
happy reading
🍇🍇🍇
Abi dari subuh sudah bangun, ia terus merapalkan bacaan ijab kabul seakan baru pertama kali melakukannya, dari tadi malam Abi tidak bisa tidur memikirkan hari esok, berbeda dengan istrinya yang tertidur dengan nyenyak sampai subuh terlewatpun masih lelap dari tidurnya.
Bukan hanya Zia yang dipikirkan Abi tapi juga Fanny, apa yang dilakukannya semalam, Abi ingin bertanya tapi tidak ingin Fanny curiga apalagi sampai memancing pertengkaran. Abi tidak mau diselimutin amarah karena ia harus mempersiapkan diri untuk akad nikah.
Rani Dan Faiz juga tidak kalah sibuk dibawah sana bersama beberapa keluarga. Mereka menyusun semua serahan di dalam mobil serta mahar yang akan diberi Abi untuk Zia.
"Sayang...Fanny..Bangun..kita sebentar lagi mau berangkat tapi kamu masih tidur."
"Mas...baiklah aku bangun tapi berikan satu kecupan untukku." Ucap Fanny manja.
Abi mencium istrinya bukan hanya memberikan kecupan merasapi setiap cecapan yang terjadi menyalurkan rasa kecamuk dihatinya karena hari ini ia akan membagi hatinya bukan hanya untuk Fanny lagi tapi akan ada Zia disana.
"Mandilah...nanti kita terlambat kesana."
Fanny menyibak selimutnya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Terlihat ia sekilas melirik baju kebaya seragaman keluarga yang sudah dipersiapkan calon mertuanya. Ia hanya tersenyum sinis lalu masuk ke kamar mandi.
Semua keluarga sudah berkumpul di ruang tamu menunggu Fanny yang sedang mempersiapkan diri.
"Pa, Fanny kok lama sekali?" Keluh Rani
"Sabar ma..mungkin sebentar lagi." Faiz berusaha menenangkan.
"Abi, lebih baik kamu panggil Fanny ke atas, nanti kita terlambat tidak enak dengan keluarga Zia."
"Baiklah ma,"
Sesaat Abi ingin beranjak dari tempat duduknya terlihat Fanny datang menuju mereka. Terlihat seluruh keluarga terkejut dengan penampilan Fanny.
"Kenapa kau tidak memakai seragam keluarga Fanny?" Tanya Rani
"Apa mama ada bertanya kepadaku, aku akan memakai pakaian apa?"
"Tapi ini apa? Kamu berdandan seperti seorang pengantin."
Rani melihat penampilan Fanny yang sangat glamour dengan kebaya putih yang mewah full payet berkilau, bagian belakang yang menjuntai hingga menyentuh lantai, Rambutnya yang digulung ke atas memperlihatkan jenjang lehernya yang putih, makeup bold yang memberikan kesan kedewasaan dan seksi.
"Aku cantikkan? Inikan hari pernikahan suamiku ma, jadi aku harus terlihat cantik sama dengan calon maduku, karena kami sama - sama menjadi istri mas Abi kan?" Fanny menjelaskan dengan wajah yang terangkat keatas.
"Tapi Fanny..."
"Sudahlah ma..." Abi memotong ucapan Rani, ia tidak mau terlambat karena pertengkaran ini dan terpancing dengan kelakuan Fanny, biarlah ia melakukan apa yang ia mau.
Semua keluarga menatap Fanny dengan geram tapi Fanny tidak peduli karena kebahagiaan ia yang utama bukan orang lain.
__ADS_1
Mereka berangkat mengendarai lima mobil mewah, Abi dan Fanny menaiki mobil sendiri sedangkan Icha bersama opa dan omanya.
"Kenapa harus memakai kebaya ini sayang?"
"Aku hanya ingin menunjukkan semua harus terlihat sama antara istri pertama dan kedua"
"Tapi bukankah nanti akan mempermalukan keluarga disana?"
"Malu? Mas lebih memperdulikan keluarga dari pada aku yang malu jika tidak terlihat seperti istri mas?"
"Baiklah maafkan aku.." Abi menghela napasnya dalam " Harus sabar jangan sampai semuanya rusak.." Batin Abi.
Tidak terasa mobil rombongan Abi sudah sampai dirumah Zia, banyak yang penasaran dengan wajah Abi tapi semuanya sirna saat Fanny turun dari mobil dengan dandanan yang layaknya seorang pengantin.
Kasak kusuk bisikan terdengar dimana-mana, apalagi Fanny yang menggandeng lengan Abi dengan mesranya membuat semua mata tertuju pada mereka.
Rani dan Faiz hanya tertunduk malu dan meminta maaf kepada orang tua Zia atas kelakuan menantunya.
"Maafkan sikap Fanny pak Rahman." Faiz dan Rahman saling salam dan berpelukan.
"Sudahlah jangan dipikirkan, biar mereka kelihatan akur memakai kebaya pengantin bersama." Rahman menenangkan Faiz karena terlihat gurat kecewa di wajah calon besannya.
