Legend Of Shu En

Legend Of Shu En
L.O.S.E 107 - Bing


__ADS_3

...L.O.S.E 107 - Bing...


Mendengar cerita yang sebenarnya dari Ling En membuat Shu En terdiam seribu bahasa. Ia bingung harus menanggapi seperti apa setelah mengetahui kebenarannya.


“Kakek Ling, aku...” Shu En ingin mengucapkan sesuatu namun ia tidak tahu harus mengatakan apa karena merasa seperti baru saja melihat kehidupan Ling En dimasa lalu.


“Aku rasa kau adalah orang yang hebat, Kakek Ling...” ucap Shu En karena mengetahui perjuangan Ling En untuk menyadarkan adiknya Ling Chen.


Mendengar itu Ling En tersenyum kecut dan mengelus rambut Shu En dengan lembut.


“Aku bukanlah orang yang hebat En‘er... Aku ini adalah orang yang gagal...” ucap Ling En kepada Shu En.


“Menurutku tidak seperti itu.” Shu En tidak sependapat jika Ling En adalah orang yang gagal.


“Aku sudah gagal menjadi seorang anak karena tidak dapat melindungi orang tuanya, aku juga gagal menjadi laki-laki yang baik karena tidak bisa melindungi istrinya dan aku gagal menjadi kakak yang baik karena tidak dapat melindungi adiknya...” Ling En tersenyum pahit setelah mengatakan itu dan membuat Shu En terdiam.


‘Aku seperti melihat mimpi yang sangat panjang. Rasa penyesalan dan sesak dihatiku ini mungkin karena perasaan Kakek Ling...’ Shu En membatin dan menatap Ling En yang terlihat dipenuhi penyesalan.


“En‘er, jadilah orang yang berguna dan dapat memberikan kehidupan orang-orang disekitarmu. Jangan sama sepertiku, kau harus dapat melindungi keluargamu.” Ling En menatap Shu En lembut dan tersenyum ramah kepada Shu En yang wujudnya kembali ke umur enam tahunan itu.


“Aku sudah memberitahu kebenarannya. Tidak banyak yang bisa kulakukan untukmu, tetapi aku ingin kau menerima ini sebelum bertemu dengan Dewa Jing Yang.” Ling En memegang tangan Shu En dan memberikan sebuah pil berwarna putih susu.


“Minumlah ini dan kau akan mengetahui tentang diriku lebih jauh. Aku percayakan mimpiku ini padamu.” Ling En kembali tersenyum hangat dan memeluk Shu En dengan erat.

__ADS_1


“Kakek Ling...” Shu En menerima pil berwarna putih susu itu dan membalas pelukan Ling En.


Namun tidak sampai dua detik Shu En memeluk Ling En, tubuh Ling En sudah menghilang dari hadapannya. Seketika perasaan kesepian menyeruak merayapi tubuh Shu En.


“Kakek! Tunggu! Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu!” teriak Shu En saat tiba-tiba merasakan pandangan disekitarnya menjadi gelap.


Saat tersadar Shu En terkejut karena menemukan dirinya berada disebuah hutan tidur beralaskan kain putih. Wajah Shu En terlihat pucat dan nafasnya tersengal-sengal setelah mendapatkan kembali kesadarannya.


“Kakek... Aku... Aku akan melindungi keluargaku...” Shu En menggumam sendiri dan meneteskan air mata tanpa alasan yang pasti.


“Kau sudah bangun.”


Terdengar suara dingin perempuan dan Shu En langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia menemukan sosok gadis cantik yang menggunakan tudung putih dan penutup wajah. Gadis itu melepaskan hawa dingin yang mengintimidasi Shu En.


“Terimakasih karena telah menyelamatkanku...” Shu En menyeka air matanya dan berkata dengan pelan sebelum kembali membaringkan tubuhnya.


Melihat tindakan santai Shu En, gadis itu pun mengerutkan keningnya. Ia mengira Shu En akan terintimidasi dan dibawah kendalinya, namun kenyataannya tidaklah demikian karena Shu En sama sekali tidak terpengaruh oleh intimidasi darinya.


‘Apa-apaan orang ini? Aku berniat mengorek informasi darinya namun dia malah kembali tertidur!’ Gadis itu menahan malu karena sikap Shu En yang demikian.


Dengan amarahnya, gadis itu pun membekukan tubuh Shu En dan membuat pemuda itu membuka matanya.


“Ada apa? Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah?” Shu En mengerutkan keningnya karena berniat menenangkan dirinya sejenak malah dibekukan oleh gadis ini.

__ADS_1


‘Sial, suasana hatiku sedang tidak bagus. Entah mengapa tidak ada gairah untuk melakukan sesuatu...’ Shu En membatin dan tidak memberikan perlawanan kepada gadis itu.


“Dengar! Aku sedang mengancammu! Katakan padaku siapa dirimu!” Gadis itu nampak marah dan benar-benar berniat menghancurkan tubuh Shu En dengan membekukan tubuhnya.


“Lepaskan es ini terlebih dahulu. Kau membuat pakaianku basah.” Shu En malah menyuruh gadis itu dan anehnya gadis itu pun menurutinya.


“Baiklah...”


Setelah terbebas, Shu En pun memberitahu namanya kepada gadis itu.


“Namaku Shu En. Aku baru saja menghabisi Kaisar palsu itu dan menyegel sesuatu diatas langit Juesha. Ceritanya panjang dan aku tiba-tiba terjatuh kebawah karena kehabisan tenaga.” Shu En dengan malas memberitahu kepada gadis itu.


Melihat ekspresi terkejut gadis itu, Shu En malah mendekat kearah api unggun dan membaringkan badannya didekat sana.


“Bangunkan aku ketika matahari akan terbit,” ujar Shu En kepada gadis itu.


“Eh...” Gadis itu masih tidak dapat mencerna apa yang dikatakan Shu En barusan.


“Tunggu! Kau Shu En? Shu En! Jadi kau orangnya?!” Gadis itu menggoyangkan badan Shu En namun tidak ada reaksi dari pemuda itu.


Hanya hembusan nafas yang lemah dan tenang serta raut wajah yang terlihat sangat lelah. Melihat wajah Shu En yang demikian membuat gadis itu berhenti menggoyangkan badan Shu En dan memilih untuk duduk didekatnya.


“Kakek... Ayah... Kakak... Orang yang telah dinantikan Klan Bing masih hidup...” Gadis itu meneteskan air mata dan menatap Shu En dengan tatapan sedih, “Kematian kalian tidaklah sia-sia...”

__ADS_1


__ADS_2