang udah gak bisa mundur, abang tidak mau semakin melukainya kalaupun ia masih normal kembali."
"Maksud abang?"
"Fanny kemungkinan besar sudah gila dek."
"Astaghfirullah." Tubuh Zia merasa lemah mendengar penuturan Abi. Fanny sudah menjadi gila? Bagaimana dengan Icha saat tahu mamanya sudah gila?
"Jangan menyalahkan diri adek terus, semua sudah pilihannya yang terlalu mengikutin emosinya dek. Abang juga salah yang tidak bisa menahan segala apa yang ingin Fanny lakukan. Maafkan kami yang sudah membawamu sampai seperti ini.."
"Bolehkah adek lihat mba Fanny?"
"Besok abang kesana. Kalau dokter mengizinkan adek boleh ikut tapi ingat jangan stress. Kasian dia yang ada didalam sini." Ucap Abi sambil mengelus perut Zia..
__ADS_1
"Papa..Icha takut pa..Jangan ma..sakit.."
"Abang Icha..."
Abi segera beralih ke tempat tidur Icha, ia melihat mata Icha yang masih terpejam tapi keringat bercucuran di wajah polosnya.
"Icha, bangun sayang..ini papa. Papa disini Icha jangan takut sayang."
"Papa..." Icha berlahan membuka matanya..
"Pa..Icha takut pa,, tangan Icha sakit pa.." Tangis Icha.
"Icha jangan takut lagi ya sayang, Disini ada bunbun dan papa yang jagai Icha." Abi memeluk Icha, mengatakan tanpa kata tubuh inilah yang akan melindungin Icha anaknya.
"Mama gak boleh kesini pa, Icha takut ketemu mama. Mama sekhem pa,, Mama uda lukai Icha."
Koridor rumah sakit yang sudah sunyi dan dingin menyiratkan apa yang sedang dirasakan seseorang yang sudah terbangun tanpa ada ikatan apapun di tubuhnya.
Ia duduk meringkuk dengan tangis yang tak pernah henti, sangat terdengar pilu dan menyayat siapapun yang bisa mendengarnya.
Kreettt
Suara pintu terbuka membuat ia mengalihkan wajahnya melihat siapa yang berani datang ke rumah sakit jiwa malam hari seperti ini...
__ADS_1
"Kamu tidak perlu pura - pura menjadi gila Fanny."
Radit berjalan mendekatin Fanny yang masih duduk meringkuk dan menenggelamkan wajahnya di sela lututnya seakan enggan berbicara dengan seseorang yang bertamu diruangannya.
"Kamu mungkin bisa menipu keluargamu dengan sikapmu dan berpura - pura gila tapi tidak dengan aku. Apa perlu sampai seperti ini hanya untuk menjauh?"
"Aku hanya ingin pergi tanpa ada yang berharap aku bisa kembali."
"Apa perlu pergi menjauh dengan cara seperti ini? Kenapa tidak langsung bilang meminta pisah dengan Abi?"
"Aku tahu dirinya, ia tidak akan mau berpisah karena ia selalu ingin melindungin dan bertanggung jawab terhadapku.Hatinya terlalu lembut untuk menyakitin seseorang hanya dengan cara ini aku bisa membuat ia menceraikanku."
"Dengan juga melukai anakmu?"
"Aku hanya berharap dia benci dan takut kepadaku dan hidup tenang bersama keluarga barunya tanpa ada kata atau alasan rindu ingin bertemu denganku karena yang akan ia ingat hanyalah aku seorang mama yang telah dengan teganya menyakitin dirinya"
"Jadi sekarang bagaimana?"
"Bantulah aku, yakinin mereka tentang aku yang sudah gila dan tidak bisa sembuh lagi. Aku hanya ingin mereka bahagia tanpa aku. Sudah cukup banyak luka dan kesedihan yang aku berikan karena keegoisan diriku. Aku kalah...Aku sudah kalah dengan diriku dan ini pembalasan yang setimpal untuk diriku memberikan kebahagiaan untuk mereka." Isak Fanny yang masih setia menenggelamkan wajahnya dengan rambut terurai yang tidak ada sedikitpun sela melihat wajah kusut yang penuh dengan penyesalan yang selalu datang terlambat. Hanya sebuah kata Andaikan yang terangan dihati tapi itu tidak mungkin bisa terjadi....
"Baiklah...kalau memang itu membuatmu merasa lepas dari segala rasa bersalahmu..ternyata kau lebih gila dari pada diriku.." Sahut Radit dan pergi meninggalkan Fanny kembali seorang diri.
"Terima kasih atas segala perhatian dan kasih sayang yang kau berikan selama ini mas, kau ingat pertama kali kita bertemu, aku yang kebingungan mencari kelas seakan kakiku mengikutin daya tarik akan dirimu untuk mendekat dan bertanya kepadamu yang sedang berjongkok di pinggir bahu jalanan di area kampus. Kau tersenyum dan mengakatakan dimana letak kelasku. Saat itu awal aku merasakan jantung yang berdegup kencang dan canggung saat ada didekatmu. Kau sudah banyak mengajarkan arti kehidupan tapi aku selalu menepisnya hingga saat aku tersadar semua sudah terlambat. Maafkan aku yang selalu menyakitin hatimu dengan keegoisanku,, Berbahagialah mas,, Aku yakin Zia akan selalu bisa membuatmu bahagia. Lupakanlah aku yang tidak pantas kau ingat sedikitpun dihati ataupun pikiranmu.. Maafkan aku yang selalu salah karena sekarang aku sudah kalah untuk berharap bisa bersama denganmu ataupun cintamu...Inilah akhir dari cerita kita... "
__ADS_1
#Sedih banget ya Fanny#
#Bantu like comment and vote dears#