Setelah acara saling sapa, Abi dituntun duduk dibangku yang sudah dipersiapkan untuknya.
Disana sudah duduk pak penghulu, Wali nikah serta Bapak Zia yang berhadapan langsung dengan Abi.
"Nak Abi sudah siap?" Tanya pak penghulu.
"Inshaallah sudah pak." Abi membenarkan posisi duduknya yang kurang nyaman akibat grogi dan kegugupan yang memporak porandankan jantung Abi hingga keringat dingin keluar di sekujur tubuh Abi.
Abi merasa bingung dimana Zia kenapa tidak duduk disampingnya?
"Cari Zia?"
Abi terkejut dengan pertanyaan calon mertuanya yang tahu isi hatinya..
"Sabar, nanti juga ketemu kok setelah akad, Bapak simpan dulu Zianya biar gak dimaling orang."
Abi tidak habis pikir lihat mertuanya disaat seperti ini masih bisa bercanda tapi ia bersyukur Zia tidak ada jadi tidak melihat kegugupannya.
"Baik kita mulai sekarang." Ucap pak penghulu dilanjut dengan membacakan khutbah nikah hingga selesai.
"Pak Rahman bisa mulai sekarang."
Rahman menjulurkan tangannya dan disambut oleh Abi.
"Santai Abi, bukan yang pertama juga." Goda Rahman dengan menaik turunkan alisnya yang merasakan keringat dingin dan gemetar dari tangan Abi yang di genggamnya.
__ADS_1
"I..iya pak." Abi tersenyum kaku.
Rahman menggenggam kuat tangan Abi membuat Abi terkejut seketika.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Abi Zidan bin Faiz Zidan dengan anak saya yang bernama Zia Zahra binti Rahman dengan mas kawin..." Rahman terdiam sesaat setelah membaca mas kawin yang akan diberikan Abi ke Zia, Rahman menatap penuh ke Abi dengan tanda tanya apakah ini benar? Abi yang tahu isyarat calon mertuanya menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.
"Maaf saya ulang.." Rahman meminta maaf karena Ucapannya yang tidak selesai.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Abi Zidan bin Faiz Zidan dengan anak saya yang bernama Zia Zahra binti Rahman dengan mas kawinnya berupa perhiasan emas seberat 100 gram dan uang tunai 300 juta tunai."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Zia Zahra binti Rahman dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.” Abi membalas genggaman kuat Rahman dan mengucapkan kalimat akadnya dengan lantang dan lancar.
"Sah?" Tanya pak penghulu
"Sah..!!" Jawab semua yang ada disana
Bahagia dan haru bercampur jadi satu setalah akad berjalan dengan lancar.
Fatma dan Rani saling berpelukan merasa kelegaan yang ada, Fanny terpaku di kursinya tidak menyangka Abi akan memberikan mahar sebanyak itu ke Zia.
"Apakah Zia meminta mahar itu? kalau iya, berani sekali dia meminta sebanyak itu?" Geram Fanny dalam hatinya karena tidak terima dengan apa yang Zia dapatkan. "Harusnya aku menentukan maharnya kemarin, kenapa aku lupa dan kecolongan?" Fanny yang merasa dirinya bahagia hari ini karena bisa menjadi pusat perhatian kini berwajah muram menahan amarah dihatinya.
Hingga tanpa sadar sudah ditinggalkan oleh Rani dan Fatma yang diikutin bidadari - bidadari kecil untuk menjemput Zia ke kamarnya.
"Nak.."
"Ya bu..eh ada mama juga."
Rani masuk ke kamar Zia dan langsung memeluk Zia denban sayang.
"Selamat ya nak, kamu sekarang sudah jadi anggota keluarga kami. Semoga kalian bahagia nantinya." Ucap Rani tulus.
"Iya ma, makasih doanya." Zia tersenyum ke Rani.
"Ma, Ayo cepetan didepan uda pada nungguin mama." Ucap Saf tidak sabaran.
"Iya, sabar dulu." Ucap Zia sambil berdiri dan membenarkan kebayanya..
Zia keluar kamar dengan kedua tangannya digandeng kedua Ibu-ibunya di tiap sisinya. Anak- anak berjalan dibelakang mengiringi langkah Zia.
Semua mata tertuju pada Zia saat sudah terlihat Zia akan keluar dari rumahnya menuju kursi disamping Abi. Abi masih tertunduk dalam kegugupan menunggu Zia, memikirkan apa yang akan ia perbuat dahulu karena ini kali pertama ia akan bersentuhan dengan istrinya.
Ah,,kata istri membuat hati Abi seperti tersiran embun pagi, dingin dan segar menyirami hatinya hingga ia tidak tahu Zia sudah duduk disampingnya..
"Bang.."
#Sah juga akhirnya Abi#
__ADS_1
#bantu like comment and vote ya dears#